Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 2.855
Hari ini : 25.238
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.473.947
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kesultanan Kedah

a:3:{s:3:

1. Sejarah

Sejarah pendirian Kesultanan Kedah belum diketahui secara pasti. Deskripsi sejarah tentang kesultanan ini yang baru dapat dilakukan adalah sebatas pada spekulasi tentang asal usulnya. Namun, yang pasti bahwa sejarah kesultanan ini bermula dari eksistensi Negeri Kedah yang telah lama berdiri sebelumnya. Berikut ini akan dibahas sejarah pembentukan Negeri Kedah terlebih dahulu sebelum masuk pada masa pendirian Kesultanan Kedah.

1. 1. Masa Pembentukan Negeri Kedah

Diperkirakan, Negeri Kedah yang merupakan cikal bakal terbentuknya Kesultanan Kedah bermula dari pembentukan pelabuhan pada abad ke-5. Ketika pelabuhan maritim ini berkembang pesat, kawasan ini menjadi ramai karena letaknya yang strategis berada di tengah-tengah antara India dan negara-negara Arab di sebelah barat dan China di sebelah timur. Negeri Kedah kemudian menjadi kota pelabuhan yang berkembang pesat, yang dikunjungi oleh para pedagang dari Arab, Parsi, China, Eropa, dan India.

Di wilayah ini terdapat sejumlah peninggalan prasejarah yang dapat dijadikan bukti adanya Negeri Kedah, yaitu berupa gua-gua batu kapur yang merupakan tempat tinggal nenek moyang prasejarah, seperti di Kubang Pasu, Kota Star, dan Baling. Di wilayah ini terdapat sebuah gunung yang sangat indah di pesisir pantai, yang dapat dilihat oleh para pelaut yang kebetulan menyusuri Laut Hindia.

Pada masa awal pembentukannya, Negeri Kedah banyak dipengaruhi oleh negeri serantau, seperti Negeri Funan dan juga kerajaan lainnya, seperti Kerajaan Sriwijaya. Institusi politik dan pemerintahan negeri ini pernah dipengaruhi oleh warisan agama Hindu dan Buddha dari India. Pengaruh dua agama tersebut sangat penting dalam awal mula pembentukan Negeri Kedah. Banyak masyarakat di negeri ini yang memeluk agama Hindu dan Buddha.

Masuknya Islam ke Negeri Kedah kemudian mempengaruhi institusi politik dan pemerintahan yang sudah mapan itu. Banyak penduduk di negeri ini yang telah memeluk Islam sejak abad pertama Hijriah. Bukti sejarahnya adalah banyaknya pedagang dari negeri Arab yang datang ke negeri ini. Pada abad ke-9 dan 10, banyak orang Islam di China yang melarikan diri ke Negeri Kedah untuk mencari perlindungan. Hal itu disebabkan karena adanya pemberontakan di Canton pada tahun 878 yang melibatkan para pedagang dari Arab. Bukti sejarah lain adalah ditemukannya batu nisan di Tanjung Inggris, Langgar, pada tahun 1962. Di nisan ini tercatat nama Sheikh Abdul Kadir Ibn Husin Shah Alam (Aliran), tanggal 29 Hijriah (651 Masehi) atau 290 H (920 M).

Sejak masuknya Islam ke Negeri Kedah terjadi pula proses Islamisasi terhadap sejumlah raja. Penulis-penulis istana pada saat itu banyak yang mencatat bagaimana proses pengislaman raja pertama di Negeri Kedah sebagai peristiwa yang sangat penting karena sebagai zaman baru Negeri Kedah. Dalam hal ini, ada dua versi yang berbeda tentang siapakah yang mengislaman Raja Kedah I. Menurut catatan al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah, raja pertama di Negeri Kedah, Seri Paduka Maharaja Durbar Raja, telah diislamkan oleh Syeikh Abdullah bin Syeikh Ahmad al-Qaumiri pada tahun 531 H (1136 M). Setelah memeluk Islam ia diberi nama baru, Sultan Muzaffar shah, dan Negeri Kedah dikenal sebagai Darul Aman. Sedangkan menurut Hikayat Merong Mahawangsa, Syeikh Abdullah al-Yamani pernah ditugaskan oleh gurunya Syeikh Abdullah Baghdad untuk mengislamkan Raja Kedah pada saat itu, Raja Phra Ong Mahwangsa. Menurut cerita dalam hikayat ini, Syeikh Abdullah al-Yamani pernah tergoda oleh iblis selama dalam pengembaraannya. Iblis juga menggoda Raja Phra Ong Mahwangsa agar meminum arak. Syeikh Abdullah al-Yamani kemudian dapat mengatasi godaan iblis tersebut dan secara tiba-tiba ia berada di hadapan Raja Phra Ong Mahwangsa dan memintanya agar mau memeluk Islam. Setelah memeluk Islam, Raja Phra Ong Mahwangsa bertukar nama menjadi Sultan Muzaffar Shah.

1. 2. Masa Pembentukan Kesultanan Kedah

Tidak ada bukti jelas yang mengungkap fakta awal mula terbentuknya Kesultanan Kedah. Berdasarkan sumber-sumber sejarah tradisional Negeri Kedah yang ditulis pada masa Islam, kesultanan ini berdiri sebagai bentuk akulturasi budaya dalam negeri dengan pengaruh luar. Bentuk akulturasi yang sangat kentara adalah pertemuan budaya Arab-Islam dengan budaya masyarakat Melayu. Penulis-penulis istana cenderung memutus hubungan kebudayaan Hindu-Buddha yang datang dari India dengan langsung menarik garis akulturasi Arab-Islam dan Negeri Kedah. Namun demikian, pengaruh Hindu-Buddha tetap dianggap penting, terutama pada masa awal pembentukan Negeri Kedah.

Dalam sumber-sumber sejarah tradisional, disebutkan bahwa pembentukan Kesultanan Kedah tidak terlepas dari fenomena “manusia agung”, yang dianggap sebagai penggagas awal kesultanan ini. Hanya keturunan dari penggagas ini saja yang berhak menjadi sultan. Meski demikian, dalam proses suksesi kepemimpinan sering terjadi konflik dan perebutan kekuasaan karena berbagai faktor.

Ada dua versi perihal keturunan sultan Kedah, yaitu versi al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah (ASNK) yang disusun pada tahun 1928 dan versi Hikayat Merong Mahawangsa (HMM). Dato‘ Hj. Wan Shamsudin Mohd. Yusof (www.mykedah2.com) mengatakan bahwa ASNK merupakan satu-satunya sumber buku yang memuat fakta sejarah Kesultanan Kedah dan dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi, ASNK ditulis oleh anak negeri sendiri, yaitu Muhammad Hassan bin Dato‘ Kerani Muhammad Arshad. Menurut Dato‘ Hj. Wan Shamsudin Mohd. Yusof, HMM tidak bisa dijadikan sebagai sumber silsilah Kesultanan Kedah yang lengkap karena beberapa sebab. Sebab yang paling utama adalah bahwa HMM merupakan karya “historiografi” (sastra sejarah) yang sifatnya sama seperti karya-karya yang sejenis, seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Sulalatus-Salatin atau Sejarah Melayu. Karya-karya semacam itu tidak mementingkan pentarikhan atau tahun berlakunya suatu peristiwa. Meski adanya perbedaan dua sumber tersebut, di bawah ini akan dibahas bagaimana sejarah silsilah Kesultanan Kedah.

Pertama, menurut Hikayat Merong Mahawangsa, keturunan sultan Kedah dihubungkan dengan bangsa Rom. Penggagas kesultanan ini adalah Merong Mahawangsa yang pernah menaklukkan Maharaja Rom dan kemudian melangsungkan perkawinan dengan Puteri Maharaja dari China. Rombongan Merong Mahawangsa suatu ketika pernah diserang oleh sekelompok penjahat di perairan Kedah, sehingga menyebabkan dirinya terdampar di pantai. Dalam perkembangan selanjutnya, ia diangkat oleh masyarakat Negeri Kedah sebagai raja mereka.

Kedua, menurut al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah, Kesultanan Kedah memiliki hubungan dengan sebuah kerajaan di Parsi yang dikenal sebagai Kerajaan Gumarun. Penggagas pendirian Kesultanan Kedah adalah Maharaja Durbar Raja. Ceritanya, ia beserta sejumlah pengikutnya pernah melarikan diri dari Kerajaan Gumarun. Mereka melakukan pengembaraan melalui laut hingga tiba di Kedah. Rakyat Kedah kemudian mengangkat Maharaja Durbar sebagai raja mereka.

Di samping dua versi utama di atas, ternyata ada versi lain yang menghubungkan fenomena “manusia agung” ini dengan berdirinya Kesultanan Kedah. Mustafa Tam (1962), misalnya, menghubungkan Kesultanan Kedah dengan dinasti Maurya di India. Namun, tidak dapat dipastikan bagaimana asal-usul silsilah Kesultanan Kedah dengan dinasti Maurya tersebut.  

2. Silsilah

Sebelum membahas tentang silsilah sultan-sultan pada masa Kesultanan Kedah, perlu dikemukakan terlebih dahulu silsilah para penguasa di Negeri Kedah, yang menjadi cikal bakal kesultanan nantinya.

2. 1. Raja-raja pada Masa Negeri Kedah

Berikut ini akan dikemukakan daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Negeri Kedah, meski belum ditemukan data tahun kekuasannya. Ada dua sumber yang berbeda tentang silsilah raja-raja di Negeri Kedah, yaitu, al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah dan Hikayat Merong Mahawangsa.

A. Berdasarkan al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah, daftar silsilah raja Negeri Kedah adalah sebagai berikut:

  1. Maharaja Durbar Raja
  2. Maharaja Druja Raja
  3. Maharaja Maha Dewa
  4. Maharaja Kerna Durja
  5. Seri Paduka Maharaja Kerna
  6. Seri Paduka Maharaja Dewa
  7. Seri Paduka Maharaja Derma Raja
  8. Seri Paduka Maharaja Maha Jiwa
  9. Seri Paduka Maharaja Durbar Raja

B. Berdasarkan Hikayat Merong Mahawangsa, daftar silsilah raja Negeri Kedah adalah sebagai berikut:

  1. Raja Merong Mahawangsa
  2. Raja Merong Mahapudisat
  3. Raja Seri Mahawangsa
  4. Raja Seri Maha Inderawangsa
  5. Raja Ong Maha Perita Deria
  6. Raja Phra Ong Mahaputisat
  7. Raja Phra Ong Mahawangsa

2. 2. Sultan-sultan pada Masa Kesultanan Kedah

Berdasarkan silsilah sultan-sultan Kedah yang disusun oleh Tunku Fariddin Haji bin Tungku Mansor (1957), terdapat 27 sultan yang pernah berkuasa di Kesultanan Kedah. Namun menurut Dato‘ Wan Shamsudin Mohd. Yusuf, justru terdapat 28 sultan karena ia memasukkan nama Tunku Dhiauddin Raja Muda Kayang sebagai sultan (yang dalam catatan Tunku Fariddin hanya dimasukkan sebagai pemangku raja). Berikut ini adalah 28 sultan Kedah yang dimaksud, yaitu sebagai berikut:

  1. Sultan al-Mudzaffar Shah I (1136-1179)
  2. Sultan Mu‘adzam Shah (1179-1201)
  3. Sultan Muhammad Shah (1204-1236)
  4. Sultan Mazzil Shah (1236-1280)
  5. Sultan Mahmud Shah I (1280-1321)
  6. Sultan Ibrahim Shah (1321-1373)
  7. Sultan Sulaiman Shah I (1373-1422)
  8. Sultan Ataullah Muhammad Shah I (1422-1472)
  9. Sultan Muhammad Jiwa Zainal Azilin I (1472-1506)
  10. Sultan Mahmud Shah II (1506-1546)
  11. Sultan Mudzaffar Shah II (1546-1602)
  12. Sultan Sulaiman Shah II (1602-1625)
  13. Sultan Rijaluddin Muhammad Shah (1625-1651)
  14. Sultan Muhyiddin Mansor Shah (1651-1661)
  15. Sultan Dziauddin Mukarram Shah (1661-1687)
  16. Sultan Ataullah Muhammad Shah II (1687-1687)
  17. Sultan Abdullah al-Mu‘adzam Shah I (1698-1706)
  18. Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah I. Raja Bendahara sebagai Pemangku Sultan (1706-1709)
  19. Sultan Muhammad Jiwa Zainal Azilin Mu‘adzam Shah II (1710-1778)
  20. Sultan Abdullah Mukarran Shah II (1778-1797)
  21. Sultan Dziauddin (1797-1803)
  22. Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah II (1803-1843)
  23. Sultan Zainal Rashid al-Mu‘adzam Shah (1843-1854)
  24. Sultan Ahmad Tajuddin Mukarram Shah (1854-1879)
  25. Sultan Zainal Rashid al-Mu‘adzam Shah (1879-1881)
  26. Sultan Abdul Hamid Halim Shah (1881-1943)
  27. Sultan Badlishah (1943-1958)
  28. Sultan Abdul Halim Mu‘adzam Shah (1958-Kini)

3. Periode Pemerintahan

Kesultanan Kedah berdiri sejak tahun 1136 dan masih eksis hingga kini. Kesultanan ini mampu bertahan hampir sembilan abad. Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Tajuddin Mukarram Shah (1854-1879), Kesultanan Kedah tercatat memasuki era pembangunan modern. Era ini masih berlanjut hingga kini. Salah satu sultan di Kesultanan Kedah ini yang pernah melakukan manuver unik adalah Sultan Abdul Hamid Halim Shah (1881-1943). Di awal pemerintahannya, ia melakukan lawatan ke sejumlah negeri, seperti Thailand, India, Burma, dan Eropa. Tujuannya, tiada lain untuk memperluas cakrawala pengetahuannya tentang bagaimana membangun pemerintahan yang kuat dan maju.

4. Wilayah Kekuasaan

Belum ditemukan data yang menyebutkan bagaimana wilayah Kesultanan Kedah pada masa lampau. Data yang baru dapat diperoleh adalah data Kesultanan Kedah pada masa modern. Total luas wilayah Kesultanan Kedah pada masa modern adalah 9,425 km2 . Luas ini terbagi ke dalam 11 daerah, yaitu: Baling (1529 km2), Bandar Bahru (269 km2), Kota Setar (665 km2), Kuala Muda (923 km2), Kubang Pasu (948 km2), Kulim (765 km2), Langkawi (467 km2), Padang Terap (1357 km2), Pendang (626 km2), Sik (1635 km2), dan Yan (242 km2).

5. Struktur Pemerintahan

Dalam struktur pemerintahan Kesultanan Kedah, sultan mempunyai kekuasaan yang mutlak. Sultan memerintah berdasarkan Adat Temenggung dan hukum Islam. Kesultanan Kedah mempunyai empat kanun yang dijadikan sumber rujukan penting dalam pemerintahan kesultanan. Oleh R. O. Winstedt manuskrip empat kanun itu dikumpulkan dan dinamakan sebagai: Undang-Undang Pelabuhan 1650, Kanun Tambera Dato‘ Paduka Tuan, Hukum Kanun Dato Kota Star, dan satu lagi qanun (hukum) tentang adat kerajaan dalam hal pelantikan para pembesar dan adat meminang.

Ketika memerintah, sultan dibantu oleh para pembesar tradisional. Wakil sultan dalam pemerintahan adalah Raja Muda. Ia tidak harus berasal dari putra sultan. Meski Raja Muda tidak bakal jadi sultan, namun dalam tata kelola pemerintahan ia mempunyai kekuasaan yang agak luas. Para pembesar (elit) tradisional yang membantu pekerjaan sultan adalah pembesar di tingkat pusat dan tingkat daerah.

Di tingkat pusat, pembesar yang dimaksud memegang jabatan-jabatan sebagai bendahara, pembesar empat, pembesar lapan, pembesar enam belas, dan pahlawan hulubalang. Pembesar empat adalah Tumenggung (yang mengurusi urusan-urusan dalam negeri), laksamana (urusan keselamatan di laut), penghulu bendahari (urusan keuangan), dan syahbandar (urusan pelabuhan). Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Tajuddin III (1853-1879), banyak jabatan yang kemudian dihapuskan karena sultan itu hendak memusatkan kekuasaannya hanya di kalangan kerabat sultan saja. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamis, jabatan bendahara, menteri, temenggung, dan lain-lain ditiadakan.

Sedangkan di tingkat daerah, sultan melantik pembesar yang bertanggung jawab dalam mengurus kawasan lembah sungai. Pembesar daerah diberikan otonomi sendiri, yaitu membentuk pemerintahannya sendiri dengan dibantu oleh sejumlah aparat daerah, termasuk pihak masyarakat. Pada tahun 1905, pemerintahan daerah telah dimodernkan. Pemerintah daerah kemudian lebih dikenal dengan sebutan pembesar jajahan, sebelum kemudian dikenal dengan istilah pegawai negeri.

6. Kehidupan Sosial-Budaya

Kehidupan sosial-budaya yang tercatat di bawah ini merupakan kehidupan masyarakat masa modern karena kehidupan sosial-budaya masa lampau tidak ditemukan datanya.

Mayoritas penduduk Kedah adalah etnik Melayu, dan sebagian di antaranya merupakan etnik Cina dan India. Berdasarkan data statistik terkini populasi Negeri Kedah pada tahun 2003 adalah: Melayu (1,336,352), Cina (252,987), India (122,911), bukan warganegara (35,293), dan lain-lain (27,532). Mata pencaharian mayoritas penduduk Kedah berasal dari pertanian, perindustrian, dan perkhidmatan.

(HS/sej/31/11-07)

Sumber :

  • Mohd. Isa Othman, “Kesultanan Kedah: Salasilah dan Pemerintahannya”, dalam Prosiding Seminar Antarbangsa Kesultanan Melayu Nusantara: Sejarah dan Warisan, Kuantan, Pahang Darul Makmur, 8-11 Mei 2005.
  • www.kedah.gov.my.
  • www.mykedah2.com.
  • www.ms.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kedah.

Kredit foto : www.asiaexplorers.com

Dibaca : 34.420 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password