Selasa, 17 Oktober 2017   |   Arbia', 26 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 2.580
Hari ini : 26.112
Kemarin : 21.597
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.480.122
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Pantun untuk Merisik

Adat merisik dalam budaya Melayu merupakan tahap awal menjodohkan teruna dan dara, yang melibatkan pertemuan antara wakil keluarga teruna dengan orang tua pihak dara. Pertemuan tersebut dianggap penting untuk menghormati keluarga pihak dara, sebagaimana ungkapan dalam adat Melayu kalau hendak meminang anaknya, pinanglah ibu bapaknya terlebih dahulu (Abu Bakar dan Hussin, 2004). Ungkapan tersebut menjelaskan bahwa pandangan dan restu orang tua perlu diperoleh terlebih dahulu dalam membuat keputusan yang besar seperti perkawinan.

Prosesi merisik lazimnya dilakukan dengan tertib dan sopan untuk menjaga dan memelihara nama baik kedua belah pihak. Adat merisik bertujuan untuk menentukan kedudukan si dara apakah sudah dipinang oleh orang lain ataukah belum. Selain itu, prosesi ini juga untuk mengetahui seluk-beluk keluarga si dara, dan yang paling penting ialah untuk melihat si dara itu sendiri.

Sebelum berkunjung ke rumah pihak keluarga si dara, orang tua dari pihak lelaki akan memilih beberapa orang saudara untuk menjadi wakil mereka. Di antara para wakil itu dipilih salah seorang yang cakap dan terampil dalam menyusun kata-kata, terutama kata-kata yang tersirat yang akan diungkapkan saat menyatakan maksud kedatangan mereka.

Sesampainya di rumah si dara, para wakil keluarga lelaki akan bercakap-cakap mengenai keadaan kehidupan, pekerjaan, maupun isu-isu terkini sembari menikmati jamuan yang dihidangkan dan dihantarkan sendiri oleh si dara. Pada saat si dara menghidangkan jamuan itulah para wakil dari pihak lelaki berkesempatan untuk melihat wajah si dara. Setelah itu, topik pembicaraan mulai difokuskan untuk menyampaikan maksud kedatangan pihak teruna, dan pantun untuk merisik mulai diperdengarkan oleh juru cakap mereka. Pada tahap ini, pihak teruna menyatakan kehendak hati untuk “memetik bunga yang sedang menguntum” apabila si dara belum memiliki pasangan.

Pantun merisik ini diawali oleh pihak keluarga teruna yang kemudian akan dibalas oleh pihak keluarga dara yang menanyakan maksud kedatangan keluarga teruna.

  001. Sudah lama langsatnya condong
Barulah kini batangnya rebah
Sudah lama niat dikandung
Baru sekarang diizinkan Allah

002.Dari Pauh singgah Permatang
Singgah merapat papan kemudi
Dari jauh saya datang
Karena tuan yang baik budi

003.Kalau gugur buah setandan
Sampai ke tanah baru tergolek
Kami bersyukur kepada Tuhan
Datang kami disambut baik

004.Berapa tinggi pucuk pisang
Tinggi lagi asap api
Berapa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi harapan hati

005.Kabung enau tebang satu
Tebang sekali dengan sigainya
Tinggi gunung tinggi lagi harapanku
Harapan dalam tutur katanya

006.Besar api Teluk Gadung
Anak buaya mengonggong bangkai
Niat hati nak peluk gunung
Apakan daya tangan tak sampai

007.Sudah lama langsatnya condong
Dahannya rebah ke ampaian
Sudah lama niat dikandung
Baru sekarang disampaikan

Setelah pihak teruna selesai melantunkan pantun yang mengungkapkan maksud hati mereka, maka pihak dara akan membalas pantun sebagaimana berikut ini:

  008. Perahu kolek ke hilir tanjung
Sarat bermuat tali temali
Salam tersusun sirih junjung
Apa hajat sampai kemari?

009.Malam-malam pasang pelita
Pelita dipasang atas peti
Kalau sudah bagai dikata
Sila terangkan hajat di hati

010.Tidak pernah rotan merentang
Kayu cendana dijilat api
Tidak pernah tuan bertandang
Tentu ada maksud di hati

011.Tumbuk lada di atas para
Ada kasut simpan di hati
Tepuk dada tanya selera
Apa maksud di dalam hati

Kemudian, pihak lelaki akan membalas pantun tersebut dengan lantunan pantun yang menyiratkan kehendak untuk ”memetik bunga di taman”.

  012. Daun raya di atas bukit
Tempat raja menanam pala
Harap kami bukan sedikit
Sebanyak rambut di atas kepala

013.Sudah lama kami ke tasik
Tali perahu terap belaka
Sudah lama kami merisik
Baru kini bertatap muka

014.Tinggi-tinggi si matahari
Anak kerbau mati tertambat
Sekian lama kami mencari
Baru sekarang kami mendapat

015.Raja Hindu raja di Sailan
Singgah berenang di persiraman
Bagai pungguk rindukan bulan
Kumbang merindu bunga di taman

016.Cendrawasih burung yang sakti
Singgah hinggap di atas karang
Kasih berputik di dalam hati
Dari dahulu sampai sekarang

017.Singgah berenang di persiraman
Mayang terendam di dalam tasik
Kumbang merindu bunga di taman
Bintang merindu cendrawasih

Dalam adat Melayu, pihak si dara biasanya tidak langsung menjawab apa yang menjadi kehendak pihak lelaki. Pihak keluarga si dara akan berunding terlebih dahulu untuk mempertimbangkan keputusan besar tersebut. Oleh sebab itu, sebelum wakil pihak lelaki pulang, pihak si dara akan menjanjikan jawaban yang akan diberikan dalam beberapa hari setelah dilakukan perundingan keluarga. Hasil musyawarah keluarga si dara, baik setuju atau tidak, akan disampaikan kepada pihak teruna melalui seorang utusan.

Dibaca : 58.871 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password