Selasa, 26 Mei 2026   |   Arbia', 9 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 6.683
Kemarin : 30.044
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Sahra

Sahra adalah nama pelabuhan Kerajaan Samudera Pasai, yakni kerajaan Islam pertama di Nusantara yang terdapat di Nanggroe Aceh Darussalam dan didirikan oleh Malik Al-Salih pada abad ke-13 Masehi. Seperti yang diceritakan kembali oleh Muhammad Gade Ismail (1997) melalui bukunya yang berjudul Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 sampai Awal Abad ke 16, bahwa Ibnu Batutah mengisahkan, setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang termasuk ke dalam wilayah negara Myanmar/Birma), ia berlabuh di sebuah tempat yang sangat subur. Ibnu Batutah tidak bisa menutupi rasa kagumnya begitu berkeliling kota pusat Kerajaan Pasai.

Ibnu Batutah begitu takjub melihat sebuah kota besar yang sangat elok dengan dikelilingi dinding yang megah. Ibnu Batutah mencatat bahwa ia harus berjalan sekitar empat mil dengan naik kuda dari pelabuhan yang disebutnya Sahra untuk sampai ke pusat kota. Pusat pemerintahan kota itu cukup besar dan indah serta dilengkapi dengan menara-menari yang terbuat dari kayu-kayuan kokoh. Di pusat kota ini, tulis Ibnu Batutah, terdapat tempat tinggal para penguasa dan bangsawan kerajaan. Bangunan yang terpenting ialah Istana Sultan dan masjid.

Ibnu Batutah sendiri adalah seorang pengembara muslim dari Maghribi, Maroko. Pada tahun 1345 M, ia sempat mengunjungi negeri Pasai. Ibnu Batutah, yang singgah di Pasai selama 15 hari, menggambarkan Kerajaan Samudera Pasai sebagai “sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah.'' Ibnu Batutah menceritakan, ketika sampai di negeri Tiongkok (Cina), ia melihat kapal Sultan Pasai di negeri itu. Memang, sumber-sumber Tiongkok banyak yang menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Tiongkok untuk menyerahkan upeti. Hal ini membuktikan bahwa pada waktu itu telah terjalin hubungan kerja sama (termasuk dalam bidang perdagangan dan ekonomi) dan hubungan diplomatik antara Kerajaan Samudera Pasai dan Kekaisaran Tiongkok.

Sumber Bacaan:

  • Muhammad Gade Ismail, 1997. Pasai dalam Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 sampai awal abad ke 16. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.