Rabu, 22 Februari 2017   |   Khamis, 25 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 4.813
Hari ini : 41.085
Kemarin : 37.075
Minggu kemarin : 222.762
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.767.230
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Panglima Kawal dan Si Jangoi, Asal Mula Pulau Si Jangoi

a:3:{s:3:

Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, dan hampir tidak dimiliki oleh provinsi lainnya di Indonesia. Sumber-sumber kekayaan tersebut yaitu berupa kekayaan yang terkandung di perut bumi (seperti minyak dan gas bumi), kekayaan hutan dan perkebunannya. Selain itu, Riau juga memiliki letak yang sangat strategis, sehingga ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negeri melalui jalur laut. Maka, tidaklah mengherankan jika negeri ini menjadi incaran banyak orang.

Sejak dahulu, Negeri Riau memang sudah terkenal dengan kekayaan alamnya. Dalam sebuah cerita rakyat dikisahkan bahwa banyak lanun yang berusaha untuk menguasai negeri ini, namun belum ada yang berhasil karena Negeri Riau memiliki hulubalang-hulubalang yang gagah perkasa dan seorang panglima yang sangat sakti bernama Panglima Kawal. Pada suatu hari, sebuah kapal asing yang berisi lanun berlabuh di pelabuhan Riau. Pemimpin Lanun tersebut bernama si Jangoi. Maksud kedatangan mereka adalah untuk menguasai Negeri Riau. Hulubalang yang bertugas di pelabuhan segera melaporkan kedatangan kelompok si Jangoi tersebut kepada Panglima Kawal. Setelah mendapat laporan itu, Panglima itu pun segera memerintahkan beberapa hulubalang untuk mempersiapkan prajurit dan senjata. Apa yang akan dilakukan Panglima Kawal? Apakah dia akan berperang melawan si Jangoi? Lalu, bagaimana dengan si Jangoi? Berhasilkah ia menguasai Negeri Riau yang kaya itu? Mau tahu jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Panglima Kawal dan Si Jangoi berikut ini.

* * *

Konon, pada zaman dahulu, Negeri Riau (sekarang Provinsi Riau) sangat makmur dan sejahtera. Bandar-bandarnya ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negeri. Negeri Riau itu memiliki hulubalang-hulubalang yang pemberani dan gagah perkasa. Selain itu, juga memiliki seorang panglima yang sangat sakti, Panglima Kawal namanya.

panglima kawalKemakmuran dan kesejahteraan Negeri Riau terkenal sampai ke berbagai negeri. Banyak sudah lanun yang berusaha untuk menguasai negeri itu. Namun, berkat kesaktian dan ketangkasan Panglima Kawal dan para hulubalangnya, negeri Riau selalu dapat diselamatkan.

Pada suatu hari, pelabuhan Riau begitu ramai dengan pedagang yang baru tiba dari negeri-negeri jauh. Kuli-kuli sibuk mengangkat barang dagangan yang diturunkan dari kapal. Di tengah kesibukan di pelabuhan tersebut, tiba-tiba terdengar letusan meriam beberapa kali sebagai tanda datangnya sekelompok kapal asing. Mendengar bunyi meriam tersebut, para hulubalang yang bertugas di pelabuhan segera merapatkan perahu mereka ke kapal-kapal asing tersebut.

“Selamat datang di negeri kami. Jika boleh kami tahu, siapa sebenarnya Tuan-tuan ini? Dari mana dan apa maksud kedatangan Tuan-tuan?” tanya Ketua Hulubalang.

“Hei, bodoh! Aku adalah Jangoi, pemimpin perampok yang ditakuti di Kamboja, Serawak, Brunei, dan Sumatra!” jawab pemimpin rombongan itu dengan sombong. “Jika rakyat negeri ini ingin selamat, tunduklah padaku!” lanjutnya. Ketua Hulubalang geram melihat kesombongan dan tingkah laku Jangoi dan anak buahnya yang kurang sopan. Tetapi dia masih mempunyai rasa santun. “Tunggulah di sini! Saya akan melaporkan kedatangan kalian kepada panglima kami,” ujar Ketua Hulubalang. “Wahai, pengawal! Awasi si Jangoi dan anak buahnya, kalau-kalau mereka membuat kekacauan di negeri kita!” perintah Ketua Hulubalang, kemudian ia bergegas melaporkan kedatangan rombongan tersebut kepada Panglima Kawal.

“Maaf, Panglima! Kita kedatangan tamu yang tak diundang. Sepertinya mereka mempunyai maksud tidak baik terhadap negeri ini,” lapor Ketua Hulubalang dengan penuh hormat. Mendengar laporan itu, Panglima Kawal segera memerintahkan beberapa hulubalang untuk mempersiapkan pertahanan negeri.

Sementara itu, Panglima Kawal berniat untuk menemui kepala rombongan itu. “Wahai, Hulubalang! Siapkan perahu, aku ingin mengadakan perundingan dengan orang asing itu!” perintah Panglima Kawal. Panglima Kawal adalah seorang panglima yang cinta damai. Dia memilih jalan perundingan sebelum terjadi peperangan. Dia tidak ingin rakyat sengsara akibat perang. Dengan diiringi beberapa hulubalang, Panglima Kawal menemui si Jangoi di atas kapalnya.

Walaupun sombong, si Jangoi tetap bertingkah laku sopan saat bertemu dengan Panglima Kawal. Dia segera menghidangkan sirih lengkap dengan kapur dan pinangnya. “Silakan, Tuan,” kata Jangoi menawarkan sirih. Panglima Kawal tahu bahwa daun sirih yang dihidangkan Jangoi adalah daun jelatang, maka dia menolak untuk memakannya.

Melihat hal itu, tahulah Jangoi bahwa Panglima Kawal tidak suka makan sirih. Maka, dikeluarkannya tepak sirih yang berisi beberapa batang bakik. Tapi, itu hanya tipu muslihat Jangoi. Sebenarnya tepak sirih tidak berisi bakik, melainkan paku beracun. Panglima Kawal pun mengetahui hal itu. Dia kemudian mengambil bakik yang dihidangkan itu dan memakannya. Karena kesaktiannya, Panglima Kawal tidak keracunan sedikitpun. Bahkan dia menawari Jangoi untuk turut serta memakan bakik itu.

“Mari, Tuan Jangoi! Kita makan bakik ini bersama-sama,” tawar Panglima Kawal. Mendengar tawaran itu, Jangoi hanya terdiam. Dia terheran-heran melihat Panglima Kawal setelah makan bakik itu. Dikiranya Panglima Kawal akan mati keracunan, namun ternyata ia sehat-sehat saja. Melihat Jangoi heran, Panglima Kawal mengambil beberapa bakik dan dipatahkannya menggunakan jarinya. Jangoi pun semakin heran bercampur rasa takjub melihat kesaktian Panglima Kawal. 

“Ketahuilah, Jangoi! Bagi orang Riau, bakik seperti inilah pengganti sirih,” ujar Panglima Kawal tenang. “Maafkan kami, Tuan. Kami mengaku kalah,” kata Jangoi. Dia mengakui tingginya ilmu orang-orang Riau. Ia pun membatalkan niatnya untuk menaklukkan Negeri Riau.

Setelah itu, Jangoi segera memerintahkan anak buahnya untuk meninggalkan Negeri Riau. Namun, sebelum layar terkembang, Jangoi mengambil bakik dari tepak sirihnya seraya bersumpah, “Jika bakik ini tenggelam ke dalam laut, aku tidak akan datang ke tempat ini lagi.” Selesai berkata demikian, Jangoi melemparkan bakiknya ke laut lepas dan ternyata bakik itu tenggelam. Jangoi tidak menyadari apa yang sudah diucapkan dan dilakukannya itu.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun berselang, Panglima Kawal meninggal dunia. Seluruh rakyat Riau bersedih kehilangan panglima terbaiknya. Pada hari itu, seluruh rakyat Riau tampak sibuk untuk mempersiapkan pemakamannya. Mereka menghentikan seluruh pekerjaan mereka untuk turut mengantarkan jenazah Panglima Kawal sampai ke pamakaman.

Kabar kematian Panglima Kawal pun tersebar hingga ke berbagai negeri. Kabar tersebut juga sampai kepada si Jangoi. Dia sangat senang mendengar kabar itu. “Inilah saatnya untuk menguasai negeri yang kaya itu. Kini tidak ada lagi yang akan menghalangi niatku,” gumam Jangoi. Menurutnya, jika Panglima Kawal telah meninggal, pastilah Negeri Riau sangat mudah untuk ditaklukkan.

Keesokan harinya, Jangoi bersama anak buahnya berangkat dengan menggunakan kapal besar untuk menaklukkan Negeri Riau yang dahulu belum tercapai. Dalam perjalanan, di atas kapal, di benak Jangoi sudah terbayang-bayang mengenai kekayaan yang akan dimilikinya setelah menguasai Negeri itu.

Namun, kenyataan berkata lain. Sesampainya di perairan Riau, saat kapal melepas jangkar di tempat dahulu Jangoi bersumpah, tiba-tiba dia terjatuh dan terkena penyakit yang sulit disembuhkan. Banyak sudah tabib yang didatangkan untuk mengobatinya. Namun, sakit Jangoi tak kunjung sembuh.

Semakin hari tubuh Jangoi semakin lemah. Sudah beberapa hari dia tidak mau makan, sehingga badannya semakin kurus. Di atas pembaringannya, tiba-tiba Jangoi teringat dengan sumpah yang pernah diucapkannya di tempat itu dahulu. Dia sangat menyesali ucapan dan perbuatannya itu. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Sumpah itu tidak bisa ditarik kembali. Jangoi tinggal menanti saat-saat kematiannya.

panglima kawalNamun sebelum meninggal, Jangoi berpesan agar dikubur di tempat dia bersumpah. Tak berapa lama kemudian, Jangoi pun meninggal dunia karena melanggar sumpahnya sendiri. Sesuai dengan pesan Jangoi, anak buahnya kemudian menenggelamkan mayatnya di tempat dia bersumpah. Tepatnya di antara Pulau Penyengat dan Teluk Keriting. Beberapa saat setelah mayat Jangoi tenggelam, tiba-tiba di tempat itu muncul sebuah pulau. Oleh penduduk di sekitarnya, pulau itu diberi nama Pulau Si Jangoi atau Pulau Paku. Hingga kini, kita masih dapat menyaksikan pulau itu di antara Pulau Penyengat dan Teluk Keriting di wilayah Provinsi Riau, Indonesia.

Kamus Kecil :

Lanun : bajak laut, perampok.
Jelatang : sejenis daun sirih yang berbisa.
Bakik : batang tumbuhan yang biasa dimakan dengan cara seperti makan sirih.

* * *

Dalam cerita di atas terkandung nilai-nilai moral yang patut untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua nilai moral yang terkandung dalam cerita di atas yaitu cinta perdamaian dan akibat melanggar sumpah sendiri. Pertama, sifat cinta perdamaian tercermin pada sikap dan perilaku Panglima Kawal. Ia lebih memilih mengadakan perundingan damai dengan si Jangoi daripada berperang, yang akan mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Dalam ajaran agama Islam, cinta perdamaian dan keselamatan, merupakan ciri orang Islam yang beriman. Dalam hubungan ini, ada beberapa dalil yang dapat dijadikan sebagai pijakan, baik dari Alquran maupun Hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam Alquran Allah SWT. berfirman yang artinya sebagai berikut, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujuraat: 10). Dalil ini didukung oleh Sabda Nabi Muhammad SAW. yang artinya seperti berikut, “Orang mukmin ialah orang yang melindungi darah dan harta kaum muslimin. Dan orang muslim ialah orang yang dengan lidah dan tangannya selamat sejahtera kaum muslimin.” (H.R.Bukhari Muslim).

Kedua, sifat melanggar sumpah atau janji sendiri. Sifat ini tercermin pada sifat si Jangoi ketika ia bersumpah untuk tidak kembali lagi ke negeri Riau, namun sumpahnya itu ia langgar sendiri. Oleh karena melanggar sumpahnya sendiri, akibatnya ia pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sumpah pada dasarnya adalah sebuah pernyataan yang diucapkan disertai dengan tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya; atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan (sumpah) yang diucapkan itu tidak benar. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Dalam kehidupan sehari-hari, “sumpah” memang sering menjadi masalah bagi manusia. Oleh karena itu, sumpah dalam ajaran Islam diatur berdasarkan hukum syariat. Sumpah yang dalam bahasa Arab disebut dengan istilah yamin dibagi menjadi tiga jenis yaitu: Pertama, sumpah palsu (yamin ghamus), yaitu seseorang bersumpah dengan sengaja untuk berbohong. Jenis sumpah ini dapat mengakibatkan pelakunya berdosa dan wajib membayar denda. Hal ini sesuai hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya, “Barangsiapa bersumpah, dan dia berdusta dalam sampah itu, untuk memakan harta seseorang muslim, maka dia pasti bertemu dengan Allah (pada hari kiamat nanti) dalam keadaan murka,” (H.R. Bukhari dan Muslim). Kedua, sumpah tanpa sengaja (yamin laghwu), yaitu sumpah yang diucapkan oleh seseorang muslim tanpa unsur kesengajaan. Sumpah ini juga mengakibatkan pelakunya berdosa, tetapi tidak wajib membayar denda, sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja...” (Q.S. Al-Maidah: 89). Sumpah jenis yang ketiga adalah sumpah yang sah (yamin mun‘aqidah), yaitu sumpah yang niat awalnya dimaksudkan untuk sesuatu yang akan datang. Seperti, seorang muslim berkata, “Demi Allah! Sungguh akan aku lakukan hal ini,” atau “Demi Allah! Sungguh tidak akan aku lakukan ini.”. Jika pelakunya melanggar sumpahnya sendiri, tentu ia akan berdosa dan wajib membayar denda atas pelanggarannya itu.

Setelah mengetahui jenis-jenis sumpah di atas, ternyata melanggar sumpah, baik disengaja maupun tidak disengaja akan mendapatkan dosa. Oleh karena itu, hendaknya kita jangan bersumpah jika hanya untuk dilanggar, karena itu akan merugikan diri kita sendiri, seperti yang terjadi pada si Jangoi dalam cerita rakyat di atas. Tapi, sekiranya di antara kita ada yang pernah bersumpah, segeralah memenuhi sumpah itu. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tunaikanlah sumpahmu, karena dosa itu ditanggung orang yang melanggar (sumpahnya).” (H.R. Bukhari dan Muslim). (SM/sas/29/9-07)

* * *

Sumber :

  • Isi cerita diringkas dari Wahyuningrum. 2005. Panglima Kawal dan Si Jangoi: Asal Mula Pulau Si Jangoi. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
  • Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Saputra, Deddy. 2007. “Potensi Pariwisata Urban Kepulauan”. (http://batampos.co.id., diakses tanggal 21 September 2007)
  • Anonim. “Keanekaragaman Hayati: Sumber Daya Alam.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Riau, diakses tanggal 21 September 2007).
  • Ukhwah. “Sumpah.” (http://myukhuwah.blogspot.com, diakses tanggal 21 September 2007).
  • Le­_ni. “Sumpeh Lo? Sumpah Deh...!” (http://leni.csui05.org, diakses tanggal 21 September 2007)
Dibaca : 19.680 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password