Kamis, 2 Oktober 2014   |   Jum'ah, 7 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.709
Hari ini : 9.661
Kemarin : 22.291
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.182.150
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kesultanan Selangor

a:3:{s:3:

1. Sejarah

Kesultanan Selangor terletak di tengah-tengah Semenanjung Malaysia yang mengelilingi Wilayah Persekutuan Putrajaya dan Kuala Lumpur. Selangor merupakan bagian dari wilayah persekutuan Malaysia. Menteri Besar Selangor pernah menetapkan negeri ini sebagai negeri termaju di Malaysia pada tanggal 27 Agustus 2005. Hal itu didasarkan pada perkembangan ekonomi Selangor yang kian maju.

Kesultanan Selangor didirikan oleh Raja Lumu bin Daeng Celak atau Sultan Salehuddin Shah ibni al-Marhum Yamtuan Muda Daeng Celak pada tahun 1756 M. Ia merupakan keturunan Bugis. Sebelum berdiri (pada abad ke-15), Selangor telah berada di bawah kekuasaan Malaka. Setelah Malaka mengalami masa kehancurannya, Selangor kemudian menjadi rebutan kerajaan Johor, Aceh, Siam, dan juga Portugis. Sultan Salehuddin Shah berperan besar melepaskan Selangor dari kekuasaan Johor, sehingga kemudian dapat berdiri sendiri.


Ketika Sultan Salehuddin Shah mangkat pada tahun 1778 M, putranya yang bernama Raja Ibrahim Marhum Saleh diangkat sebagai Sultan II Selangor dengan gelar Sultan Ibrahim Shah (1778-1826 M). Semasa pemerintahannya, Selangor pernah mengalami sejumlah peristiwa penting. Tepatnya pada tanggal 13 Juli 1784 M, bala tentara Belanda menyerang Selangor hingga dapat menguasai Kota Kuala Selangor. Di samping itu, Selangor pernah diintervensi oleh Inggris. Hal ini bermula dari kesepakatan kerja sama antara Selangor dengan Perak yang berujung pada perselisihan utang-piutang. Robert Fullerton, Gubernur Inggris di Pulau Pinang, melakukan intervensi dengan cara ikut serta menyelesaikan perselisihan di antara mereka.

Meski demikian, Sultan Ibrahim Shah pernah berperan besar dalam mengharmoniskan hubungan antara Belanda dan Sultan Mahmud Johor, serta antara Sultan Mahmud dan Raja Ali (Yamtuan Muda Riau yang menggantikan Raja Haji).


Sultan Ibrahim Shah mangkat pada tanggal 27 Oktober 1826 M, putranya, Raja Muda Selangor diangkat sebagai Sultan Selangor III dengan gelar Sultan Muhammad Shah (1826-1857 M). Ketika memerintah, Sultan Muhammad Shah pernah mengalami masalah internal kesultanan. Sejumlah daerah di Selangor, seperti Kuala Selangor, Kelang, Bernam, Langat, dan Lakut memisahkan diri. Hal itu terjadi karena Sultan, dianggap oleh sebagian peneliti sejarah, tidak mampu menguasai sultan-sultan dan pembesar-pembesar di daerah-derah tersebut. Meski demikian, selama 31 tahun memerintah, Sultan telah mengembangkan perekonomian kesultanan, salah satunya mendirikan pabrik biji timah di Ampang.

Sultan Muhammad Shah meninggal pada tahun 1857 M. Sepeninggalan Sultan, Selangor sempat mengalami masa perpecahan di antara para pembesar kesultanan dalam soal memilih pemimpin yang baru. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya terpilih Raja Abdul Samad Raja Abdullah sebagai Sultan Selangor IV dengan gelar Sultan Abdul Samad (1857-1898 M). Ia merupakan anak dari saudara (keponakan) Sultan Muhammad Shah. Pada masa Sultan Abdul Samad, pabrik biji timah telah beroperasi, bahkan sudah mulai dipasarkan ke negeri-negeri Selat dan China.

Sultan Abdul Samad,
Sultan Selangor IV
(1857-1898 M)

Pada tahun 1868 M, Sultan Abdul Samad mengangkat menantunya, Tengku Dhiauddin ibni Almarhum Sultan Zainal Rashid (Tengku Kudin), sebagai Wakil Yamtuan Selangor. Tidak hanya itu, Sultan Abdul Samad juga menyerahkan Langat menjadi milik menantunya itu.

Kemajuan perekonomian yang dialami Selangor menyebabkan negeri ini diminati oleh bangsa China. Sejumlah pedagang asal China ada yang melakukan “kerja sama gelap” dengan beberapa pembesar Selangor untuk mengakses kekayaan perekomian negeri ini (belum ditemukan data waktu kejadian ini). Akibat dari siasat negatif ini, Selangor mengalami suasana penuh pertikaian dan peperangan. Pada tahun 1874 M, pihak Inggris memaksa Sultan Abdul Samad untuk menerima Residen Inggris di Klang, Selangor. Dengan cara ini, Inggris dengan leluasa dapat mengintervensi kepentingan dalam negeri Selangor.

Sultan Abdul Samad mangkat pada tanggal 6 Februari 1898 M, dalam usia 93 tahun. Ia dimakamkan di Jugra. Ia kemudian digantikan oleh cucunya, Raja Muda Sulaiman ibni Almarhum Raja Muda Musa. Pada tanggal 17 Februari 1898 M, Raja Muda Sulaiman dilantik sebagai Sultan Selangor V dengan gelar Sultan Alauddin Sulaiman Shah (18981938) M. Pada masa pemerintahannya, Selangor mengalami kemajuan cukup pesat yang ditandai dengan pembangunan fisik berupa jalan raya dan landasan kereta api. Ketika itu, program pembangunan rumah ditingkatkan, terutama di daerah Klang. Ia dikenal bijaksana dalam memimpin Selangor. Ketika usia pemerintahannya genap 40 tahun, ia diberi sambutan yang sangat hangat dari seluruh rakyatnya berupa upacara Jubli Emas di Klang. Pada tanggal 30 Maret 1938 M, ia mangkat dan dimakamkan di Klang dengan gelar “Marhum Atiqullah”.


Sultan Alauddin Sulaiman Shah,
Sultan Selangor V
(1898 - 1938 M)

Pada tanggal 4 April 1938 M, putra Sultan Alauddin Sulaiman Shah kemudian dilantik sebagai Sultan Selangor VI dengan gelar Sultan Hisamuddin Alam Shah (1938-1942 M). Masa pemerintahan Sultan Hisamuddin Alam Shah tidak begitu lama, hanya empat tahun. Hal itu disebabkan karena pada tahun 1942, ia dipaksa turun oleh tentara Jepang yang sebelumnya mampu menguasai seluruh kerajaan Melayu, termasuk Selangor.

Hisamuddin Alam Shah,
Sultan Selangor VI
(
1938-1942 dan 1945-1960 M)

Pemerintah Jepang kemudian melantik kakak Sultan Hisamuddin Alam Shah, Tengku Musauddin sebagai Sultan Selangor VII dengan gelar Sultan Musa Ghiatuddin Riayat Shah (19421945 M). Pihak Jepang memberikan syarat agar Sultan Hisamuddin Alam Shah mau membantu kakaknya dalam tata kelola pemerintahan.  


Sultan Musa Ghiatuddin Riayat Shah,
Sultan Selangor VII
(1942 - 1945 M)

Pada tahun 1945 M, terjadi perubahan struktur pemerintahan Selangor. Ketika itu, Inggris menguasai kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaya, termasuk Selangor. Salah satu bentuk penguasaan Inggris adalah menuntut agar Sultan Hisamuddin Alam Shah kembali memimpin di Selangor. Pada tanggal 31 Agustus 1957 M, Sultan Hisamuddin dilantik sebagai Timbalan Yang Dipertuan Agong Negara Persekutuan Tanah Melayu, sementara itu jabatan Yang Dipertuan Agong pertama kali dipegang oleh Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Abdul Rahman ibni almarhum Tuanku Muhammad. Ketika Tuanku Abdul Rahman mangkat pada tanggal 1 April 1960 M, Sultan Hisamuddin Alam Shah dilantik sebagai Yang Dipertuan Agong yang kedua. Lima bulan kemudian Sultan Hisamuddin mangkat, tepatnya pada tanggal 1 September 1960 M.

Tahta kekuasaan kemudian dipegang oleh putra sulung Sultan Hisamuddin, Raja Abdul Aziz sebagai Sultan Selangor IX dengan gelar Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah (1960-2001 M). Ketika berkuasa, ia telah banyak melakukan perubahan dan memberikan kemajuan yang sangat besar bagi rakyat Selangor. Pada masa pemerintahannya, Inggris masih melakukan sejumlah intervensi kebijakan dalam negeri dan luar negeri Selangor.   

 
Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah,
Sultan Selangor IX
(
1960 - 2001 M)

Pada tahun 1986 M, Residen Frank Swettenham berusaha menyatukan Selangor bersama dengan Negeri Sembilan, Pahang, dan Perak ke dalam Negeri-negeri Melayu Bersatu dengan pusat ibu kotanya di Selangor. Ternyata, persatuan ini terus berkembang. Pada tahun 1948 M, persatuan ini berubah nama menjadi Persekutuan Malaya. Dan, pada tahun 1963 M, berubah lagi menjadi Persekutuan Malaysia. Selangor kemudian merelakan status ibu kotanya berpindahkan ke Kuala Lumpur pada tahun 1974 M.

Pada tanggal 22 November 2001 M, Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah meninggal. Putranya yang bernama Tengku Idris Shah kemudian diangkat sebagai Sultan Selangor X dengan gelar Sultan Sharafuddin Idris Shah (2001 M–sekarang).


Sultan Sharafuddin Idris Shah,
Sultan Selangor X
(2001 M – sekarang)

2. Silsilah

Berikut ini adalah daftar sultan yang pernah berkuasa di Kesultanan Selangor:

  1. Sultan Salehuddin Shah ibni al-Marhum Yamtuan Muda Daeng Celak atau namanya aslinya Raja Lumu bin Daeng Celak (1756-1778 M)
  2. Sultan Ibrahim Shah ibni al-Marhum Sultan Salehuddin Shah (1778-1826 M)
  3. Sultan Muhammad Shah ibni al-Marhum Sultan Ibrahim Shah (1826-1857 M)
  4. Sultan Abdul Samad ibni al-Marhum Raja Abdullah (1857-1898 M)
  5. Sultan Alauddin Sulaiman Shah ibni al-Marhum Raja Muda Musa (1898-1938 M)
  6. Sultan Hisamuddin Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Alauddin Sulaiman Shah (19381942 M)
  7. Sultan Musa Ghiathuddin Riayat Shah ibni al-Marhum Sultan Alauddin Sulaiman Shah (19421945 M)
  8. Sultan Hisamuddin Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Alauddin Sulaiman Shah (19451960 M)
  9. Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah ibni al-Marhum Hisamuddin Alam Shah (1960-2001 M)
  10. Sultan Sharafuddin Idris Shah ibni al-Marhum Sultan Salehuddin Abdul Aziz Shah (2001 M-…)

3. Periode Pemerintahan

Sejak tahun 1756 M hingga sekarang, Kesultanan Selangor telah berdiri selama sekitar dua setengah abad. Dalam rentang waktu yang demikian panjang, Selangor pernah mengalami masa-sama kejayaannya, terutama pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Sulaiman Shah (18981938) M. Selangor juga pernah mengalami masa suramnya, terutama ketika diintervensi oleh Inggris.


4. Wilayah Kekuasaan

Secara keseluruhan, luas Selangor adalah 7,956 km2 yang terbagi ke dalam sembilan wilayah kekuasaan, yaitu:

1. Hulu Selangor, yang diperintah oleh Majlis Daerah Hulu Selangor.

2. Hulu Langat, terbagi ke dalam:

  • Majlis Perbandaran Kajang, yang memerintah seluruh wilayah Langat dan Kajang.
  • Majlis Perbandaran Ampang Jaya, yang memerintah seluruh Ampang dan Hulu Klang.

3. Gombak, yang diperintah oleh Majlis Perbendaran Selayang.

4. Kuala Selangor, yang diperintah oleh Majlis Daerah Kuala Selangor.

5. Kuala Langat, yang diperintah oleh Majlis Daerah Kuala Langat.

6. Klang, yang diperintah oleh Majlis Perbendaran Klang.

7. Petaling, terbagi ke dalam:

  • Majlis Bandaraya Petaling Jaya, yang memerintah Petaling Jaya.
  • Majlis Bandaraya Subang Jaya, yang memerintah seluruh wilayah Subang Jaya, Puchong, Serdang, USJ, dan Seri Kembangan.
  • Majlis Bandaraya Shah Alam, yang memerintah Shah Alam dan Sungai Buloh.

8. Sabak Bernam, yang diperintah oleh Majlis Daerah Sabak Bernam.

9. Sepang, yang diperintah oleh Majlis Perbendaran Sepang.


5. Struktur Pemerintahan

Kesultanan Selangor memiliki prinsip pemerintahan “demokrasi berparlemen”. Prinsip ini sebenarnya juga dianut oleh wilayah-wilayah persekutuan dalam negara Malaysia. Dalam struktur pemerintahan Selangor, sultan tetap merupakan pemimpin tertinggi di kesultanan. Ia dibantu oleh seorang Yang Dipertuan Besar/Agong. Sementara itu, seseorang yang bakal menggantikan posisi sultan bergelar Raja, yang biasanya berasa dari keturunan sultan.

Sejak tahun 1967 M, Selangor memiliki lagu kebangsaan sendiri yang berjudul “Duli Yang Maha Mulia”. Pencipta lagu ini tidak diketahui identitasnya. Lagu ini digubah oleh Syaiful Bahri. Berikut ini adalah syair lagu tersebut:

Duli Yang Maha Mulia
Selamat di atas takhta
Allah lanjutkan usia Tuanku
Rakyat mohon restu bawah Duli Tuanku
Bahagia selama-lamanya
Aman dan sentosa
Duli Yang Maha Mulia


6. Kehidupan Sosial-Budaya

Masih dalam proses pengumpulan data

(HS/sej/44/04-08)

Sumber

  • “Identiti Selangor”, dalam ms.wikipedia.org/wiki/Identiti_Selangor, diakses tanggal 3 April 2008.
  • “Salasilah kesultanan Selangor Mulai 1756”, dalam www.selangor.gov.my/main.php?Content=vertsectiondetails&VsItemID= 4&VertSectionID=5&CurLocation=44&Page=1, diakses tanggal 4 April 2008.
  • Yusoff bin Haji Hashim, Prof. Dato‘ Dr. Mohd. 2005. “Negeri Selangor, Kesinambungan dan Perubahan Sebuah Kesultanan Melayu Malaysia”, dalam Prosiding Seminar Antarbangsa Kesultanan Melayu Nusantara: Sejarah dan Warisan, Kuantan, Pahang Darul Makmur, 8-11 Mei.

Kredit foto :

  • www.virtualtourist.com
  • Dr Farish Ahmad-Noor (Badrol Hisham Ahmad-Noor)
    Senior Fellow for the Contemporary Islam Programme;
    S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS),
    Nanyang Technological University (NTU),
    Block S4, Level B4, Nanyang Avenue,
    Singapore 639798
Dibaca : 22.339 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password