Minggu, 20 Agustus 2017   |   Isnain, 27 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 2.221
Hari ini : 16.711
Kemarin : 26.357
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.019.608
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid al-Anwar Lampung

a:3:{s:3:

1. Sejarah pembangunan

Muhammad Saleh bin Karaeng adalah seorang ulama dan pejuang dari Kesultanan Bone, Sulawesi Selatan. Saat itu abad ke 19, Bone sudah dikuasai oleh penjajah Belanda. Sebagai seorang ulama dan kesatria, ia kemudian bangkit bersama para pengikutnya untuk melawan penjajah Belanda. Dilihat dari sudut manapun, Belanda dengan senjata yang lengkap dan modern bukanlah lawan sepadan bagi Muhammad Saleh. Oleh sebab itu, Muhammad Saleh kalah dan menjadi buronan Belanda. Untuk menghindari kejaran Belanda, ia kemudian menyelamatkan diri dengan mengembara ke berbagai negeri di Nusantara. Hingga suatu ketika, sampailah ia di pesisir selatan pulau Sumatera, yang sekarang dikenal dengan Lampung. Diperkirakan, rombongan Muhammad Saleh merupakan rombongan orang Bugis pertama yang bermigrasi ke Lampung. Sebagai sukubangsa yang dikenal sangat erat hubungannya dengan Islam, orang-orang Bugis tersebut kemudian mendirikan sebuah surau sebagai tempat ibadah, diperkirakan sekitar tahun 1839 M. Selain Muhammad Saleh, tokoh-tokoh lainnya yang terlibat dalam pembangunan surau tersebut di antaranya adalah Daeng Sawijaya, Tumenggung Muhammad Ali dan Penghulu Besar Muhammad Said. Dalam perkembangannya, surau ini kemudian menjadi pusat ibadah dan pembinaan keagamaan para nelayan, pedagang dan masyarakat setempat.

Pada tahun 1883, gunung Krakatau meletus dengan sangat dahsyat. Sebagai daerah yang lokasinya sangat dekat dengan Krakatau, Lampung mengalami kerusakan yang sangat parah. Surau yang sederhana ini hancur berkeping-keping. Berselang lima tahun kemudian (1888), Daeng Sawijaya bermusyawarah dengan para saudagar dari Palembang, Banten dan Bugis untuk membangun kembali surau yang telah hancur tersebut. Hasilnya adalah masjid yang lebih permanen dan diberi nama Masjid al-Anwar, artinya, masjid yang bercahaya.

Pada masa perjuangan kemerdekaan melawan penjajah Belanda, Masjid al-Anwar merupakan basis tempat berkumpulnya para tokoh pejuang untuk mengatur strategi. Di masjid ini berkumpul tokoh-tokoh seperti Alamsjah Ratuperwiranegara, Kapten Subroto, KH. Nawawi dan KH. Toha. Posisi masjid sebagai pusat perjuangan terus berlangsung hingga Indonesia merdeka dan Belanda angkat kaki dari seluruh Nusantara.

Sebagai masjid yang tertua di Lampung, Masjid al-Anwar juga memiliki banyak peninggalan kuno, di antaranya dua buah meriam peninggalan Portugis,  kitab tafsir al-Quran yang sudah berumur lebih dari satu setengah abad, 200 buku agama Islam dan gentong air keramat. Gentong ini dianggap keramat karena dulu digunakan oleh para ulama saat berbuka puasa. Peninggalan keramat lainnya adalah sumur tua di belakang masjid yang disebut Sumur Seribu Doa. Konon, sumur ini belum pernah kering sejak pertama kali digali, dan diyakini, airnya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

2. Lokasi

Masjid al-Anwar terletak di Jalan Malahayati, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung. Saat ini, Jalan Malahayati merupakan kawasan perdagangan di Bandar Lampung.

3. Luas

Saat didirikan pada 1839 M, bangunan masjid masih sangat sederhana. Pasca letusan Krakatau tahun 1883, barulah masjid dibangun kembali secara permanen dengan ukuran yang lebih luas. Saat ini, luas masjid mencapai 30 x 35 meter, berdiri di atas tanah wakaf seluas 6.500 meter, mampu menampung lebih dari 2.000 jamaah.

4. Arsitektur

Bangunan utama masjid yang digunakan untuk shalat ditopang oleh enam tiang setinggi delapan meter. Tiang yang berjumlah enam buah merupakan simbol dari rukun iman yang berjumlah enam. Menurut kisah, tiang tersebut dibangun tanpa menggunakan semen. Sebagai bahan perekat pasir, yang digunakan adalah putih telur dan kapur. Data lainnya yang lebih lengkap mengenai arsitektur masjid masih dalam tahap pengumpulan

5. Perencana

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti siapa yang merancang masjid ini. Tidak menutup kemungkinan juga, jika masjid ini dirancang secara bersama-sama oleh mereka yang terlibat dalam pembangunan pertama.

6. Renovasi

Masjid ini telah beberapa kali direnovasi. Setelah Indonesia merdeka saja, tercatat dua kali renovasi: tahun 1962 dan 1997. pada awal berdirinya, masjid ini hanya mampu menampung maksimal 400 jamaah. Pasca renovasi yang dilakukan pada tahun 1962, masjid ini mampu menampung lebih dari 2.000 jamaah. Saat itu, renovasi dilakukan disertai penambahan serambi selatan, utara dan timur. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 1967 yang menghabiskan dana 400 juta rupiah.  

Sumber:

Abdul Baqir Zein. 1999. Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press.

Dibaca : 9.709 kali.

Komentar untuk "masjid al anwar lampung"

20 Sep 2011. Darah aceh
smg semangat juang ACEH tak terkalahkan,ACEH pantang mundur.MERDEKA

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password