Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 4.917
Hari ini : 25.588
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.473.949
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Asal Mula Nama Jempol

Jempol adalah nama sebuah daerah di Negeri Sembilan, Malaysia, yang beribukota Bahau. Sebelum bernama Jempol, daerah ini bernama Leban Condong atau Danau Rasau. Menurut cerita, Leban Condong diambil dari nama seorang laki-laki yang merupakan orang pertama mendiami daerah ini. Sementara Danau Rasau adalah nama istri Leban Condong yang berasal dari Minangkabau. Oleh masyarakat setempat, nama daerah ini kemudian mereka ganti menjadi Jempol. Apa sebenarnya yang terjadi sehingga mereka mengganti nama daerah ini menjadi Jempol? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Asal Mula Nama Jempol berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah daerah di wilayah Negeri Sembilan, Malaysia, hiduplah seorang Batin[1] bernama Leban Condong yang menikah dengan perempuan cantik dari daerah Minangkabau, Sumatra Barat, yang bernama Danau Rasau. Setahun setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki mungil yang mereka beri nama Jempol. Mereka mengasuh dan membesarkan si Jempol dengan penuh kasih sayang.

Setelah dewasa, Jempol menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Tubuhnya tinggi kekar dan berotot. Melihat kegagahan itu, Leban Condong berharap si Jempol menjadi seorang pendekar sakti. Untuk mewujudkan harapan tersebut, Leban Condong mengirim Jempol ke perguruan silat terkenal di daerah lain untuk belajar ilmu bela diri.

Setelah beberapa tahun belajar ilmu silat, Jempol kembali ke kampung halamannya. Kini, ia telah menjadi seorang pendekar yang sakti. Sudah beberapa pendekar di kampung itu yang menguji kesaktiannya, namun tidak seorang pun yang mampu menandinginnya. Ia pun menjadi terkenal sebagai pendekar sakti yang sangat disegani di kampung itu. Oleh karena itu, tidak seorang pun penduduk yang berani mengusiknya. Hal inilah yang membuat si Jempol menjadi sombong dan angkuh, sehingga ia dibenci oleh penduduk kampung.

Di kampungnya itu, ada seorang gadis cantik yang bernama Melur. Selain cantik, ia juga gadis yang cerdas dan baik perangainya. Setiap pemuda yang melihat kecantikan dan keelokan perangainya akan jatuh hati kepadanya, termasuk si Jempol. Oleh karena itu, si Jempol berkeinginan untuk menjadikan Melur sebagai istrinya.

”Jika aku meminang si Melur, pasti pinanganku diterima oleh kedua orang tuanya,” pikir Jempol dengan penuh percaya diri.

”Akulah yang berkuasa di kampung ini. Tidak seorang pun yang berani menghalangi segala keinginanku, termasuk kedua orang tua Melur,” sambungnya lagi.

Keesokan harinya, Jempol bersama kedua orang tuanya pergi untuk meminang Melur. Keluarga Melur sangat terkejut dengan kedatangan Jempol dan keluarganya.

”Maaf, Tuan! Kabar angin apa yang membawa Tuan ke rumah kami yang sederhana ini?” tanya ayah Melur memberi hormat kepada Batin Leban Condong, ayah Jempol. 

”O, iya, maaf jika kami datang secara tiba-tiba, tanpa memberitahukan sebelumnya,” kata ayah Jempol.

”Ada apa ya, Tuan?” ayah Melur bertanya lagi dengan penasaran.

”Begini, Pak! Maksud kedatangan kami adalah untuk menyampaikan pinangan anak kami, Jempol, kepada putri Bapak yang bernama Melur,” sambung ayah Jempol menjawab pertanyaan ayah Melur.

Oleh karena mereka sangat mengenal sifat dan watak Jempol yang sombong dan angkuh, tanpa perlu berpikir panjang Melur dan keluarganya belum bersedia menerima pinangan orang tua Jempol.

”Maafkan kami, Tuan! Dengan berat hati, kami menyampaikan bahwa anak kami, Melur, belum siap untuk berumah tangga,” jawab ayah Melur menolak pinangan orang tua Jempol.

Mendengar pinangannya ditolak, walaupun dengan cara yang sangat halus, si Jempol tidak mau terima. Ia sangat marah dan tersinggung dengan keputusan keluarga Melur tersebut. Namun, ia tidak berani berbuat banyak, karena segan terhadap kedua orang tuanya sendiri. Akhirnya, rasa kecewanya disimpan dalam hati, sehingga ia menjadi dendam terhadap keluarga Melur.

”Awas, kalian! Tunggu pembalasanku!” ancam Jempol dalam hati dengan geram.

Sementara itu, orang tua Jempol tidak mau memaksakan kehendak mereka kepada keluarga Melur. Mereka tetap menerima keputusan itu dengan lapang dada. Setelah itu, orang tua Jempol berpamitan pulang, walaupun dengan tangan hampa.

Keesokan harinya, Melur pergi ke sawah untuk membantu kedua orang tuanya menanam padi. Saat ia melewati jalan yang sepi, tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kekar muncul dari balik semak-semak. Laki-laki itu tidak lain adalah si Jempol, yang memang sengaja menunggu di tempat itu untuk mencegat Melur.

”Hendak ke mana kamu, hai gadis cantik? Kemarin orang tuamu telah membuat aku dan keluargaku malu. Sekarang kamu akan menerima akibatnya!” ancam si Jempol sambil berdiri di tengah jalan menghadang Melur.

”Hei, Jempol! Apa maksudmu menghalangi jalanku?” tanya Melur panik.

”Aku mau tahu, mengapa orang tuamu menolak pinanganku?” Jempol balik bertanya kepada Melur.

”Ah, sudah gaharu cendana pula[2]. Tentu kamu sudah tahu sendiri, kalau kamu bukanlah laki-laki yang baik untuk dijadikan suami,” balas Melur dengan nada sinis.

Mendengar jawaban Melur, si Jempol tiba-tiba naik pitam. Kemarahannya semakin memuncak. Mukanya pun berubah menjadi merah bagaikan terbakar api. Sejenak, si Jempol terdiam sambil menahan amarah.

”Mmm, inilah saatnya aku membalas dendam,” pikirnya dalam hati.

Melur yang melihat si Jempol sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap dirinya, mencoba untuk melarikan diri. Namun, dengan mudahnya si Jempol dapat menangkap dan mendekapnya. Dengan sekuat tenaga, Melur berusaha untuk melepaskan diri. Keduanya pun berguling-guling di tanah. 

”Hendak lari ke mana kamu, ha!” seru Jempol dengan geram.

”Lepaskan aku! Lepaskan aku! Tolong...! Tolong....!” seru Melur sambil meronta-ronta dan berteriak meminta tolong.

”Berteriaklah sekuat tenaga, gadis cantik! Tidak akan ada orang yang menolongmu,” kata si Jempol sambil mendekap Melur.

Melur terus meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri, namun kekuatannya tidak mampu mengimbangi kekuatan Jempol yang bertubuh kekar. Setelah berkali-kali meronta, Melur mulai kehabisan tenaga. Akhirnya, ia pun menyerah dan pasrah. Jempol yang telah dirasuki rasa dendam itu mulai kehilangan akal. Ia pun berniat untuk memperkosa Melur.

”Ampun Bang...! Ampun...! Jangan lakukan itu!” Melur memohon sambil menangis.

Meksipun Melur telah memohon berkali-kali, Jempol yang sudah dirasuki nafsu syaitan tetap melakukan perbuatan bejat itu.

”Ha...ha...ha...! Aku sangat senang hari ini,” kata si Jempol sambil tertawa terbahak-bahak lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, Melur yang masih terbaring di tanah dengan tubuh yang lemah serta rambut yang acak-acakan berusaha untuk bangkit. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Melur berjalan terseok-seok menuju ke rumahnya. Sesampai di rumah, Melur terus merebahkan tubuhnya di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu.

Tidak berapa lama, kedua orang Melur kembali dari sawah. Mereka sangat terkejut saat melihat Melur sedang menangis.

”Apa yang terjadi denganmu, Nak? Mengapa seluruh badanmu kotor begitu” tanya ayahnya heran.

”Ya, katakan saja, anakku! Apa yang telah menimpa dirimu?” tanya ibunya mulai panik.

Sebenarnya, Melur malu untuk mengatakannya. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun berterus terang dan menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya.

”Hah, si Jempol!” seru kedua orang tua Melur terkejut.

“Apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya ibu Melur panik.

”Entahlah, Bu! Bapak juga bingung menghadapi si Jempol,” jawab ayah Melur.

Oleh karena tidak ingin mengambil resiko berhadapan dengan si Jempol, akhirnya kedua orang tua Melur memilih untuk merahasiakan peristiwa yang telah menimpa anak mereka. 

Tiga bulan kemudian, perut Melur terlihat membesar. Rupanya ia telah mengandung anak si Jempol. Hatinya pun sangat resah. Orang-orang di kampung itu pun bertanya-tanya mengenai siapa ayah dari anak yang dikandung Melur. Tidak lama kemudian, rahasia keluarga Melur terbongkar juga. Semua penduduk telah mengetahui bahwa anak yang dikandung Melur adalah anak si Jempol. Hati Melur semakin resah. Oleh karena tidak kuat menahan rasa malu, akhirnya Melur bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sungai. 

Peristiwa bunuh diri yang dialami Melur itu sampai juga ke telinga Jempol. Namun, hal itu tidak membuat si Jempol insyaf, justru kelakuannya semakin menjadi-jadi. Hampir semua gadis di kampung itu telah diperkosanya. Penduduk kampung itu semakin resah melihat kelakuan Jempol. Mereka selalu khawatir terhadap anak-anak gadis mereka. Untuk menghentikan kelakukan Jempol, para warga berkumpul untuk bermusyawarah.

”Saudara-saudara! Kelakuan si Jempol tidak dapat dibiarkan lagi. Sudah puluhan anak gadis di kampung ini yang telah diperkosanya. Entah besok atau lusa, anak gadis kita yang akan menjadi korban berikutnya,” kata salah seorang warga dengan penuh kekhawatiran.

”Benar, si brengsek itu harus kita lenyapkan dari kampung ini,” tambah seorang warga lainnya.

”Tapi, bagaimana caranya? Si Jempol adalah pemuda yang sakti dan gagah perkasa. Tidak seorang pun di antara kita yang sanggup menandinginya,” sahut seorang warga dengan nada pesimis.

”Iya, Jempol juga kebal dari berbagai senjata tajam. Bagaimana kita dapat melukainya?” tanya seorang warga lainnya bingung.

Pertanyaan salah seorang warga itu membuat warga yang hadir dalam pertemuan itu terdiam. Sesaat, suasana pertemuan menjadi hening. Mereka merenung dan berpikir untuk mencari cara melukai si Jempol. Di tengah-tengah keheningan itu, tiba-tiba seorang laki-laki tua yang merupakan sesepuh di kampung itu mengangkat bicara.

”Tenang, saudara-saudara! Kita dapat melukai si Jempol dengan cara tipu muslihat,” ungkapnya dengan tenang.

”Tipu muslihat?” tanya seorang warga penasaran.

”Benar. Perlu kalian ketahui, tubuh Jempol memang kebal terhadap segala senjata besi. Akan tetapi, ia tidak kebal terhadap bambu runcing,” jelas orang itu.

Semua yang hadir terpana mendengar penjelasan itu. Mereka tidak pernah mengira sebelumnya, ternyata si Jempol hanya kebal pada senjata besi.

”Tapi, kita tidak dapat melawan Jempol dengan kekerasan, karena ia sangat mahir bela diri. Lalu, bagaimana caranya?” tanya salah seorang warga bingung pula.

”Benar juga katamu,” sahut seorang warga lainnya.

Suasana dalam pertemuan itu kembali hening. Mereka pun berpikir dan merenung mencari cara lain.

”Mmm, saya tahu caranya,” kata orang tua itu.

”Apakah itu?” tanya semua yang hadir serentak.

”Seperti kita ketahui bahwa salah satu kesukaan si Jempol adalah berenang di sungai yang ada di depan rumahnya. Setiap pagi ia memanjat pohon yang ada di tepi sungai, lalu melompat ke dalam sungai. Jadi caranya, dasar sungai itu kita pasangi beberapa bambu runcing. Ketika Jempol melompat ke sungai itu tubuhnya akan tertusuk bumbu runcing,” jelas orang tua itu.

Semua warga dalam pertemuan itu sepakat. Pada tengah malam, saat si Jempol sedang tertidur nyenyak, beberapa warga yang pandai menyelam memasang beberapa batang bambu runcing di dasar sungai. Bambu-bambu runcing itu mereka pasang dengan menatanya secara rapi agar tidak ketahuan si Jempol.

Keesokan paginya, seperti biasanya si Jempol bersiap-siap untuk mandi dan berenang di sungai itu. Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, si Jempol kemudian memanjat sebuah pohon dan kemudian melompat ke dalam sungai.

”Aduuuhhh....!” terdengar suara jeritan Jempol tertusuk bambu runcing. Jempol terlihat meronta-ronta dalam air. Gelembung-gelembung air tampak bermunculan di permukaan air. Beberapa saat kemudian, air sungai tampak berwarna kemerahan tercampur darah si Jempol. Seluruh warga yang sejak pagi-pagi sekali bersembunyi di sekitar tempat itu segera keluar hendak memastikan apakah si Jempol sudah mati.

Setelah beberapa saat menunggu, si Jempol pun tidak muncul-muncul di permukaan air. Hal itu berarti si Jempol benar-benar sudah mati. Beberapa warga kemudian turun ke sungai untuk mengangkat mayatnya yang masih menancap di ujung bambu runcing. Saat dinaikkan ke tepi sungai, si Jempol sudah tidak bernafas lagi dan tubuhnya yang tertusuk bambung runcing masih mengeluarkan darah. Konon, itulah sebabnya tanah di kawasan Jempol berwarna merah karena terkena darah si Jempol. 

Setelah itu, jenazah si Jempol segera dikuburkan di sebuah kawasan yang jauh dari permukiman penduduk. Masyarakat setempat menganggap kawasan itu angker, karena orang-orang yang lewat di sekitar kuburan Jempol sering mendengar suara jeritan seorang laki-laki meminta tolong. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, suara jeritan itu adalah suara si Jempol yang sedang disiksa di dalam kubur akibat perbuatan jahatnya.

Sejak si Jempol meninggal, keadaan kampung itu kembali aman, damai dan tentram. Kedua orang tua Jempol pergi meninggalkan kampung itu, karena tidak kuat menanggung malu. Untuk mengenang peristiwa itu, penduduk setempat mengganti nama kampung itu menjadi ”Kampung Jempol”.

Kini, Jempol telah menjadi sebuah permukiman yang ramai penduduknya. Mereka tidak takut lagi melewati kawasan kuburan Jempol. Bahkan, tidak jauh dari makam itu telah dibangun sebuah masjid yang bernama Masjid Kariah Terentang.

* * *

Demikian cerita rakyat Asal Mula Nama Jempol dari Negeri Sembilan, Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya, ada dua pesan moral yang terkandung dalam cerita di atas, yaitu akibat yang ditimbulkan oleh sifat sombong dan angkuh. Sifat ini tercermin pada sikap si Jempol yang selalu merasa dirinyalah yang paling berkuasa di kampung itu, sehingga ia dapat berbuat semena-mena terhadap warga. Akibatnya, ia pun dibenci dan akhirnya dibunuh oleh masyarakat. Terkait dengan sifat ini, dalam ungkapan Melayu dikatakan:

kalau suka membesarkan diri,
saudara menjauh, sahabat pun lari

(SM/sas/63/04-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari, Anonim. “Asal-Usul Nama Tempat di Malaysia”, http://www.jomlayan.com/mybb/asal-usul-nama-tempat-di-malaysia-t-10116-4.html, diakses tanggal 5 April 2008.
  • Anonim. “Daerah Jempol”, http://www.ns.gov.my/Daerah/jempol/index.php?option=com_content&task=view&id=7&Itemid=15, diakses tanggal 5 April 2008.
  • Anonim. “Jempol”, http://ms.wikipedia.org/wiki/Jempol, diakses tanggal 5 April 2008.
  • Anonim. http://www.mdjl.gov.my/, diakses tanggal 5 April 2008.
  • Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
  • Safarwan, Zainal Abidin. 1995. Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd.  


[1] Batin berarti kepala desa, lurah atau pemimpin.

[2] Sudah gaharu cendana pula berarti sudah tahu bertanya pula.

Dibaca : 18.272 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password