Senin, 18 Desember 2017   |   Tsulasa', 29 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 4.120
Hari ini : 22.512
Kemarin : 54.682
Minggu kemarin : 304.443
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.994.523
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Makam Sultan Sharif Ali

1. Sejarah

Makam Sultan Sharif Ali merupakan salah satu bangunan bersejarah di Brunei dan menjadi tempat tujuan ziarah yang diminati oleh banyak peziarah. Makam ini pernah ditutup untuk umum, terkait adanya penelitian terhadap situs bersejarah. Kala itu, makam tersebut hanya boleh dikunjungi atas permintaan khusus. Kondisi itu menunjukkan bahwa makam Sultan Sharif Ali sesungguhnya merupakan situs yang penting bagi penelitian sejarah dan juga kajian-kajian arkeologis.

Demi menjaga situs bersejarah tersebut, maka makam beliau mendapat perhatian dan perawatan yang ektra dari pemerintah setempat. Perawatan itu mencakup renovasi dan perombakan di sekitar lokasi makam. Renovasi yang pernah dilakukan ialah penggantian nisan, dari berbahan kayu menjadi berbahan batu. Sementara, di sekitar lokasi makam didirikan bangunan yang cukup artistik yang mempercantik area makam beliau.


Makam Sultan Sharif Ali dibangun laksana miniatur istana dengan kubah masjid di atasnya, sebagai simbol makam Islam. Di sekitarnya dibuat pagar dan jalan yang mengarah menuju ke makam itu. Sepintas, bangunan makam tampak seperti istana Sinbad, tokoh komik dari tanah Arab. Bila dibandingkan dengan makam raja-raja Brunei lainnya, makam Sultan Sharif Ali terlihat lebih megah dan indah. Bangunannya yang indah itu menggelitik nalar kita untuk mengetahui siapa sebenarnya Sultan Sharif Ali dan bagaimana kiprah beliau semasa hidupnya, sehingga dibuatkan makam sedemikian eloknya?


Riwayat Hidup Sultan Sharif Ali

Sultan Sharif Ali adalah Sultan Brunei ke-3 yang memerintah Kerajaan Brunei pada tahun 1425-1432 M, menggantikan Sultan Ahmad, mertuanya. Pada mulanya, Sultan Sharif Ali hanyalah seorang pendatang dari tanah Arab yang ingin menyebarkan ajaran agama Islam. Melihat jasa dan kearifannya dalam menyebarkan ajaran Islam, maka beliau kemudian dijodohkan oleh Sultan Ahmad dengan putrinya, Puteri Ratna Kesuma (Pusat Sejarah Brunei, tanpa tahun). Dikarenakan Sultan Ahmad tidak memiliki anak laki-laki, maka Sharif Ali, sang menantu, akhirnya didaulat untuk menjadi raja menggantikan kedudukan Sultan Ahmad, Raja Brunei ke-2 yang mangkat pada tahun 1425 M (Al-Sufri, 2001; Jex Lim, 1999). Beliau kemudian diberi gelar raja dengan nama ‘Sultan Sharif Ali‘.

Daulat dan keinginan menjadikan Sharif Ali sebagai raja, ternyata bukan hanya berasal dari kalangan istana, melainkan juga atas persetujuan pembesar-pembesar negara dan rakyat Brunei yang merasa bahwa beliau telah banyak berperan dalam pengembangan Islam. Jasa besar Sharif Ali, sesungguhnya tidak terlepas dari perannya sebagai mubaligh di Brunei pada masa pemerintahan Sultan Ahmad. Oleh sebab itu, perkawinan beliau dengan Puteri Ratna Kesuma, menjadi suatu ikatan yang mengukuhkan kedudukan beliau sebagai raja yang juga berperan sebagai mubaligh Islam di Brunei (Pusat Sejarah Brunei, tanpa tahun).

Sultan Sharif Ali tidak memiliki garis keturunan raja, dan bukan orang Brunei Asli. Beliau berasal dari Taif. Hal ini dibuktikan dengan tulisan yang terpahat di atas Prasasti Batu Tarsilah yang memahat silsilah raja-raja Brunei disebutkan bahwa: “…Sharif Ali yang turun dari negeri Taif” (Al-Sufri, 2001). Baru kali itulah Kerajaan Brunei memiliki raja yang bukan penduduk asli Brunei dan bukan keturunan raja, namun direstui oleh rakyatnya.

Karena Sultan Sharif Ali bukan penduduk asli Brunei, maka banyak kalangan mencoba menelusuri asal-usul beliau. Penelusuran itu membuahkan hasil yang kemudian dikutip di berbagai buku sejarah di Brunei, bahwa Sultan Sharif Ali merupakan keturunan Rasulullah Saw dari nasab Hasan ibnu Ali Bin Abi Tholib. Dalam Salasilah Raja-Raja Brunei yang termaktub dalam Tarsilah Brunei (Al-Sufri, 2001) ditegaskan bahwa “Sharif Ali adalah anak cucu Sayidina Hasan (cucu Rasulullah Saw yang datang dari Taif membawa sebilah pedang (Pedang Si Bongkok)…”.  

Bukti yang lebih meyakinkan bahwa Sultan Sharif Ali berasal dari Jazirah Arab ialah adanya sebilah pedang kerajaan yang dibawanya ketika berlabuh di Brunei. Konon, pedang beliau yang terkenal dengan nama Pedang Si Bongkok,—yang kemudian diwariskan secara turun temurun kepada sultan-sultan Brunei setelahnya—merupakan salah satu dari dua pedang kerajaan yang diberikan oleh Kerajaan Turki kepada amir Makkah dan amir Mesir. Jika pendapat itu benar, besar kemungkinan bahwa Sultan Sharif Ali dulunya adalah amir Makkah yang kemudian melarikan diri ketika terjadi perang kekuasaan dalam memperebutkan jabatan amir Makkah. Al-Sufri (2001) bahkan menegaskan bahwa ia mendapati pedang yang serupa dengan Pedang Si Bongkok di Mesir, dalam lawatannya ke negeri piramid itu. 

Sebagai orang yang pernah menjadi amir Makkah, tidak mengherankan jika Sultan Sharif Ali kuat dalam beribadah dan gigih memperjuangkan pengembangan agama Islam di Brunei. Menurut Al-Sufri (1992; 2000), selain kuat beribadah, Sultan Sharif Ali juga mempunyai berkat, sehingga beliau kemudian masyhur dengan nama “Sultan Berkat”. Perjuangan beliau dalam menyebarkan dan mengembangkan agama Islam tak lain karena penduduk Brunei kala itu belum memahami dengan benar ajaran agama Islam. Kendati agama Islam telah ada semenjak abad ke-9, namun masih banyak pengaruh Hindu-Buddha dalam perilaku keseharian masyarakat. Berkat kegigihan beliau itulah Islam kemudian berjaya dan mengakar dalam sanubari penduduk Brunei di masa pemerintahannya dan masa-masa selanjutnya. Beliau telah menorehkan banyak jasa serta mewariskan beberapa peninggalan benda-benda bersejarah bagi rakyat Brunei.

Beberapa peninggalan bersejarah yang dimaksud di antaranya ialah bangunan masjid bertingkat tiga yang terletak di Kampong Sengkurong, kira-kira 16 km dari Bandar Seri Begawan. Selain itu, beliau juga membangun Kota Batu, yang sengaja dibuat guna memperbaiki strategi pertahanan negara. Kota tersebut dibangun dengan cara yang unik, yaitu dengan cara menenggelamkan 40 perahu berisi batu, di antara Pulau Chermin dan Pulau Keingaran (Al-Sufri, 1992; 2000). Karena itulah, maka kota tersebut kemudian dikenal dengan nama Kota Batu, kota bersejarah bagi Brunei Darussalam.

Selain meninggalkan benda-benda yang bersejarah bagi negeri itu, Sultan Sharif Ali juga meninggalkan peradaban Islam yang agung sebagaimana tercermin pada sikap dan corak kepemimpinan beliau yang adil dan teratur dengan berasaskan hukum Islam. Sejak saat itu, Kerajaan Brunei menjadi negeri yang aman dan sentosa. Itulah awal mula Brunei mendapat sebutan ”Darussalam”, yang berarti negeri yang aman, sehingga pada masa ini kita lebih mengenal negeri itu dengan nama Brunei Darussalam.

Jasa-jasa beliau di atas terpahat abadi di atas Batu Tarsilah yang menyebutkan, …Maka Sharif Ali itulah kerajaan dinamakan ia Paduka Seri Sultan Berkat yang mengeraskan syariat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berbuat masjid dan segala rakyat Cina berbuat Kota Batu. Tuan Sharif Ali itu pancir salasilah daripada Amirul Mu‘minin Sayidina Hasan cucu Rasulullah (Al-Sufri, 2001).

Torehan jasa Sultan Sharif Ali bagi negeri Brunei seakan tak ada habisnya. Guna mengenang jasa beliau, maka Sultan Hassanal Bolkiah, Sultan Brunei saat ini, mencetuskan pembangunan masjid besar yang diberi nama ‘Masjid Sultan Sharif Ali‘. Masjid tersebut terletak di Kampong Sengkurong berjarak sekitar 16 km dari Bandar Seri Begawan. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 4 hektar dan diresmikan pada Februari 1986. Tak hanya itu, pada 1 Januari 2007, didirikan pula sebuah Universitas Islam yang bernama Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), yang dipelopori dan disahkan oleh Sultan Hassanal Bolkiah (Anwar, 2007). Pendirian bangunan-bangunan yang memakai nama Sultan Sharif Ali, tak lain adalah untuk mengenang kebesaran namanya dan jasa-jasanya semasa memerintah Kerajaan Brunei.


2. Lokasi

Makam Sultan Sharif Ali terletak di perkuburan Islam di Kota Batu, Bandar Seri Begawan. Lokasi makam ini tidak jauh dari musium Brunei serta makam Sultan Bolkiah, Sultan Brunei kelima.


3. Deskripsi Makam

Makam Sultan Sharif Ali bertarikh 836 Hijriah bertepatan dengan 1432 M. Di batu nisan yang bertuliskan huruf Arab Melayu itu tertulis:

Ya Allah

Dari Hijrah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Delapan Ratus Tiga Puluh Enam Tahun dalam bulan Jamadilawal malam Khamis waktu Isya‘ di hari Ali berpindah dari dunia ke akhirat, wassalam bil-khair.

Batu nisan tersebut ternyata tidak menuliskan nama beliau secara lengkap, melainkan hanya nama Ali saja. Menurut tradisi lisan, hal itu disebabkan Sultan Sharif Ali tidak mau membawa-bawa gelar keduniawian. Selain itu, beliau juga pernah mengatakan bahwa pengangkatan dirinya sebagai raja adalah semata-mata demi melaksanakan kewajiban menjalankan perintah Tuhan. Boleh jadi, ketiadaan nama Sultan memang sengaja diwasiatkan beliau sebelum mangkat.

Sementara itu, tidak adanya nama Sharif juga mengisyaratkan dan membuktikan bahwa beliau benar-benar tidak menginginkan status sosialnya dibawa ke alam baka. Istilah ”sharif” atau ”syarif” dalam terminologi Arab adalah ”yang terhormat” atau ”yang amat mulia”. Dengan demikian, kata sharif di depan nama Ali bisa jadi bukan nama panjang dari Sultan Sharif Ali, melainkan hanya gelar beliau semasa menjadi amir Makkah. Sehingga, Sultan Sharif Ali sesungguhnya hanya bernama ”Ali” saja, dan itulah yang beliau kehendaki untuk dicatat di nisannya.


Demi merawat nisan dan menjaga makam Sultan Sharif Ali, telah dilakukan beberapa perombakan. Perombakan dalam skala kecil yang dilakukan di antaranya ialah mengganti nisan beliau. Nisan Sultan Sharif Ali pada mulanya dibuat dari kayu bulian diganti dengan batu nisan. Tidak diketahui kapan digantinya kayu nisan tersebut menjadi batu nisan. Yang pasti, pada tahun 1951, Awang Haji Bakir dan beberapa temannya menemukan kayu nisan yang bertuliskan nama dan tulisan yang serupa dengan batu nisan baginda Sultan, di belakang rumahnya (Al-Sufri, 2001). Penggantian itu dilakukan agar nisan beliau tidak rusak atau lapuk dimakan rayap, sehingga dipilihlah nisan batu yang lebih tahan lama.


Selain itu, pernah juga dilakukan perombakan makam dalam skala yang lebih besar. Makam Sultan Sharif Ali yang tadinya hanya terdiri atas gundukan tanah dan batu nisan berukir indah dengan tulisan Arab Melayu, kini berubah total menjadi bangunan megah bak istana raja. Sejauh ini, belum diperoleh data kapan makam tersebut direnovasi. Saat ini, di atas makam baginda telah berdiri sebuah bangunan dengan gaya arsitektur Arab dilengkapi dengan kubah masjid dan pagar yang mengelilinginya. Untuk menuju makam ini, dibuatkan jalan setapak yang dilapisi ubin berwarna putih, sehingga semakin mempercantik area makam itu.

(Nanum Sofia/Sej/04/07/08).

Sumber:

  • Al-Sufri, Haji Awang Mohd. Jamil. 2001. Tarsilah Brunei: Sejarah Awal dan Perkembangan Islam. Bandar Seri Begawan, Brunei: Pusat Sejarah Brunei, Kementrian Kebudayaan, Belia dan Sukan.
  • _______, 2000. Latar Belakang Sejarah Brunei. Bandar Seri Begawan, Brunei: Pusat Sejarah Brunei, Kementrian Kebudayaan, Belia dan Sukan.
  • _______, dkk. 1992. Daulat. Bandar Seri Begawan, Brunei: Jabatan Pusat Sejarah, Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan.
  • Anwar, M.K., 2007. The Majestic 40 Years. www.sultanate.com/news_server/2007/5_oct_3.html, diakses 26 Juli 2008 pukul. 14.32 WIB.
  • Anonym. 2008. An Overview of The Establishement of Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), www.unissa.edu.bn/index.php?option=com. Diakses tanggal 25 Juli pukul 12.30.
  • Jex Lim. e-Borneo.com. 1999. Trekking back in time Brunei history. www.e-borneo.com diakses tgl 25 Juli 2008. Pukul 10.29 WIB.
  • Pusat Sejarah Brunei. Tanpa tahun. Info Sejarah: Peristiwa dan Tempat Bersejarah. The Government of Brunei Darussalam Official website: www.history-centre.gov.bn/peristiwa.htm. diakses 22 Juli 2008 pukul 12.55 WIB.
  • Pusat Sejarah Brunei. 2006. Info Sejarah: Sultan-sultan Brunei. The Government of Brunei Darussalam Official website: www.history-centre.gov.bn /sultanbrunei.htm. Diakses: 22 Juli 2008 pukul 13.00 WIB.

Kredit foto :

  • Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
  • Pusat Sejarah Brunei
  • Al-Sufri, Haji Awang Mohd., 2000. Latar Belakang Sejarah Brunei. Bandar Seri Begawan, Brunei: Pusat Sejarah Brunei, Kementrian Kebudayaan, Belia dan Sukan.

____________

Informasi lain tentang Makam Sultan Sharif Ali bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 36.946 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password