Minggu, 28 Mei 2017   |   Isnain, 2 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.391
Hari ini : 63.487
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.476.135
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Asal Mula Nama Kuala Kangsar

a:3:{s:3:

Kuala Kangsar merupakan Bandar Diraja[1] Negeri Perak[2] Darul Ridzuan, Malaysia, yang terletak kira-kira 48 kilometer di sebelah selatan Ipoh.[3] Secara topografis, kawasan Kuala Kangsar merupakan daerah yang subur. Hutan lebat terhampar hijau. Di tengah-tengah hutan membentang Sungai Perak dari Hulu Perak hingga ke Selat Melaka sepanjang 400 kilometer. Sungai ini memiliki sejumlah anak sungai yang mengalir ke berbagai wilayah. Sejak dulu, kawasan ini merupakan kawasan wisata yang menarik karena keindahan alamnya yang sangat mempesona.

Menurut sebuah cerita, nama Bandar Diraja yang sekarang disebut “Kuala Kangsar” itu merupakan pemberian Sultan Muzaffar Shah. Peristiwa apa yang terjadi, sehingga Sultan Muzaffar Shah[4] memberi nama kawasan tersebut “Kuala Kangsar”? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Asal Mula Nama Kuala Kangsar berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu Negeri Perak diperintah oleh seorang raja bernama Sultan Muzaffar Shah. Ia sering mengadakan perjalanan menyusuri Sungai Perak dan anak-anak Sungai Perak yang terbentang di tengah hutan lebat untuk mencari tempat tinggal yang baru.

Pada suatu hari, Sultan Muzaffar Shah bersama bendahara dan beberapa pengawalnya menyusuri pantai Selat Melaka. Ketika sampai di muara Sungai Perak, ia bersama rombongannya berhenti untuk beristirahat dan hendak membuat perkampungan di sana.

“Ampun, Baginda! Sepertinya kawasan ini kurang cocok untuk dijadikan negeri, tanahnya kurang subur,” ungkap seorang pengawal.

“Benar, Baginda! Kalau hamba boleh usul, bagaimana kalau kita mencari tempat lain yang lebih subur?” usul Bendahara kepada Sultan Musaffar Shah.

“Baiklah! Besok pagi kita tinggalkan tempat ini. Persiapkan segala keperluan!” perintah Sultan Muzaffar.

“Tapi…, hendak ke manakah kita akan mencari tempat yang lebih nyaman, Baginda?” tanya seorang pengawal lainnya bingung.

“Kita telusuri Sungai Perak. Siapa tahu di sepanjang aliran sungai itu kita menemukan tempat yang lebih baik,” jawab Sultan Muzaffar.

Keesokan harinya, rombongan Sultan Muzaffar Shah berlayar menyusuri Sungai Perak. Dalam pelayaran tersebut, mereka banyak menemukan anak sungai, namun belum ada yang cocok untuk dijadikan negeri. Kemudian rombongan Sultan Muzaffar Shah melanjutkan pelayaran. Setelah berhari-hari berlayar, sampailah mereka pada sebuah lubuk yang airnya jernih. Dari atas perahu, mereka dapat menyaksikan gerombolan ikan sungai sedang berenang dan saling berkejar-kejaran di dalam air. Di sekeliling mereka tampak pula pepohonan tumbuh dengan subur.

“Wah… bagus sekali tempat ini!” seru Bendahara dengan perasaan kagum.

“Benar, tempat ini cocok untuk dijadikan negeri. Di sini banyak sumber kehidupan,” sahut Sultan Muzaffar Shah dengan senang.

Namun, baru saja Sultan Muzaffar Shah dan Bendaharanya memuji tempat itu, kapal yang mereka tumpangi tiba-tiba bergetar dan oleng. Seorang pengawal terlempar ke sungai dan tidak dapat diselamatkan lagi.

“Apa yang terjadi, Bendahara?” tanya sang Sultan panik.

“Ampun, Baginda! Sepertinya ada sesuatu yang menabrak kapal kita,” jawab Bendahara.

“Cepat cari tahu penyebabnya!” seru sang Sultan.

Mendengar perintah sang Sultan, Bendahara segera mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi.

“Hai, pengawal! Apa yang terjadi?” tanya Bendahara kepada seorang pengawal.

“Lihat, Tuan! Ada beberapa binatang besar sedang bergerak-gerak di dalam air,” kata seorang pengawal sambil menunjuk ke arah air sungai yang bergelembung.

“Hai, itu kan buaya!” seru Bendahara dengan panik.

“Benar, Tuan!” jawab si pengawal.

“Wah, celakalah kita! Aku harus segera melaporkan hal ini kepada Baginda,” kata Bendahara yang kemudian berlari menghadap Sultan Muzaffar Shah yang berada di dalam kapal.

“Ampun, Baginda! Di luar sana ada buaya besar,” lapor Bendahara kepada sang Sultan.

“Apa… Buaya?” tanya sang Sultan seakan tidak percaya.

“Benar, Baginda! Jumlah mereka sangat banyak,” jawab Bendahara.

“Kalau begitu, kita tinggalkan tempat ini. Di sini tidak aman untuk dijadikan negeri,” jawab sang Sultan dengan perasaan khawatir.

Setelah itu, Sultan Muzaffar Shah dan rombongannya melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Perak. Namun, sebelum meninggalkan lubuk itu, Sultan Muzaffar Shah memberinya nama “Lubuk Buaya”.

“Sudah berapa kuala[5]  yang kita lewati?” tanya sang Sultan kepada Bendahara.

“Sudah delapan, Baginda!” jawab Bendahara.

“Sepertinya kita belum menemukan tempat yang cocok,” kata sang Sultan dengan perasaan kecewa.

Usaha mencari tempat pemukiman yang cocok terus mereka lakukan. Sudah berhari-hari mereka menelusuri Sungai Perak dan sudah berpuluh-puluh kuala mereka lalui, namun belum ada satu pun yang dapat mereka jadikan sebuah negeri. Meskipun demikian, Sultan Muzaffar beserta rombongannya tidak pernah merasa putus asa. Mereka terus menyusuri Sungai Perak.

Pada suatu hari, rombongan Sultan Muzaffar tiba di sebuah sungai kecil. Airnya sangat dingin dan jernih seperti cermin. Tampak beberapa penduduk setempat sedang mandi di kuala sungai kecil itu. Sultan Muzaffar melihat, tempat itu tidak cocok dijadikan sebagai negeri, karena tanahnya yang kurang subur. Ia bersama rombongan kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, Sultan Muzaffar memberi nama kuala itu “Kuala Sungai Cermin”.

Rombongan Sultan Muzaffar bersama rombongannya terus menyusuri Sungai Perak hingga menemukan sebuah kuala sungai kecil. Airnya yang jernih dan sejuk mengalir ke arah Sungai Perak. Sultan Muzaffar Shah berniat untuk beristirahat di tempat itu untuk melepaskan lelah setelah berhari-hari menyusuri Sungai Perak.

“Bendahara! Kita berhenti di tempat ini untuk beristirahat sejenak,” kata Sultan Muzaffar.

“Baik, Baginda!” jawab Bendahara yang segera memberitahukan kepada seluruh pengawal lainnya.

Sambil menikmati kesejukan alam, Sultan Muzaffar mengamati kawasan itu dengan seksama. Di hadapannya pepohonan tumbuh dengan subur, binatang-binatang berkeliaran mencari makan, dan suara-suara burung terdengar merdu memecah kesunyian alam.

“Bendahara! Sepertinya tempat ini sangat menarik. Tanahnya subur dan suasana alamnya sejuk. Bagaimana kalau tempat ini kita jadikan negeri?” tanya Sultan Muzaffar kepada Bendahara.

“Hamba rasa, Baginda benar. Tempat ini sangat bagus dijadikan pemukiman. Kawasannya rata dan di tebing sungai ada sebuah bukit,” jawab Bendahara.

“Tapi… Baginda. Kita beri nama apa tempat ini?” Bendahara balik bertanya.

Mendengar pertanyaan Bendahara, Sultan Muzaffar termenung sejenak memikirkan nama yang cocok untuk negeri yang baru itu.

“Kuala yang ke berapakah ini?” tanya Sultan kepada Bendahara.

“Ini anak sungai yang kesembilan puluh sembilan, Baginda,” jawab Bendahara.

“Berarti, kuala ini kurang satu lagi seratus,” kata Sultan.

“Benar, Baginda!” sahut Bendahara.

“Kalau begitu. Tempat ini kita namakan Kuala Kurang Satu,” kata Sultan.

“Tapi, Baginda! Sepertinya nama ini kepanjangan. Agak sulit untuk mengucapkannya,” kata Bendahara mengajukan pendapat.

“Kalau begitu, kita pendekkan saja menjadi Kuala Kurang Sa,” jawab Sultan Muzaffar.

Setelah itu, dibukalah sebuah negeri baru bernama “Kuala Kurang Sa” yang diperintah oleh Sultan Muzaffar Shah. Sejak itu, pusat pemerintahan Kesultanan Perak dipindahkan ke negeri yang baru itu. Sebuah istana megah dibangun di atas bukit di tepi sungai. Semakin lama, negeri Kuala Kurang Sa berkembang dengan pesat. Oleh karena agak sulit menyebut nama “Kuala Kurang Sa”, para penduduk mengubah kata Kurang Sa menjadi Kangsar. Hingga kini, nama kawasan atau negeri itu bernama Kuala Kangsar yang berada di Negeri Perak, Malaysia.

* * *

Demikian cerita asal mula nama Kuala Kangsar dari Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah sifat pantang menyerah. Sifat ini tercermin pada sikap Sultan Muzaffar Shah yang tidak mengenal lelah, meskipun berhari-hari menyusuri Sungai Perak untuk mencari pemukiman baru yang lebih baik. Sifat ini termasuk sifat yang terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu, sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini:

wahai ananda dengarlah madah,
adat lelaki pantang menyerah
asal kerjamu tidak menyalah
hidup matimu di tangan Allah

(SM/sas/59/01-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Sungai Perak”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Sungai_Perak, diakses tanggal 21 Januari 2008).
  • Anonim. “Kuala Kangsar”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kuala_Kangsar, diakses tanggal 21 Januari 2008).
  • Anonim. “Ipoh”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Ipoh, diakses tanggal 17 Januari 2008).
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa

Kredit foto : -


[1] Bandar Diraja atau disebut Ibukota Kerajaan adalah kota kedua terpenting setelah ibukota sebuah negara bagian di Malaysia yang diperintah oleh seorang Raja atau Sultan.

[2] Negeri Perak adalah salah satu negeri yang membentuk Persekutuan Tanah Melayu (Malaysia). Negeri ini merupakan negeri terbesar kedua di Semenanjung Malaysia setelah Negeri Pahang.

[3] Ipoh adalah sebuah bandar besar di wilayah Kinta, Negeri Perak, yang terletak kira-kira 200 kilometer di sebelah utara Kota Kuala Lumpur, Malaysia.

[4] Sultan Muzaffar Shah adalah raja pertama Negeri Perak.

[5] Kuala artinya persimpangan atau muara sungai.

Dibaca : 18.969 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password