Senin, 21 Agustus 2017   |   Tsulasa', 28 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 2.593
Hari ini : 19.340
Kemarin : 101.896
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.024.278
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Ketobong Keramat

a:3:{s:3:

Ketobong atau yang sering juga disebut dengan kendang (gendang) adalah salah satu alat musik tradisional yang terdapat di Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau, Indonesia. Saat ini, alat musik tersebut sudah jarang ditemukan, karena bahan baku pembuatannya semakin langka. Bahan dari alat musik tradisional ini adalah kulit kayu khusus, yang hanya bisa diperoleh di daerah Sorek, Kabupaten Pelalawan. Kulit kayu tersebut semakin sulit diperoleh akibat penebangan hutan secara besar-besaran di daerah itu. Alat musik ini merupakan warisan budaya Melayu Riau yang sangat berharga dan perlu dipelihara dan dikembangkan, karena ia memiliki fungsi dan nilai yang sangat penting bagi masyarakat setempat. Konon pada zaman dahulu, ketobong tidak hanya berfungsi sebagai alat hiburan, melainkan juga berfungsi untuk menyembuhkan orang sakit. Para bomo  sering menggunakan ketobong sebagai alat untuk mengobati orang sakit. Pada saat itu, ketobong yang mereka gunakan bukanlah ketobong sembarangan, melainkan ketobong yang memiliki nilai-nilai magis yaitu kekuatan sakti.

Di daerah Pelalawan, tepatnya di hulu Sungai Selempayan, pernah terjadi suatu peristiwa ajaib yang dikenal dengan Ketobong Keramat. Dikatakan ketobong keramat, karena jika terjadi hujan panas terdengar suara ketobong di sungai itu. Oleh karena itu, mereka yang tinggal di sekitar daerah itu menganggap bahwa Sungai Selempayan termasuk sungai yang berpuaka (berhantu). Mereka memercayai bahwa sungai itu dijaga oleh orang bunian, yang bernama Bomo Sakti. Sekali-sekali ia menjelma menjadi manusia. Keberadaan orang hunian di Sungai Selempayan itu dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang sampai saat ini masih hidup di kalangan masyarakat Pelalawan yang dikenal dengan cerita Ketobong Keramat. Dalam cerita ini dikisahkan seorang bomo yang hidup miskin dan suka menolong, yang bernama Bomo Sakti. Meskipun telah banyak menyembuhkan orang sakit, ia tidak pernah meminta bayaran sedikit pun. Suatu hari, berita kepandaiannya mengobati orang sakit sampai ke telinga raja Pelalawan yang memerintah saat itu. Maka diangkatlah ia menjadi bomo resmi kerajaan. Sebagai seorang bomo, ia hanya boleh mengobati orang yang sakit. Ia tidak boleh mengobati orang yang sehat, apalagi menghidupkan orang yang sudah meninggal dunia. Jika ia melanggar larangan dari gurunya itu, maka hidupnya akan teraniaya. Suatu ketika, Bomo Sakti diminta oleh Baginda Raja untuk menghidupkan kembali putrinya yang meninggal dunia. Bersediakah Bomo Sakti memenuhi titah Baginda Raja? Lalu, apa yang akan terjadi pada Bomo Sakti jika ia melanggar larangan gurunya itu? Ikuti kisahnya dalam cerita Ketobong Keramat berikut ini.

* * *

Alkisah pada zaman dahulu kala, di negeri Pelalawan berkuasalah seorang raja yang dikenal sebagai Raja Pelalawan. Penduduknya hidup tenteram, sejahtera dan rukun. Namun, di antara penduduk tersebut, terdapat seorang laki-laki setengah baya yang hidup sangat miskin. Meskipun miskin, ia gemar menolong orang lain. Setiap hari ia pergi menajuh di Sungai Selempaya yang mengalir di negeri itu. Dari hasil menangkap ikan itulah ia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.

Selain menangkap ikan, si Miskin itu memiliki kepandaian mengobati orang sakit. Kepandaiannya itu ia gunakan untuk menolong setiap orang yang datang kepadanya. Karena ia suka menolong orang sakit, maka ia pun dipanggil Bomo Sakti (Tabib Sakti). Ia sangat pandai mengambil hati masyarakat. Jika ada orang membutuhkan pertolongannya, ia tidak pernah menolak. Selain itu, ia juga tidak pernah meminta bayaran atas bantuan yang telah diberikannya. Sifatnya yang rendah hati itu, membuat masyarakat di negeri Pelalawan senang kepadanya. Berbeda dengan bomo-bomo lainnya, mereka memiliki sifat angkuh. Untuk setiap obat yang diberikan kepada orang sakit, ia selalu meminta bayaran yang sangat tinggi dan selalu menolak apabila dimintai pertolongannya oleh orang miskin.

Suatu hari, kepandaian Bomo Sakti mengobati orang sakit itu terdengar oleh Raja Pelalawan. Maka diutuslah dua orang pengawal istana untuk menjemput Bomo Sakti untuk dibawa ke istana. Sesampainya di hadapan raja, Bomo Sakti langsung memberi hormat, “Ampun Baginda Raja! Ada apa gerangan Baginda memanggil saya menghadap?” tanya Bomo Sakti penasaran. “Wahai Bomo Sakti! Aku sudah mendengar tentang kepandaian kamu mengobati orang sakit. Bersediakah kamu aku angkat menjadi bomo di istana ini?” tanya Baginda Raja kembali. “Ampun beribu ampun, Baginda! Saya ini hanya orang miskin dan bodoh. Tuhanlah yang menyembuhkan mereka, saya hanya berusaha melakukannya,” jawab Bomo Sakti merendah. Baginda Raja pun mengerti kalau Bomo Sakti menerima tawarannya itu dengan bahasa yang sangat halus. Akhirnya, Bomo Sakti pun diangkat menjadi bomo resmi di Kerajaan Pelalawan. Sejak itu, Bomo Sakti semakin terkenal hingga ke berbagai negeri. Kehidupan keluarganya berangsur-angsur menjadi makmur. Meskipun namanya sudah terkenal di mana-mana, Bomo Sakti tetap bersikap rendah hati. Ia masih mengerjakan pekerjaannya yang dulu yaitu pergi menangkap ikan di sungai Selempaya.

Suatu waktu, Baginda Raja memanggil Bomo Sakti menghadap kepadanya. Setelah Bomo Sakti menghadap, Baginda Raja pun berkata, “Wahai Bomo Sakti, sudah lama aku menginginkan anak. Aku sudah mendatangkan bomo dari berbagai negeri, namun belum ada yang berhasil. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku, aku berharap kamu mau mengobati permaisuriku agar kami bisa mendapatkan keturunan,” pinta Raja Pelalawan dengan penuh harapan. Karena permintaan raja, Bomo Sakti tidak bisa menolak. “Hamba akan berusaha, Baginda! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan keinginan Baginda,” jawab Bomo Sakti dengan rendah hati.

Setelah itu, Bomo Sakti pun mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan takdir Tuhan Yang Mahakuasa, usahanya berhasil. Beberapa hari setelah diobati, permaisuri pun mengandung. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, genaplah 9 bulan kandungan permaisuri. Maka lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Sejak itu, semakin masyhurlah nama bomo yang sakti itu. Raja dan permaisuri serta seluruh penduduk negeri Pelalawan sangat senang dan gembira menyambut kelahiran sang Putri kecil yang cantik itu. Akan tetapi, Bomo Sakti yang telah berhasil mengobati sang permaisuri justru merasa menyesal, karena telah melanggar larangan yang pernah ditetapkan oleh gurunya. Larangan tersebut adalah ia tidak dibenarkan mengobati orang yang sehat dan orang yang sudah mati. Jika ia melanggar larangan itu, hidupnya akan teraniaya. Jika berladang, padinya takkan berisi. Jika mencari ikan, takkan dapat. Jika berlayar, angin berhenti. Jika beternak, takkan berkembang biak. Oleh karena itu, ia berniat untuk berhenti menjadi bomo. Akan tetapi, jika ia berhenti begitu saja, tentu Baginda Raja akan murka kepadanya. Ia pun kemudian mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa berhenti menjadi bomo tanpa membuat Baginda Raja merasa kecewa.

Setelah beberapa lama berpikir, Bomo Sakti pun menemukan cara yang baik. Keesokan harinya, ia mengutarakan isi hatinya kepada Raja Pelalawan. “Ampun, Baginda Raja! Bukannya hamba tidak hormat terhadap titah Baginda. Tadi malam hamba bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Ia menyuruh hamba  berhenti menjadi bomo. Jika hamba tidak menuruti perkataan kakek itu, maka keluarga hamba akan teraniaya,” cerita Bomo Sakti pada Raja. Mendengar cerita Bomo Sakti, Baginda Raja bisa memakluminya. “Baiklah, Bomo Sakti. Aku rela kamu berhenti menjadi bomo kerajaan ini,” jawab Baginda Raja tersenyum. Sejak saat itu, Bomo Sakti resmi berhenti menjadi bomo. Penduduk negeri pun tidak lagi datang untuk meminta bantuannya. Bomo Sakti kembali menjalani hidupnya sebagai penajuh untuk menghidupi keluarganya.

Seiring dengan berjalannya waktu, sang Putri pun sudah berumur lima belas tahun. Sebagai anak satu-satunya, sang Putri sangat disayangi oleh Baginda Raja dan permaisuri. Ke mana pun ia pergi selalu dikawal oleh puluhan dayang-dayang. Suatu hari, sang Putri jatuh sakit keras. Penyakitnya semakin hari semakin parah. Sudah puluhan bomo didatangkan dari berbagai negeri, namun belum ada seorang pun yang bisa menyembuhkan sang Putri. Baginda raja dan permaisuri semakin cemas melihat kondisi putrinya yang semakin lemas. Dalam suasana cemas itu, tiba-tiba Baginda Raja teringat dengan Bomo Sakti yang pernah dilantiknya sebagai bomo resmi kerajaan lima belas tahun yang lalu. Maka diperintahkannya beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti itu. Sudah berhari-hari pengawal istana mencari Bomo Sakti, namun tak kunjung mereka temukan. Karena terlalu lama menahan sakit, akhirnya dengan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, meninggallah Putri Kerajaan Pelalawan tersebut. Tersebarlah berita kematian sang Putri hingga ke seluruh pelosok Negeri Pelalawan. Baginda Raja sangat sedih dan menyesal, karena Bomo Sakti yang sangat diharapkan untuk menyembuhkan putrinya tidak pernah datang.

Melihat putri tunggalnya telah meninggal, Baginda Raja segera mengutus beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti yang selama ini belum berhasil ditemukannya. Malam itu juga dengan susah payah pengawal istana berhasil menemukan Bomo Sakti di sebuah pondok dekat sungai Selempaya. Karena Baginda Raja yang memanggil, maka berangkatlah Bomo Sakti ke istana. Sesampainya di istana, Raja berkata, “Hai Bomo Sakti, hidupkanlah kembali putriku ini. Buktikanlah kesetiaanmu sekali lagi kepadaku. Jika kamu menolak permintaanku, maka kamu dan keluargamu akan aku pancung di depan orang ramai.” Mendengar ancaman Baginda Raja, Bomo Sakti pun menjadi ketakutan. Demi keselamatannya dan keluarganya, terpaksalah ia menuruti kehendak rajanya. Saat itu juga Bomo Sakti segera mempersiapkan perlengkapan untuk upacara pengobatan yang belum pernah dilakukannya.

Bomo Sakti mulai menyalakan puluhan lilin dan memasangnya di seluruh sudut istana. Kemudian membakar kemenyan hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan. Semua yang hadir di tempat itu harus diam di tempat masing-masing. Sambil membaca doa, Bomo Sakti menepungtawari sang Putri yang sudah meninggal itu. Setelah itu, ia pun memukul ketobong sambil mengucapkan doa. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat, setiap kali ia memukul ketobongnya tampak ketobong itu seperti berapi-api. Setelah hampir dua jam lamanya ia memukul ketobongnya sambil membaca doa, selubung yang menutupi sang Putri tiba-tiba bergerak. Semua orang yang melihat kejadian itu sangat kagum bercampur rasa takut. Tak lama, terdengar sang Putri bersin. Kemudian sang Putri duduk, seolah-olah baru bangun tidur. Akhirnya, sang Putri pun hidup kembali.

Baginda Raja dan permaisuri sangat senang atas hidupnya kembali putri tunggalnya itu. Sebaliknya, Bomo Sakti merasa sangat menyesal menghidupkan kembali sang Putri. Ia pun segera kembali ke perahunya yang tertambat di tepi sungai. Sambil mengayuh perahunya meninggalkan Kerajaan Pelalawan, Bomo Sakti menangis karena telah melanggar larangan gurunya yang kedua kalinya. Tengah mengayuh perahunya, ia melihat pengawal istana sedang mengejarnya di belakang. Tak lama, ia mendengar suara teriakan dari arah perahu itu. “Hai Bomo Sakti! Tungguuu…tungguuu…! Baginda Raja memanggilmu kembali ke istana!” teriak seorang pengawal. Bomo Sakti terus saja mengayuh perahunya. Ia tidak menghiraukan suara teriakan itu.

Setelah sampai di muara sungai, perahu Bomo Sakti tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian, perahu pengawal pun menyusul dan mendekati perahu Bomo Sakti. Sebelum turun dari perahunya, Bomo Sakti berpesan kepada pengawal istana yang mengejarnya. “Hai Pengawal, sampaikan kepada rajamu, perintahnya telah saya laksanakan, hingga saya harus melanggar perintah guru saya. Saya bersumpah tidak akan menginjak bumi Pelalawan ini selagai saya masih hidup,” tegas Bomo Sakti kepada pengawal. Setelah itu, ketobong yang digunakan untuk menyembuhkan sang Putri dibuangnya ke dalam sungai. Ketika ketobong itu dibuang, tiba-tiba air sungai menjadi berombak. Pada saat itu pula, Bomo Sakti melompat ke darat sambil berteriak, “Jika kalian sampai di Pelalawan, sampaikan salamku kepada istri dan anak-anakku. Katakan kepadanya, jika mereka ingin bertemu denganku, suruh mereka datang ke Selempaya setiap hari Jumat pagi.” Setelah ia berpesan, tiba-tiba ombak kembali menjadi tenang. Namun, dari dalam air terdengar bunyi ketobong seperti dipukul orang. Bomo Sakti pun menghilang dan tak pernah kembali.

Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat mempercayai bahwa Bomo Sakti masih hidup sebagai orang hunian (makhluk halus). Masyarakat yang menajuh di Sungai Selempaya sering melihatnya dalam wujud seperti manusia biasa. Konon, hingga kini apabila terjadi hujan panas, sering terdengar bunyi ketobong di sungai itu.

* * *

Cerita di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang memiliki nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman. Nilai-nilai moral tersebut di antaranya sifat suka menolong, ikhlas, rendah hati dan rela berkorban,. Sifat-sifat tersebut tercermin pada perilaku Bomo Sakti. Ia gemar menolong orang yang membutuhkan pertolongannya, meskipun tidak diminta. Setiap orang yang ditolongnya, tidak pernah ia mintai bayaran sebagai imbalan atas bantuan yang ia berikan. Sifat kerendahan hatinya tergambar ketika orang-orang yang datang meminta bantuannya tidak pernah ditolaknya. Ia juga rela mengorbankan kepentingan keluarganya demi kepentingan rajanya. Selain sifat-sifat tersebut, cerita di atas juga mengandung sebuah nilai yang tidak baik untuk diteladani, yaitu sifat egois. Sifat ini tercermin pada perilaku Raja Pelalawan yang selalu memaksakan kehendaknya terhadap Bomo Sakti. Jika Bomo Sakti tidak melakukan permintaan sang Raja, ia dan keluarganya diancam akan dihukum pancung di depan khalayak ramai.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Sebagian besar manusia yang hidup di dunia ini lebih mementingkan dirinya sendiri dari para orang lain. Orang yang memiliki sifat seperti ini, biasanya tidak suka menolong orang lain. Mereka umumnya egois, kikir alias tidak dermawan. Jika mereka memiliki harta benda yang melimpah dan pengetahuan yang tinggi, mereka tidak mau membagikannya kepada orang yang membutuhkannya. Kita bisa berpedoman sifat Bomo Sakti, meskipun hidup miskin, ia tetap saja dermawan. Namun, bukanlah harta yang ia berikan, melainkan pengetahuan atau kepandaiannya mengobati. Karena sifat kedermawanan tersebut, sehingga ia mendapat imbalan yang banyak yaitu diangkat menjadi bomo istana. Sejak itu, kehidupan ekonomi keluarganya menjadi makmur.

Dalam ajaran agama Islam disebutkan bahwa barang siapa yang suka menolong orang lain dengan ikhlas, niscaya dia akan ditolong oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. (Hadis Riwayat Muslim).

Pesan yang disampaikan dalam hadis di atas sangatlah mulia. Oleh karena itu, pesan tersebut perlu dicamkan dalam hati dengan baik-baik. Allah SWT akan senantiasa menolong orang yang suka menolong orang lain. Gemarlah menolong orang lain, Allah pun berkenan menolong kita. Allah berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. al-Baqarah: 214).

Bagi orang Melayu, menolong sesama manusia adalah kewajiban. Mereka menolong dengan kesadaran bahwa orang lain adalah saudara, sahabat, atau kerabatnya. Adat bersaudara, adat bersahabat atau adat berkerabat mewajibkan orang Melayu untuk berbuat kebajikan secara ikhlas dan mengorbankan apa saja secara suka rela tanpa mengharap imbalan. Kata orang-orang tua Melayu, orang yang memiliki keikhlasan menolong orang lain, setiap pekerjaannya akan diridhoi oleh Allah SWT. Dengan sifat ikhlas dan rela berkorban untuk menolong orang lain, rasa kesetikawanan akan semakin tinggi, mengakar dan membuahkan persaudaraan sejati.

Sikap ikhlas dan rela berkorban ini, banyak digambarkan dalam beberapa untaian ungkapan orang Melayu sebagai berikut:

apa tanda Melayu sejati,
tulus ikhlas di dalam hati

apa tanda Melayu sejati,
rela berkorban sampai mati

apa tanda orang Melayu sejati,
menolong orang dengan berputih hati
membantu dengan merendah diri

wahai ananda permata bunda,
tulus dan ikhlas terhadap saudara
berkorban engkau karena lillah
supaya hidupmu diberkahi Allah

(SM/sas/21/8-07)

Menajuh                       : menangkap ikan

Bomo                            : tabib

Menepungtawari           : melakukan acara adat tepuk tepung tawar

Ketobong                      : sejenis gendang

* * *

Sumber:

  • Isi cerita disadur dari Ketobong Keramat. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
  • Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Daerah Riau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
  • http://suryadhie.wordpress.com
  • www.kompas.com
  • www.kelolaarts.or.id
Dibaca : 17.934 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password