Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.507
Hari ini : 58.309
Kemarin : 60.495
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.985.732
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Jamik Sultan Nata Sintang


1. Sejarah Pembangunan

Mulanya, Kerajaan Sintang adalah kerajaan bercorak Hindu yang didirikan oleh Demong Irawan pada abad ke-13 (+ 1262 M). Namun, setelah penetrasi Islam makin menguat dan dipeluk oleh raja dan kerabat kerajaan, tepatnya pada masa pemerintahan Pangeran Agung di abad ke-17, maka corak pemerintahan Kerajaan Sintang beralih menjadi Islam.

Masuknya agama Islam ke dalam lingkungan Kerajaan Sintang dilakukan oleh dua mubaligh (penyebar agama Islam) dari luar Sintang yang bernama Muhammad Saman (berasal dari Banjarmasin) dan Enci‘ Samad yang berasal dari Serawak, Malaysia. Oleh karena tutur katanya yang bijak dan ajarannya yang dianggap baik, maka kedua mubaligh ini diterima dengan baik di lingkungan istana. Setelah cukup lama menetap, berangsur-angsur kerabat raja dan masyarakat sekitar Istana mulai memeluk Islam, termasuk Raja Sintang yakni Pangeran Agung.


Setelah Pangeran Agung wafat, pucuk pemerintahan kemudian dipegang oleh Pangeran Tunggal. Pada masa Pangeran Tunggal ini kebutuhan akan bangunan masjid terasa makin mendesak. Hal ini tak lepas dari meningkatnya jumlah penganut agama Islam di sekitar istana. Pangeran Tunggal lalu mendirikan sebuah masjid sederhana dengan kapasitas sekitar 50 orang. Masjid inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Masjid Jamik Sultan Nata Sintang.

Pengaruh agama Islam makin menguat setelah Sultan Nata Muhammad Syamsuddin Sa‘adul Khairiwaddin naik tahta. Sultan Nata adalah raja pertama yang menggunakan gelar sultan serta menetapkan beberapa perubahan mendasar dalam Kerajaan Sintang, antara lain menetapkan Kerajaan Sintang sebagai kerajaan Islam, pimpinan kerajaan bergelar sultan, menyusun undang-undang kerajaan, mendirikan masjid, serta membangun istana kerajaan.


Dari konstruksi awal masjid yang dibangun oleh Pangeran Tunggal, Sultan Nata kemudian melakukan perbaikan dan perluasan masjid pada tahun 1672 M. Konstruksi masjid pada masa Sultan Nata inilah yang masih bertahan hingga sekarang. Oleh sebab itu, sesuai nama pendirinya, masjid ini kemudian diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Sintang dengan nama Masjid Jamik Sultan Nata Sintang pada tahun 1987. Masjid Jamik Sultan Nata ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Sintang.

2. Lokasi

Masjid Jamik Sultan Nata Sintang terletak di kompleks Istana Sintang di Kampung Kapuas Kiri Hilir, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

3. Luas

Luas bangunan Masjid Jamik Sultan Nata sekitar 576 m2.

4. Arsitektur

Masjid Sultan Nata memiliki corak arsitektur rumah panggung khas pesisir sungai. Konstruksi bangunan masjid seluruhnya terbuat dari kayu, mulai dari pondasi, rangka bangunan, balok gelegar, penutup atap, dan papan lantai semuanya terbuat dari kayu belian. Masjid ini sebetulnya telah mengalami beberapa kali renovasi, namun delapan tiang penyangga yang terbuat dari kayu belian tetap dipertahankan sesuai aslinya hingga saat ini. Tiang berupa kayu silinder (dengan diamater sekitar 50 cm) setinggi lebih dari 10 meter tersebut tetap berdiri kokoh meski usianya telah melampaui tiga abad.


Bangunan masjid  ini memiliki tiga susun atap. Atap pertama dan kedua berbentuk limas, sedangkan atap ketiga berbentuk kerucut bersegi delapan. Bentuk atap kerucut ini juga dipakai pada atap dua menara kembar yang berada di samping kiri masjid. Dahulu, selain digunakan untuk mengumandangkan azan, dua menara ini juga berguna sebagai menara pandang ke arah sungai. Masjid ini memiliki dua pintu, satu pintu menghadap ke sungai, sementara pintu yang lain menghadap ke istana.


Tiap bagian di dalam masjid dibalut dengan cat warna putih dengan sedikit garis-garis hijau di beberapa bagian, seperti pada jendela, dasar tiang, serta dinding. Sebagai pemanis hiasan, korden penutup jendela dipilih yang berwarna kuning, warna khas Melayu. Sementara di pojok masjid, terdapat bedug berusia ratusan tahun yang terbuat dari sebatang pohon utuh.

5. Perencana

Masjid ini dibangun oleh Sultan Nata Muhammad Syamsuddin Sa‘adul Khairiwaddin. Arsitek bangunan tidak diketahui.

6. Renovasi

Masjid peninggalan Sultan Nata pernah direnovasi pada saat pemerintahan Sultan Abdurrasyid (sekitar tahun 1790-an) karena dianggap mulai rapuh dan kurang memadai. Masjid tersebut kemudian dibongkar dan dibangun dengan konstruksi yang lebih luas, sehingga dapat menampung jamaah sekitar 200 orang. Hanya saja, renovasi ini tetap mempertahankan konstruksi delapan tiang utama bekas masjid Sultan Nata.

Renovasi kedua dilakukan oleh Sultan Pangeran Adipati Muhammad Djamaluddin pada tahun 1822. Renovasi ketiga ini dipimpin oleh Penghulu Kerajaan, yaitu Penghulu Haji Muhammad Arsyad. Masjid hasil renovasi Pangeran Adipati Muhammad Djamaluddin cukup kuat, sehingga pada masa Sultan Panembahan Abdurrasyid Kesuma Negara (1855), renovasi hanya dilakukan pada kubah masjid.

Selang sekitar 79 tahun kemudian, yakni tahun 1934, renovasi selanjutnya dilakukan oleh Sultan Raden Abdul Bachri Danu Perdana. Renovasi yang menghabiskan dana sumbangan masyarakat sekitar 4.000 gulden ini merupakan renovasi terakhir sebelum Indonesia Merdeka, yang hasilnya masih dapat disaksikan hingga sekarang.


Pada tahun 2000, pemerintah setempat melakukan renovasi dan pemugaran lingkungan sekitar masjid, yakni dengan cara melengkapi lingkungan masjid dengan taman rumput yang cukup luas dengan hiasan pohon-pohon palem yang rindang. Di bagian muka masjid juga dibangun jembatan penyeberangan dari kayu yang menghubungkan masjid dan istana yang dipisahkan oleh jalan beraspal. Sejak tahun itu pula, masjid ini ditetapkan sebagai situs cagar budaya Kabupaten Sintang.

(Lukman Solihin/Sej/02/01-09)

Sumber:

  • Wibowo, Taufik (tanpa tahun), “Kesultanan Sintang”, dalam Istana-istana di Kalimantan Barat, naskah tidak diterbitkan.
  • Syahzaman dan Hasanuddin (2003), Sintang dalam Lintasan Sejarah, Pontianak: Romeo Grafika.
  • Pengurus Masjid Jamik Sultan Nata (1990), Sejarah Pendirian Masjid Jamik Sultan Nata Sintang, naskah tidak diterbitkan.

Kredit foto: Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (fotografer: Aam Ito Tistomo)

____________

Informasi lain tentang Masjid Jamik Sultan Nata Sintang bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 13.414 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password