Masjid Tanahgrogot
1. Sejarah Pembangunan
Sejarah detail Masjid Tanahgrogot ini belum diketahui. Diperkirakan, masjid ini dibangun pada abad ke-18 M. Lokasi masjid berada di daerah Tanahgrogot, karena itu dinamakan Masjid Tanahgrogot. Posisi masjid berdampingan dengan istana (sekarang istana tersebut djadikan museum). Tampaknya, penentuan tata letak ini dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa yang menempatkan masjid, istana dan alun-alun dalam satu kompleks. Selain itu, posisi berdampingan ini juga menunjukkan bahwa masjid ini merupakan masjid kerajaan, bukan sebagai masjid makam.
Posisi masjid agak masuk ke dalam, tidak langsung di tepi sungai yang menjadi sarana transportasi utama masyarakat ketika itu. Penentuan posisi masjid yang berada agak ke dalam, di antara pedalaman dan tepi sungai ini, boleh jadi untuk menunjukkan lokasi peralihan antara pedalaman dan pesisir.
2. Lokasi
Masjid terletak di daerah Tanahgrogot, lebih kurang 130 km di selatan-barat Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia.
3. Luas
(Dalam proses pengumpulan data)
4. Arsitektur
Banguna masjid terdiri dari ruang shalat, mihrab, serambi, atap, kolom (tiang) dan minaret. Ruang shalat dikelilingi oleh serambi berbentuk U yang terdapat di bagian depan, sisi kiri dan kanan. Saat ini, ketiga serambi ini masih digunakan sebagai sebagai tempat untuk belajar mengaji. Serambi ini juga berfungsi sebagai ruang peralihan antara ruang dalam dan bagian luar. Pada setiap sisi serambi ini, terdapat tiga pintu, selain untuk jalan masuk, juga sebagai ventilasi, sehingga ruang dalam tetap sejuk. Pada bagian atas setiap pintu tersebut, terdapat ventilasi berbentuk setengah lingkaran, dengan garis-garis seperti kipas. Ventilasi ini juga berfungsi sebagai ornamen untuk menambah keindahan ruang dalam masjid.
Atap masjid Tanahgrogot ini berlapis tiga. Bagian puncak yang berbentuk piramidal disangga empat soko guru. Pada bagian pucuk atap, terdapat konstruksi semacam gardu yang juga berfungsi sebagai minaret. Empat soko guru yang terdapat di masjid ini mengelilingi kolom di tengah. Konstruksi ini sangat unik dan tidak lazim dalam arsitektur Jawa. Pada kolom tunggal di tengah, terdapat tangga spiral untuk naik ke minaret yang ada di atasnya.
Berkaitan dengan bahan konstruksi masjid, sebagian besar berasal dari kayu, kecuali pada lantai dan mihrab yang terbuat dari bata dan batu.
5. Perencana
(Dalam proses pengumpulan data)
6. Renovasi
(Dalam proses pengumpulan data)
Dibaca : 8.249 kali.
Berikan komentar anda :