Jumat, 25 Juli 2014   |   Sabtu, 27 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 1.097
Hari ini : 6.033
Kemarin : 23.254
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.942.105
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kerajaan Sriwijaya


Peta Pengaruh Sriwijaya di abad 10

1. Sejarah

Sejarah Kerajaan Sriwijaya (Sriwijaya) bisa ditelusuri lewat beberapa hal, antara lain melalui prasasti maupun berita Cina (Tiongkok), Arab, dan Persia. Nama Sriwijaya sendiri dijumpai pertama kali dalam Prasasti Kota Kapur dari Pulau Bangka. Pada 1913, H. Kern mengidentifikasikan kata Sriwijaya sebagai nama seorang raja (Marwati Djoenoed Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1993:53).

George Coedes melengkapi hasil penelitian dari H Kern. Pada 1918 Coedes menggunakan sumber-sumber berupa prasasti dan berita Tiongkok untuk mengungkap sejarah Sriwijaya. Hasilnya, Coedes menyimpulkan bahwa nama Sriwijaya yang disebutkan dalam Prasasti Kota Kapur adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan dengan pusatnya di Palembang. Dalam berita Tiongkok, kerajaan ini disebut dengan She-li-fo-she. Pendapat ini sebenarnya pernah pula dikemukakan oleh Samuel Beal pada 1884. Beal mengemukakan bahwa She-li-fo-she adalah sebuah kerajaan yang terletak di pantai timur Sumatera Selatan, di tepi Sungai Musi, dekat Palembang (Marwati & Nugroho, 1993:53).

Muncul pula pendapat lain yang menyatakan bahwa letak Sriwijaya tidak berada di Palembang. Seperti dikutip dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II (1993), pendapat ini antara lain berasal dari F.D.K. Bosch pada 1904 yang menyatakan hanya terdapat sedikit bukti arkeologis untuk menguatkan bahwa Palembang sebagai pusat kekuasaan Sriwijaya. Pendapat lainnya datang dari R.C. Majumdar yang menyatakan bahwa letak Sriwijaya harus dicari di Pulau Jawa. Sementara H.G. Quaritch Wales menempatkan Sriwijaya di Chaiya (Marwati & Nugroho, 1993:53). Drs. Sukmono serta Prof. Slamet Muljana meyakini bahwa letak Sriwijaya berada di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Jambi (Slamet Muljana, 2006:111 dan 117).

Terlepas dari munculnya beberapa perbedaan pendapat tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa pendapat umum yang diyakini sampai sekarang tetap menempatkan Palembang sebagai pusat kekuasaan Sriwijaya. Di luar perbedaan tersebut tampaknya ada satu kesamaan dari para ahli yang menyatakan bahwa Sriwijaya mulai berdiri sekitar abad ke-7. Pengambilan abad ke-7 sebagai masa awal berdirinya Sriwijaya didasarkan pada penemuan prasasti tertua peninggalan Sriwijaya, yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti berangka tahun 604 Masehi ini ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang (Marwati & Nugroho, 1993:53).


Prasasti Kedukan Bukit

Sedikitnya ada 7 prasasti yang ditemukan sebagai bukti peninggalan dari Sriwijaya. Ketujuh prasasti tersebut adalah Prasasti Kedukan Bukit (682 M), ditemukan di daerah Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang; Prasasti Talang Tuo (24 Maret 684) yang ditemukan oleh Residen Wetenenk di daerah Talang Tuo, sebelah barat Kota Palembang sekarang pada 1920; Telaga Batu  yang ditemukan di Telaga Batu, dekat Palembang; Prasasti Kota Kapur (28 April 686), ditemukan di dekat Sungai Menduk di Pulau Bangka bagian barat; Prasasti Karang Brahi, ditemukan di oleh L.M. Berkhout pada 1904 di daerah Karang Brahi, di tepi Sungai Merangin, cabang Sungai Batanghari di Jambi Hulu; Prasasti Palas Pasemah, ditemukan pada 1958 di tepi Sungai Pisang, anak Sungai Sekapung, Lampung Selatan (Marwati & Nugroho, 1993:53-59). Sedangkan satu prasasti lainnya dinamakan dengan Prasasti Ligor (774 M) yang ditemukan di pantai timur Muangthai (Thailand) Selatan (Slamet, 1981:82).

Selain prasasti, sumber tertulis tentang Sriwijaja juga didapatkan melalui berita Arab maupun Persia. Menurut Marwati & Nugroho (1993), berita Arab yang pertama berasal dari Ibn Hordadzbeh dari tahun 844-848 M yang mengatakan bahwa Raja Zabag (Sriwijaya) disebut maharaja yang kekuasaannya meliputi pulau-pulau di lautan timur. Hasil negerinya berupa kapur barus dan gajah banyak terdapat di sana. Ibn Roteh (903 M) mengatakan bahwa Maharaja Zabag merupakan raja terkaya dibandingkan dengan raja-raja di India. Ibn Zayd (916 M) menyatakan bahwa Raja Zabag setiap hari melemparkan segumpal emas ke dalam danau di dekat istana. Danau ini berhubungan dengan laut sehingga airnya payau. Raja Zabag menguasai banyak pulau antar lain Sribuza, Kalah, dan Rami. Hasil bumi dari Zabag meliputi kayu gaharu, kapur barus, kayu cendana, gading, timah, kayu hitam, kayu sapan, dan rempah-rempah. Mas`udi, seorang  ahli geografi pada 955 M menyatakan bahwa Zabag memiliki rakyat yang banyak, tentaranya tak terhitung jumlahnya, meskipun dengan perahu tercepat orang tidak akan dapat mengelilingi pulau taklukan Zabag dalam tempo 2 tahun. Maharaja Zabag memiliki banyak minyak wangi dan bahan–bahan yang berbau harum lebih banyak daripada raja lainnya. Pelayaran dari Siraf dan Oman dikuasai raja ini, di Kalah dan Sribuza ada tambang emas dan timah (Marwati dan Nugroho, 1993 :67-68).

Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa mulai abad ke-7, Sriwijaya telah melakukan penaklukan untuk berperan sebagai negara maritim. Penguasaan jalur perdagangan dan melimpahnya komoditas perdagangan di daerah yang dikuasai Sriwijaya, membuat kerajaan ini menjadi sebuah emporium (pusat perdagangan) selama berabad-abad. Pedagang dari berbagai negara singgah di pelabuhan Sriwijaya untuk melakukan transaksi dagang. Sriwijaya juga memungut bea cukai bagi setiap kapal yang singgah di pelabuhannya. Hal inilah yang menjadi tambang uang bagi Sriwijaya, di samping transaksi barang dagangan.

Sebagai negara induk, setiap tahun Sriwijaya menerima upeti dari negara-negara bawahan berupa hasil bumi, perak, dan emas atau barang lainnya dengan jumlah yang telah ditentukan (Slamet, 1981:81). Dikatakan oleh I-Tsing, seorang pendeta Buddha yang 2 kali menetap di Sriwijaya, bahwa pada akhir abad ke-7 negara Sriwijaya sangat makmur. Dikatakan bahwa rakyat memberikan sesaji bunga teratai emas kepada arca Buddha; dalam upacara agama tampak perabotan dan arca-arca serba emas. Rakyat dari segala lapisan berlomba memberikan sedekah kepada para pendeta (Slamet, 1981:81).   

Selain berfungsi sebagai emporium, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat agama Buddha di tanah Melayu. Raja-raja Sriwijaya dikenal sebagai pelindung agama Buddha dan penganut yang taat, seperti dapat dilihat dalam Prasasti Nalanda dan berita Tiongkok (Marwati & Nugroho, 1993 :75-76).

Menurut Marwati & Nugroho (1993) , sampai abad ke-11, Kerajaan Sriwijaya masih merupakan pusat pengajaran agama Buddha yang bertaraf internasional. Pada masa pemerintahan Raja Sri Cudamaniwarmadewa (abad ke-11), seorang pendeta Buddha bernama Dharmakrti menyusun kritik tentang sebuah kitab ajaran agama Buddha bernama Abhisamayalandara. Kemudian pada 1011-1023 M, seorang biksu dari Tibet bernama Atisa, datang ke Sriwijaya untuk belajar agama kepada Dharmakrti. Sedangkan dari berita Tiongkok, diperoleh keterangan bahwa pada 1003 M, Raja Sri Cudamaniwarmadewa mengirimkan dua utusan ke Tiongkok untuk membawa upeti. Mereka mengatakan bahwa di negaranya didirikan sebuah bangunan suci agama Buddha untuk memuja agar kaisar panjang umur. Mereka memohon agar kaisar memberikan nama dan genta. Bangunan suci itu kemudian diberi nama Cheng-thien-wa-shou (Marwati & Nugroho, 1993:68-69).

Kejayaan Sriwijaya akhirnya mulai surut karena terjadi beberapa kali penyerangan (perang) yang dilakukan oleh Kerajaan Cola dan pasukan dari Jawa. Kerajaan Cola melakukan 3 kali penyerangan terhadap Sriwijaya, yaitu pada 1017 M yang dipimpin oleh Rajendracoladewa, 1025 M, dan 1068 M yang dipimpin oleh Wirajayendra (Marwati & Nugroho, 1993:69-70). Penyerangan yag dilakukan oleh Kerajaan Cola pada abad ke-11 ternyata menggoyahkan Sriwijaya sebagai kerajaan terbesar di tanah Melayu saat itu. Hal ini terbukti pada serangan kedua (1025 M), raja Sriwijaya yang memerintah saat itu, yaitu Sri Sangramawijayottunggawarman dapat ditawan oleh tentara dari Kerajaan Cola (Marwati & Nugroho, 1993:69).

Penyebab penyerangan Kerajaan Cola terhadap Sriwijaya, sampai saat ini belum diketahui secara jelas. Padahal sebelumnya telah terjadi hubungan yang erat antara Sriwijaya dengan Kerajaan Cola, sebagaimana hubungan segitiga antara Sriwijaya-Tiongkok-India. Menurut Marwati & Nugroho (1993), tersurat sebuah prasasti raja Dewapaladewa dari Benggala yang dibuat pada akhir abad ke-9 yang menyebutkan sebuah biara yang dibuat atas perintah Balaputradewa, maharaja dari Suwarnadwipa. Prasasti ini dikenal sebagai Prasasti Nalanda. Sebuah prasasti Raja Cola lainnya, yaitu prasasti dari Rajaraja I di India Selatan menyebutkan bahwa Marawijayotunggawarman, raja dari Kataha dan Sriwisaya telah memberikan hadiah sebuah desa untuk diabdikan kepada sang Buddha yang dihormati di dalam Cudamanivarmavihara, yang telah didirikan oleh ayahnya di kota Nagipattana (Negapatam sekarang) (Marwati & Nugroho, 1993:74-75).

Menurut Paul Michel Munoz (2006), antara tahun 1079–1088 M, orang Tionghoa mencatat bahwa Sriwijaya mengirimkan duta besar dari Jambi dan Palembang. Tahun 1082 M dan 1088 M, Jambi mengirimkan lebih dari dua duta besar ke Tiongkok. Pada periode inilah pusat Sriwijaya telah bergeser secara bertahap dari Palembang ke Jambi. Ekspedisi Cola telah melemahkan Palembang, dan Jambi telah menggantikannya sebagai pusat kerajaan (Munoz, 2006:165-167).

Meskipun sempat bangkit kembali menjadi kerajaan yang kuat pada abad ke-13, akan tetapi menurut sejarah Dinasti Ming, dikatakan bahwa Sriwijaya pada 1376 M telah ditaklukkan oleh Jawa (Marwati & Nugroho, 1993:71). Penaklukkan dari Jawa diwakili oleh Kerajaan Kediri melalui Ekspedisi Pamalayu pada 1275 (M.D. Mansoer, et.al., 1970:51). Ekspedisi Pamalayu merupakan sebuah ekspedisi untuk menaklukkan Melayu dengan pusat Kerajaan Darmasraya di Jambi, Swarnnabhumi (Sumatera).  

Setelah Sriwijaya yang telah bergeser dari Palembang ke Jambi dapat ditaklukkan, kerajaan dari Jawa tersebut justru mengalami masa keruntuhan dan tidak dapat mengawasi daerah taklukannya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh sejumlah gerombolan bajak laut untuk menguasai perairan di daerah taklukan Sriwijaya di bawah pimpinan Liang-tau-ming, sedangkan daerah Palembang dikuasai oleh bajak laut Ch`en-Tsu-yi (Marwati & Nugroho, 1993:71). Dengan dikuasainya perairan oleh bajak laut, maka mulai saat itulah Kerajaan Sriwijaya dikatakan telah runtuh.  

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya ternyata berdampak sangat luas karena selama berabad-abad fungsi emporium telah diperankan oleh Sriwijaya. Fungsi ini mulai hilang seiring dengan merosotnya pengaruh kekuasaan Sriwijaya pada awal abad ke-13. Hilangnya Sriwijaya sebagai emporium di nusantara berakibat pada mulai terpencarnya pusat-pusat perdagangan di nusantara, antara lain berpusat di Pidie dan Samudera Pasai (Sartono Kartodirdjo, 1999:4).

2. Silsilah

Silsilah raja-raja di Kerajaan Sriwijaya sampai saat ini belum ditemukan secara utuh. Beberapa data yang dihimpun merupakan fragmen yang dirangkai menurut alur waktu dari abad ke-7 sampai menjelang runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Beberapa sumber yang dipakai dalam penulisan ini diambil dari Paul Michel Munoz (2006:175); Marwati Djoenoed Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (1993); dan Slamet Muljana (1981). Silsilah raja-raja di Sriwijaya sebagai berikut:

  1. Dapunta Hyang Sri Jayanaga (683 M). Selama masa pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang Sri Jayanaga telah menuliskan Prasasti Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuo (684 M), dan Kota Kapur. Selain itu, Dapunta Hyang Sri Jayanaga juga menaklukkan Kerajaan Melayu dan Tarumanegara.
  2. Indravarman (702 M). Selama masa kepemimpinan Indravarman, dikirim utusan ke Tiongkok pada 702-716 M,dan 724 M.
  3. Rudra Vikraman atau Lieou-t`eng-wei-kong (728 M). Selama masa kepemimpinan Rudra Vikraman, dikirim utusan ke Tiongkok pada 728-748 M.
  4. Dharmasetu (790 M).
  5. Wisnu (795 M) dengan gelar Sarwarimadawimathana yang artinya  “pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa “ (775 M). Selama kepemimpinannya, Raja Wisnu memulai pembangunan Candi Borobudur pada 770 M dan menaklukkan Kamboja Selatan.
  6. Samaratungga (792 M). Selama kepemimpinan Raja Samaratungga, Sriwijaya kehilangan daerah taklukannya di Kamboja Selatan pada 802 M.
  7. Balaputra Sri Kaluhunan (Balaputradewa) (835 M). Raja ini memerintahkan pembuatan biara untuk Kerajaan Cola di India dengan meninggalkan Prasasti Nalanda.
  8. Sri Udayadityawarman (960 M). Selama kepemimpinannya,  Raja Sri Udayadityawarman mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 960 M.
  9. Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Udayadityan mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 961-962 M.
  10. Hsiae-she (980 M). Selama kepemimpinannya, Raja Hsiae-she mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 980-983 M.
  11. Sri Cudamaniwarmadewa (988 M). Saat beliau memerintah, terjadi penyerangan dari Jawa.
  12. Sri Marawijayottunggawarman (1008 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Marawijayottunggawarman mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1008 M.
  13. Sumatrabhumi (1017 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sumatrabhumi mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1017 M.
  14. Sri Sanggramawijayottunggawarman (1025). Selama kepemimpinan Raja Sri Sanggramawijayottunggawarman, Sriwijaya dapat dikalahkan oleh Kerajaan Cola dan sang raja sempat ditawan.
  15. Sri Deva (1028 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Deva mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1028 M.
  16. Dharmavira (1064 M).
  17. Sri Maharaja (1156 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Maharaja mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1156 M.
  18. Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva (1178 M). Selama kepemimpinannya, Raja Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1178 M.
  19. Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia.

3. Sistem Pemerintahan

Sebagai kerajaan maritim, wilayah Sriwijaya ternyata membutuhkan pengawasan yang ekstra karena luasnya kekuasaan kerajaan ini. Untuk menjaga eksistensi kekuasaan, Raja Sriwijaya menerapkan beberapa kebijakan, misalnya saja dalam beberapa prasasti dituliskan tentang kutukan bagi siapa saja yang tidak taat pada raja, seperti dalam Prasasti Telaga Batu dan Kota Kapur. Fungsi ancaman (kutukan) ini semata-mata untuk menjaga eksistensi kekuasaan seorang raja terhadap daerah taklukannya (Marwati & Nugroho, 1993:71). Selain kutukan, terdapat pula prasasti yang menjanjikan hadiah berupa kebahagiaan terhadap siapa saja yang tunduk terhadap Sriwijaya, seperti yang tertulis pada Prasasti Kota Kapur.


Prasasti Telaga Batu

Selain berisi kutukan, Prasasti Telaga Batu juga memuat tentang penyusunan ketatanegaraan Sriwijaya, seperti misalnya yuvaraja (putra mahkota), pratiyuvaraja (putra raja kedua), rajakumara (putra raja ketiga), rajaputra (putra raja keempat), bhupati (bupati), senapati (pemimpin pasukan), nayaka, pratyaya, haji pratyaya (orang kepercayaan raja?), dandanayaka (hakim), tuha an vatak vuruh (pengawas kelompok pekerja), addhyaksi nijavarna, vasikarana (pembuat pisau), kayastha (juru tulis), sthapaka (pemahat), puhavam (nakhoda kapal), vaniyaga, pratisara, marsi haji, hulunhaji (saudagar, pemimpin, tukang cuci, budak raja), datu, dan kadatuan (Marwati & Nugroho, 1993:57).

Secara struktural, Raja Sriwijaya memerintah secara langsung terhadap seluruh wilayah kekuasaan (taklukan). Di beberapa daerah taklukan ditempatkan pula wakil raja sebagai penguasa daerah. Wakil raja ini biasanya masih keturunan dari raja yang memimpin. Maka masuk akal jika dijumpai pula prasasti yang berisi kutukan untuk anggota keluarga kerajaan. Maksud dari kutukan ini adalah untuk menunjukkan sikap keras dari raja yang berkuasa, sekaligus suatu sikap dari raja yang tidak menghendaki kebebasan bertindak yang terlalu besar pada penguasa daerah (Marwati & Nugroho, 1993:72). Sikap semacam ini sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi kekuasaan seorang raja sebagai penguasa tertinggi di Sriwijaya. Sikap ini juga sekaligus dilakukan untuk meredam upaya kudeta yang mungkin terjadi pada penguasa daerah, meskipun para penguasa tersebut masih keluarga ataupun keturunan raja.

Kontrol kekuasaan juga dilakukan melalui kekuatan militer. Sebagimana disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang Sri Jayanaga memimpin pasukan sebanyak 20.000 tentara untuk menaklukkan daerah Ma-ta-dja (?), yaitu sebuah daerah yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli, di antaranya Coedes dan N.J. Krom (Slamet, 2006:137).  Jumlah 20.000 tentara pada abad ke-7 tentu saja akan bertambah berkali lipat ketika Sriwijaya sanggup meluaskan daerah taklukkan sampai ke Asia Tenggara. Kontrol wilayah juga bisa dilakukan dengan pengerahan pasukan apabila diketahui ada penguasa wilayah yang tidak tunduk terhadap Raja Sriwijaya.

Di sisi lain, Sriwijaya juga mengadakan hubungan diplomasi dengan Tiongkok, India, dan Cola. Seperti dikutip dalam buku Sriwijaya (1996), hubungan diplomasi dengan jalan pengutusan antara Sriwijaya dengan Tiongkok pertama kali terjadi pada 713 M dan 714 M. Pengiriman utusan selanjutnya dilakukan pada 960 M, 962 M, 980 M, dan 983 M. Pada 992 M datang kabar dari Kanton bahwa Sriwijaya sedang diserang tentara dari Jawa. Utusan yang telah terlanjur berada di Tiongkok kemudian berangkat ke Campa akan tetapi keberangkatan ke Sriwijaya dari Campa terpaksa dibatalkan karena peperangan kembali berkobar di Sriwijaya. Atas terjadinya peperangan ini, utusan Sriwijaya akhirnya kembali ke Tiongkok dan meminta kepada Kaisar Tiongkok untuk menyatakan bahwa Sriwijaya berada dibawah perlindungan Tiongkok. Utusan kembali dikirimkan oleh Sriwijaya pada 1003 (Slamet, 1996 :271-272).

Pada 1008 Raja Se-li-ma-la-pi (Sri Marawi, yaitu Marawijaya) mengirimkan tiga utusan untuk mempersembahkan upeti kepada kaisar Tiongkok (Slamet, 1996:272). Beberapa uraian di atas menjelaskan bahwa telah terjadi hubungan segitiga antara Sriwijaya-Tiongkok-India  (yang diwakili oleh Marawijaya). Hubungan ini semata-mata dilakukan oleh Sriwijaya karena usaha penggalangan kekuatan dalam menghadapi serangan dari luar, misalnya saja ketika Sriwijaya mendapat serangan dari Jawa pada 992 M.

4. Wilayah Kekuasaan

Menurut Slamet Muljana, alasan perluasan wilayah bagi Sriwijaya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat (Slamet, 1981:68). Maka berdasarkan alasan ini, dimulailah politik perluasan wilayah oleh Sriwijaya yang mula-mula menaklukkan Bangka kemudian Kerajaan Melayu di Jambi untuk mengambil alih peran sebagai  penguasa lalu lintas perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka. Penguasaan atas Bangka dan Kerajaan Melayu terjadi antara tahun 672-682 M atau akhir abad ke-7 (Slamet, 1981:67).

Menurut Slamet Muljana (1981), pada 682 M Sriwijaya meluaskan kekuasaan dengan menaklukkan daerah Minanga Tamwan, yaitu sebuah daerah di sebelah barat laut Melayu. Penaklukkan terhadap Minanga Tamwan ini ditulis dalam Prasasti Kedukan Bukit. Setelah menundukkan Minanga Tamwan, perluasan kekuasaan selanjutnya mengarah ke utara menuju pantai barat Semenanjung untuk menaklukkan Kedah yang dilakukan kira-kira antara tahun 685-688 M. Setelah berhasil menaklukkan Kedah, Sriwijaya kemudian berhasil menaklukkan Kerajaan Tulang Bawang yang terletak di Muara Sungai Tulang Bawang, Lampung. Penaklukkan ini tertulis dalam Prasasti Palas Pasemah. Pada 686 M kekuatan militer Sriwijaya melakukan ekspedisi penaklukan ke Jawa. Ekspedisi ini sukses menaklukkan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Penaklukan terhadap Tarumanegara tertulis dalam Prasasti Kota Kapur. Pada abad ke-8, Sriwijaya menaklukkan daerah Ligor yang terletak di pantai timur Semenanjung (Slamet, 1981:69, 74-75, dan 79).


Prasasti Palas Pasemah

Dimulai dari abad ke-7 sampai 12, wilayah kekuasaan Sriwijaya telah membentang dari Sumatera sampai ke Asia Tenggara. Menurut Jainal D. Rasul (2003), disebutkan bahwa pada abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya telah meliputi Sumatera, Sri Lanka, Semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina. Kekuasaan yang sangat besar ini menempatkan Sriwijaya sebagai sebuah imperium yang hebat sampai abad ke-13 (Jainal D. Rasul, 2003:77).

Sedangkan dalam berita Tiongkok yang ditulis oleh Chau Ju-Kua dalam Marwati & Nugroho  (1993), disebutkan bahwa pada permulaan abad ke-13, Sriwijaya telah memiliki sedikitnya 15 daerah taklukan. Daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya tersebut adalah: Pang-fang (Pahang), Teng-ya-nung (Trengganu), Ling-ya-si-kia (Langkasuka), Ki-lan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (Kuala Berang), Ji-lo-ting (?), Cheng-mai (?), Pa-t`a (?), Tan-ma-ling (Tambralingga), Kia-lo-hi (Grahi), Pa-lin-fong (Palembang), Sun-to (Sunda), Kien-pi (Kampe), Lan-wu-li (Lamuri), dan Si-lan (Ceylon) (Marwati & Nugroho, 1993:70).      

5. Kehidupan Sosial-Budaya

Selama beberapa abad, Kerajaan Sriwijaya menempatkan diri sebagai pusat perdagangan dengan mendirikan pelabuhan, menjadi pusat kekuasaan di pantai Sumatera Timur, dan menguasai jalur pelayaran (Sartono, 1999:2). Menurut M.A.P. Melink-Roelofz (1962:14) dalam Sartono (1999), masa keemasan kekuasaan Sriwijaya di bidang kemaritiman, khususnya perdagangan bahkan sampai meliputi sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatera Utara, dan Selat Sunda. Komoditas perdagangan kala itu adalah tekstil, kapur barus, mutiara, kayu berharga (misalnya kayu gaharu), rempah-rempah, gading, kain katun, perak, emas, sutera, gula, dan sebagainya (Sartono, 1999:2). Ramainya pelabuhan yang ada di wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, bisa dilihat dari datangnya banyak pedagang yang berasal dari mancanegara, seperti Persia, Arab, India, dan Tiongkok.

Selain pusat perdagangan, Kerajaan Sriwijaya juga berfungsi sebagai pusat pengembangan agama Buddha di nusantara. Beberapa pendeta Buddha sengaja datang ke kerajaan ini untuk menggali ajaran Buddha. Mereka antara lain, I-Tsing dan Sakyakirti dengan kitab suci karangannya, Hastadandasastra yang kemudian pada 717 M diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa oleh I-Tsing.

I-Tsing, seorang pendeta Buddha, sekitar tahun 672 M melakukan perjalanan dari Kanton menuju India dan singgah di She-li-fo-she (Sriwijaya) selama 6 bulan untuk belajar sabdavidya atau tata bahasa Sanskerta. Dalam pengamatan I-Tsing yang kemudian ditulis dalam berita Tiongkok, saat itu di Sriwijaya terdapat sekitar 1.000 orang pendeta yang menguasai pengetahuan agama seperti halnya di Madhyadesa (India). Ditambahkan pula oleh I-Tsing, bagi para pendeta Tiongkok yang akan belajar kitab Buddha yang asli di Nalanda (India), sebaiknya belajar terlebih dahulu di Sriwijaya selama 2 tahun, setelah itu baru pergi ke India (Marwati & Nugroho, 1993:76 dan 81).

Untuk kedua kalinya I-Tsing datang ke Sriwijaya pada 689 M (Slamet, 2006:47). Selama 7 tahun, I-Tsing menetap di Sriwijaya dan menulis dua karya, yaitu T`ang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan dan Nan-hai-chi-kuei-nei-fa-chuan (Slamet, 1981:67). Pada 1894, T`ang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Adouard Chavannes dengan judul Voyages des pelerins bouddistes, les religieux eminents qui allerent chercher la loi dans les pay d`occident, Memoire compose a l`epoque de la grande dynastie T`ang par I-tsing (Slamet, 1981:67). Sedangkan karya I-Tsing yang berjudul Nan-hai-chi-kuei-nei-fa-chuan, diterjemahkan oleh oleh J. Takakusu pada 1896 dengan judul A Record of the Buddisht religion as practised in India and the Malay Archipelago (Slamet, 1981:67).       

(Tunggul Tauladan/02/10-2009).

Referensi

M.D. Mansoer et.al. 1970. Sedjarah Minangkabau. Jakarta: Bhratara.

Marwati Djoenoed Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Cetakan ke-4. Jakarta: Balai Pustaka.

Sartono Kartodirdjo. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Slamet Muljana. 1981. Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnabhumi. Jakarta: Idayu.

____________. 2006. Sriwijaya. Cetakan ke-II. Yogyakarta: LkiS.

Artikel di Internet

Paul Michel Munoz. 2006. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet “Kerajaan Sriwijaya,” tersedia di http://id.wikipedia.org/. Diakses pada 20 Oktober 2009.

Jainal D. Rasul. 2003. Agonies and Dreams: The Filipino Muslims and Other Minorities dalam http://id.wikipedia.org/

Sumber Foto

Dibaca : 112.255 kali.