Kamis, 23 Februari 2017   |   Jum'ah, 26 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 1.589
Hari ini : 4.963
Kemarin : 84.734
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.785.632
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Burung Bayan dan Si Penggetah

a:3:{s:3:

“Niat hati nak getah bayan, sudah tergetah burung serindit,” artinya, hasil yang diperoleh jauh dari yang diharapkan. Dalam pepatah ini, burung bayan digambarkan memiliki keistimewaan dari jenis burung lainnya. Burung bayan (eclectus roratus) adalah salah satu jenis burung paruh-bengkok berukuran sedang, dengan panjang sekitar 43 cm. Keistimewaan yang dimiliki burung ini adalah bulunya sangat indah, suaranya sangat merdu, dan pandai berbicara. Selain itu, burung ini juga memiliki keistimewaan yang jauh lebih bernilai dibandingkan dengan keistimewaan lainnya seperti yang disebutkan di atas. Konon, di daerah Riau, Indonesia, ada seekor burung bayan yang sangat cerdik dan sakti, kotorannya bisa berubah menjadi emas. Burung bayan itu adalah milik seorang laki-laki miskin, yang akrab di panggil si Penggetah. Karena kesaktiannya, maka Raja Helat yang sedang memerintah saat itu berkinginan untuk memiliki burung bayan yang sakti itu. Berhasilkah Raja Helat memiliki burung bayan itu? Bersediakah burung bayan itu dibawa oleh sang Raja ke istana? Lalu, bagaimana nasib si Penggetah? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam Burung Bayan dan Si Penggetah.

Alkisah, di pinggir hutan belantara, terdapatlah sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga miskin. Karena kerja si Miskin setiap hari adalah menggetah burung, maka penduduk sekitar memanggilnya si Penggetah.

Burung-burung hasil getahannya tersebut ia jual di kampung tetangga, tak jauh dari rumahnya. Karena si Penggetah mengetahui Burung Bayan memiliki bulu dan suara yang indah dan pandai berbicara, maka ia berkeinginan untuk menggetah Burung Bayan.

Suatu hari, setelah si Miskin mempersiapkan segala keperluan untuk menggetah, berangkatlah ia ke dalam hutan belantara. Tak lama kemudian, ia pun menemukan sebuah pohon yang menurutnya sangat strategis untuk memasang getah. Setelah memasang getah di ranting kering pada pohon itu, ia kemudian menunggu di bawah pohon. Sambil berharap burung Bayan yang diidamkannya terkena getah, ia mengucapkan janji dalam hati, “Jika aku berhasil mendapatkan Burung Bayan, maka aku akan memberinya sangkar emas.”

Benarlah, ketika siang menjelang, burung Bayan terperangkap pada getah yang telah dilekatkan si Penggetah di ranting pohon. Burung itu dibersihkan si Penggetah dengan minyak, hingga bulunya nampak indah mengkilat. Lalu diambilnya sangkar kayu yang telah disiapkannya. Sambil memasukkan burung itu ke dalam sangkar, si Penggetah berkata, “Burung Bayan, sebenarnya aku berjanji apabila berhasil mendapatkanmu, akan aku beri sangkar emas. Tapi, tahulah kau, jangankan emas, uang pun aku tak punya, karena aku sangat miskin,” kata si Penggetah dengan nada iba.

Tiba-tiba burung Bayan itu menjawab, “Kalau kau memang menginginkan emas, tampunglah kotoranku. Kotoran itu nantinya akan menjadi emas.” Mendengar jawaban Burung Bayan, si Penggentah tersentak kaget. “Ah, yang benar saja, Bayan! Kalau begitu, aku akan mengumpulkan semua kotoranmu,” sahut si Penggetah dengan semangatnya. Setelah beberapa hari si Penggetah mengumpulkan kotoran, maka berubahlah kotoran itu menjadi butiran emas. Si Penggetah lalu menjual emas itu dan membelikan sangkar emas untuk si Bayan.

Kesaktian Burung Bayan itu terdengar oleh seluruh penduduk negeri. Hingga suatu hari, kabar itu sampai ke telinga Raja Helat, seorang raja yang tamak. Maka diperintahnyalah seorang utusan istana bernama Bujang Selamat untuk pergi ke rumah si Penggetah.

Alangkah terkejutnya si Penggetah melihat utusan istana datang ke gubuk reyotnya. “Waduh, gawat! Ada apa utusan istana datang ke sini. Jangan-jangan si Bayan mau dibawa ke istana,” gumam si Penggetah dengan cemasnya. Melihat raut wajah si Penggetah yang pucat, Bujang Selamat kemudian menenangkan hati si Penggetah dan berkata, “Janganlah engkau takut, Penggetah, aku datang hanya untuk menyampaikan titah raja.” Dengan hati-hati, si Penggetah bertanya, “Titah apa yang hendak tuan sampaikan kepadaku?” Bujang Selamat kemudian menjelaskan maksud kedatangannya, “Baginda Raja tahu engkau memiliki burung yang pandai bicara dan kotorannya bisa menjadi emas. Untuk itulah aku ke sini, karena Baginda Raja ingin memilikinya.”

Mendengar penjelasan Bujang Selamat, si Penggetah menjadi bingung. Belum sempat dia menjawab, Bujang Selamat berkata lagi, ”kau jangan khawatir, karena kami akan menggantinya dengan uang atau barang yang kau inginkan. Tapi kalau kau menolaknya, maka kami akan mengambilnya dengan paksa,” lanjut Bujang Selamat.

Si Penggentah hanya diam mendengar penjelasan Bujang Selamat. Dia berpikir bagaimana cara yang baik untuk menolak, karena si Penggetah tahu benar sifat Raja Helat yang terkenal kejam itu.

Maka dengan hati-hati, dia berkata kepada Bujang Selamat, “Begini saja Bujang Selamat, supaya adil, bagaimana kalau kita tanyakan kepada si Bayan, apakah dia mau dibawa ke istana Raja Helat?” bujuk si Penggetah.

Setelah menimbang-nimbang, Bujang Selamat setuju dengan tawaran si Penggetah. Lalu ditanyalah si Bayan: “Hai Bayan, engkau telah mendengar sendiri pembicaraan kami, maka maukah engkau dibawa ke istana Raja Helat?” tanya si Penggetah. Burung Bayan melihat kepada Bujang Selamat, lalu dengan tegas menjawab: “Hai Bujang Selamat, aku mau bertuankan Raja Helat asalkan dia mau memenuhi syaratku,” kata si Bayan. “Apa syaratnya?” tanya Bujang Selamat. “Syaratnya, sebelum Raja menjadi tuanku, maka Raja Helat harus mendengarkan ceritaku. Sebelum ceritaku selesai, aku tidak boleh berpindah tuan,” tegas Si Bayan. Syarat yang diberikan si Bayan tidaklah sulit. Tanpa berpikir panjang Bujang Selamat pun setuju. “Kalau begitu, baiklah,” kata Bujang Selamat.

Setelah sepakat, mereka pun membawa si Bayan ke istana. Sesampainya di istana, si Bayan mulai bercerita di hadapan Raja Helat dan keluarga istana. Cerita-cerita yang dirangkainya sangat menarik, sehingga Raja Helat terpesona dan selalu meminta Si Bayan terus bercerita. Karena Si Bayan ini adalah burung yang cerdik, maka untuk setiap cerita yang diminta raja, ia selalu meminta syaratnya dipenuhi. Selain itu, si Bayan juga mengajukan permintaan kepada Raja Helat. Untuk setiap cerita yang diberikannya, Raja harus mengganti dengan segantang (setara dengan 4 kg) emas murni serta makanan dan minuman. Raja Helat pun tidak keberatan, semua yang diminta Si Bayan selalu dipenuhi saat itu juga. Si Bayan lalu memberikan emas, makanan, dan minuman tersebut kepada Si Penggetah.

Si Bayan yang cerdik itu selalu membuat cerita yang dituturkannya panjang dan bersambung, maka tanpa terasa sudah berminggu-minggu ia bercerita di hadapan Raja Helat, keluarga istana, dan rakyat negeri. Emas, makanan, dan minuman yang diterima si Penggetah pun semakin banyak. Sebagian dia simpan, dan sebagian lainnya ia bagikan kepada rakyat yang miskin. Begitulah seterusnya setiap hari, sampai gudang kerajaan tempat menyimpan emas, makanan, dan minuman menjadi kosong.

Sekarang, raja yang kejam itu sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Akibatnya, rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya. Kekayaan yang seharusnya dibagikan kepada rakyatnya yang miskin, tak pernah dilakukannya. Selama ini Raja Helat menimbun kekayaan untuk dinikmati sendiri bersama keluarganya.

Akhirnya Raja Helat berhasil ditumbangkan dan diturunkan tahtanya oleh si Burung Bayan, si Penggetah, dan rakyat negeri. Si Penggetah kemudian diangkat oleh seluruh rakyat sebagai Raja, sedangkan si Bayan diangkat menjadi penasehat raja. Sejak negeri itu diperintah oleh si Penggetah, rakyatnya hidup damai, makmur dan sejahtera.

Dari cerita di atas, dapat dipetik hikmahnya bahwa raja yang tamak dan tidak menyejahterakan rakyatnya, suatu hari akan ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri. Raja yang adil dan bijaksana selalu dicintai dan didukung rakyatnya, sebagaimana pepatah Melayu: Raja Adil Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah. (SM/sas/14/07-07).

Sumber :

Diringkas dari Burung Bayan dan Si Penggetah. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2005.

Dibaca : 26.326 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password