Rabu, 28 Juni 2017   |   Khamis, 3 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 619
Hari ini : 13.138
Kemarin : 49.268
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.716.434
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kesultanan Gunung Tabur

a:3:{s:3:

1. Sejarah

Kesultanan Gunung Tabur merupakan pecahan dari Kerajaan Berau. Bersama dengan Kesultanan Sambaliyung, Kesultanan Gunung Tabur pernah menyatu dalam satu nama dan sistem pemerintahan Kerajaan Berau. Awal mula perpecahan tersebut terjadi pada abad ke-17, yaitu ketika penjajah Belanda memasuki Kerajaan Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Belanda kemudian menerapkan “devide et empera” (politik perpecahan) pada tahun 1810 yang menyebabkan Kerajaan Berau terpecah. Pecahnya kerajaan ini bersamaan dengan masuknya ajaran agama Islam ke Berau yang dibawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat pe­nyebarannya di sekitar Desa Sukan.

Kesultanan Gunung Tabur terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Fakta sejarah yang dapat membuktikan adanya kesultanan ini adalah istana Gunung Tabur. Bagan istana ini sebenarnya telah rusak sejak Perang Dunia ke-2. Namun, secara umum bangunan istana masih bisa dinikmati peninggalan sejarahnya. Letak istana ini berhadap-hadapan dengan Istana Sambaliyung. Istana Gunung Tabur terletak di tepi Sungai Sagan dan Istana Sambaliyung terletak di tepi Sungai Kelay.

Peninggalan kesultanan ini, di samping istana, juga terdapat Keraton Gunung Tabur. Letak keraton ini juga berhadapan dengan Keraton Sambaliyung yang dibelah oleh Sungai Berau. Tempat ini kemudian berubah sebagai Museum Batiwakkal, yang bisa dijangkau dalam waktu sekitar 20 menit melalui jembatan Segah atau tiga menit jika memilih naik ketinting. Museum ini dibangun pada 1990 dan diresmikan pada 1992. Di museum ini tersimpan sekitar 700 koleksi berharga berupa benda sejarah, keramik, benda arkeologis, etnografis, dan naskah. Kini, musem ini telah menjadi tempat wisata yang menarik dikunjungi oleh wisatawan. Para pengunjung juga dapat melihat kediaman Putri Keraton Gunung Tabur.

2. Silsilah

Silsilah Sultan dalam Kesultanan Gunung Tabur adalah sebagai berikut:

  1. Zainul Abidin II bin Badruddin (1820-1834)
  2. Ayi Kuning II bin Zainul Abidin (1834-1850)
  3. Amiruddin Maharaja Dendah I (1850-1876)     
  4. Hasanuddin II Maharaja Dendah II bin Amiruddin (1876-1882)
  5. Si Atas (1882- ...)
  6. (Bupati) Maulana Ahmad (...-1921)
  7. Muhammad Khalifatullah Jalaluddin (1921-1951)
  8. Aji Raden Muhammad Ayub (1951 - 1960)

NB: Masih ada sejumlah sultan yang belum tercatat secara lengkap periode kekuasaannya.

3. Periode Pemerintahan

Kesultanan Gunung Tabur berdiri sejak terpisah dari Kerajaan Berau, yaitu sejak tahun 1820 hingga menyatu kembali dalam tata pemerintahan Kabupaten Berau pada tahun 1960. Artinya bahwa kesultanan ini sempat eksis selama hampir satu setengah abad. Pada tahun 1960, bersama dengan Kesultanan Sambaliyung, Kesultanan Gunung Tabur secara resmi dihapuskan eksistensinya melalui keputusan parlemen Indonesia. Kesultanan Gunung Tabur kemudian menjadi nama sebuah kecamatan dalam lingkup Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.

4. Wilayah Kekuasaan

Sebelum menyatu dengan Kabupaten Berau, wilayah kekuasaan Kesultanan Gunung Tabur meliputi daerah yang kini dikenal dengan nama Kecamatan Gunung Tabur.

5. Struktur Pemerintahan

 (Dalam proses pengumpulan data)

6. Kehidupan Sosial-Budaya

(Dalam proses pengumpulan data)

(HS/sej/15/9-07)

Sumber :

  • www.budpar.go.id.
  • www.worldstatesmen.org.
  • www.korantempo.com.
Dibaca : 17.009 kali.

Komentar untuk "kesultanan gunung tabur"

09 Apr 2014. odank
whooiiii loeh pheliiet amaddd chiehhhh...... bhiekiin wheb khagax bhiieshaa dhiie chophas.....
30 Jan 2016. DATU EDY FACHRIADI,SE
Istana /Keraton Kesultanan Gunung Tabur itu sudah tidak ada lagi sejak terjadinya pengeboman tahun 1945 di kedua keraton oleh sekutu. Keraton Gunung Tabur hancur dan terbakar menyisakan tiang-tiang hangus saja dan sebagian rata dengan tanah. Lalu di atas tanah keratonnya yang sudah dibeli oleh Pemda Berau didirikan sebuah museum sekitar tahun 70-an yang bentuknya menyerupai bangunan keraton Gunung Tabur yang dulu pernah ada. Makanya bernama MUSEUM BATIWAKKAL milik Pemda Berau. Namun anehnya Pemda Berau sendiri seolah-olah ingin membuat sejarah baru dengan menutupi kebenaran sejarah keraton Gunung Tabur yang terkena bom tsb dengan menyebutnya istana/keraton padahal sangat jelas dan besar huruf yg terpampang dipintu gerbang bertuliskan "MUSEUM BATIWAKKAL" Pembohongan Publik secara terang-terangan dan tidak sesuai fakta sejarah.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password