Minggu, 19 Februari 2017   |   Isnain, 22 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.475
Hari ini : 18.688
Kemarin : 31.517
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.761.821
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Sultan Abdurrahman Pontianak

1. Sejarah Pembangunan

Masjid Sultan Abdurrahman didirikan pada tahun 1771 M oleh Syarif Abdurrahman. Pendirian masjid ini dilakukan setelah selesainya pembukaan daerah baru, yang dinamai Pontianak. Jika dirunut dari awal, kisahnya bermula, ketika seorang penyebar agama Islam dari Jawa keturunan Arab, al-Habib Husein meninggalkan kediamannya di Semarang pada tahun 1733 M, menuju Kerajaan Matan, Kalimantan Barat sekarang. Oleh Raja Matan yang bernama Sultan Kamaludin, ia kemudian diangkat sebagai Mufti Kerajaan. Al-habib Husein kemudian dinikahkan Sultan dengan salah seorang putrinya, Nyai Tua. Dari perkawinan itu, kemudian lahir seorang putra bernama Syarif Abdurrahman.

Dalam perkembangannya, kemudian terjadi perselisihan antara Sultan dengan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan untuk meninggalkan Kerajaan Matan, pindah ke Kerajaan Mempawah dan bermukim di kerajaan tersebut hingga ia meninggal dunia.

Setelah al-Habib Husein meninggal dunia, posisinya digantikan oleh anaknya, Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian memutuskan pergi dari Mempawah pada tahun 1771 M, dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Bersama rombongan yang berjumlah 14 buah perahu, Abdurrahman menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu. Pada 23 Oktober 1771 M, rombongan Abdurrahman sampai di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di daerah yang berbentuk tanjung ini, mereka naik ke darat, menebas hutan belantara untuk djadikan daerah pemukiman baru yang kemudian dinamakan Pontianak. Di daerah baru tersebut, segera berdiri sebuah kerajaan baru: Pontianak. Kemudian dibangun sebuah masjid dan istana untuk sultan. Masjid yang dibangun tersebut beratap rumbia dan konstruksinya dari kayu.

Pada tahun 1808 M, Syarif Abdurrahman meninggal dunia. Sebenarnya, Syarif Abdurrahman memiliki seorang putera bernama Syarif Usman. Namun karena belum dewasa, maka, sebagai penerus pemerintahan, adiknya bernama Syarif Kasim kemudian naik menjadi sultan, sambil menunggu Syarif Usman dewasa. Ketika dewasa, Syarif Usman kemudian naik menggantikan pamannya, Syarif Kasim sebagai Sultan Pontianak (1822-1855 M). Di masa Syarif Usman inilah, pembangunan masjid yang telah dirintis oleh ayahnya dilanjutkan kembali. Setelah selesai, masjid itu dinamakan Masjid Abdurrahman, sebagai penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa ayahnya.

Di depan masjid terdapat lapangan yang cukup luas, menyerupai alun-alun di Jawa. Di sebelah selatan, beberapa puluh meter dari masjid, terdapat istana sultan (Kraton Kadriyah). Aspek tata letak yang berbentuk segitiga (masjid-istana dan alun-alun) ini menunjukkan adanya pengaruh Jawa.

Sejak masjid ini didirikan, selain berfungsi sebagai pusat ibadah, juga digunakan sebagai basis penyebaran agama Islam di kawasan tersebut. Beberapa ulama terkenal yang pernah mengajarkan agama Islam di masjid ini di antaranya: Muhammad al-Kadri, Habib Abdullah Zawawi, Syekh Zawawi, Syekh Madani, H. Ismail Jabbar dan H. Ismail Kelantan.

2. Lokasi

Masjid terletak di tepi Sungai Kapuas Kecil. Dari pemilihan lokasi ini, diduga, pada masa dulu, sebagian jamaah masjid datang menggunakan perahu.

3. Luas

(Dalam proses pengumpulan data)

4. Arsitektur

Bangunan masjid berdenah segi empat, dengan atap yang bertumpuk empat ditutup daun sirap. Antara atap paling bawah dan ke dua, terdapat celah yang digunakan untuk jendela. Jendela tersebut mengelilingi seluruh celah tersebut, sehingga ruang dalam cukup mendapat cahaya pada siang hari.

Di atas atap kedua, terdapat teras yang cukup luas berbentuk segi empat panjang, di setiap sudutnya terdapat gardu. Karena ada empat sudut, maka terdapat juga empat gardu. Menurut sebagian warga setempat, gardu tersebut dulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan. Namun, ada pula yang menginterpretasikannya sebagai simbol dari empat sahabat Nabi Muhammad yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.

Teras di atas lapisan atap kedua ini mengelilingi sebuah unit (bangunan) yang juga berdenah segi empat. Di atas unit ini terdapat atap lapis ketiga. Di atas atap lapis ketiga, terdapat lagi unit kecil seperti gardu, berfungsi sebagai menara. Atap menara ini bersisi empat dengan dudur yang membentuk penampang huruf S, sehingga, secara keseluruhan minaret ini berbentuk seperti lonceng.

Di dalam masjid terdapat sebuah mihrab, yang berdenah seperti anjungan sebuah kapal, ujungnya sedikit mengecil, mirip dengan mihrab Masjid Tanahgrogot, Kalimantan Timur. Dalam ruang masjid, terdapat enam tiang (kolom) besar yang kokoh. Tiang yang berjumlah enam ini melambangkan rukun iman yang juga berjumlah enam.   

Seluruh konstruksi masjid terbuat dari kayu, termasuk dinding dan lantainya. Di bawah masjid terdapat kolong yang menjadi ciri khas bangunan setempat.

5. Perencana

Masjid ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman dan pengikutnya. Tak diketahui, siapa di antara mereka yang menjadi perancang masjid.

6. Renovasi

(Dalam proses pengumpulan data)

Kredit foto: www.wisatamelayu.com

____________

Informasi lain tentang Masjid Sultan Abdurrahman bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 12.126 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password