Selasa, 28 Maret 2017   |   Arbia', 29 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 4.974
Hari ini : 20.373
Kemarin : 108.208
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.010.622
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Asal Mula Nagari Koto Nan Ampek dan Koto Nan Gadang

a:3:{s:3:

Negeri Koto Nan Ampek adalah sebuah daerah yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Konon, daerah yang subur ini dulunya merupakan kawasan hutan lebat. Oleh masyarakat sekitar, kawasan ini dijadikan permukiman dan diberi nama Nagari Koto Nan Ampek dan Koto nan Gadang. Mengapa daerah tersebut diberi nama Nagari Koto Nan Ampek dan Koto nan Gadang? Temukan jawabannya dalam cerita Asal Mula Negeri Koto Nan Ampek berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah nagari di daerah Minangkabau, Sumatra Barat, ada sebuah kerajaan dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Baginda Mulia Nan Arif Bijaksana. Diberi gelar demikian karena ia seorang raja yang sungguh arif dan bijaksana. Ia senantiasa menjalankan segala kewajibannya sebagai seorang raja dan memberikan segala sesuatu yang menjadi hak rakyatnya. Rakyat negeri ini senantiasa hidup aman, tentram dan makmur. Betapa tidak, selain memiliki raja yang arif dan bijaksana, mereka juga memiliki tanah yang luas dan berbagai jenis tanaman yang tumbuh dengan subur. Hasil buminya sangat melimpah. Ternak-ternak seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing dapat merumput dengan leluasa sehingga tumbuh sehat dan besar-besar. Ternak-ternak tersebut mereka jual ke negeri-negeri sekitarnya dengan harga yang cukup mahal.

Keadaan nagari yang aman dan sejahtera tersebut membuat rakyat selalu patuh, hormat, dan menjunjung tinggi kewibawaan Baginda Mulia. Segala titah raja mereka laksanakan dengan penuh tanggungjawab. Mereka juga senantiasa menjaga kekayaan dan tanah negeri yang luas dan subur itu.

Baginda Mulia Nan Arif Bijaksana mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita, dan tiga orang putri yang masih kecil. Di sela kesibukannya mengurus kerajaan, Baginda Mulia selalu meluangkan waktu dengan mengajak keluarganya keluar istana untuk melihat pemandangan dan kekayaan alam yang dimiliki negeri mereka. Bahkan, Baginda Mulia sering mengajak putri sulungnya berkunjung ke kerajaan-kerajaan tetangga dan berjalan-jalan ke pelosok desa untuk melihat kondisi kehidupan sehari-hari rakyatnya. Dengan demikian, Putri Sulung banyak tahu tentang masalah-masalah yang sering dihadapi oleh kerajaan.

Waktu terus berjalan. Ketiga putri Baginda Mulia tumbuh menjadi gadis-gadis yang cantik dan cerdas. Terutama Putri Sulung, ia seorang gadis yang sudah mulai berpikiran dewasa. Ia sering dimintai pandangan oleh ayahnya, karena selalu bersikap sabar dan tenang dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi kerajaan.

Pada suatu sore, sang Permaisuri melihat Baginda Mulia Nan Arif Bijaksana sedang duduk sendirian di serambi istana.

“Apa yang sedang Kanda pikirkan? Ada yang bisa Dinda bantu?” tanya sang Permaisuri.

“Iya, Dinda! Kanda sedang memikirkan putri kita yang sulung. Di antara ketiga putri kita, dialah yang tampak lebih dewasa dan bijaksana dalam berpikir. Ia juga banyak mengerti mengenai persoalan kerajaan ini,” jawab Baginda Mulia.

“Lalu, ada apa dengannya, Kanda?” tanya Permaisuri tidak mengerti.

“Begini, Dinda! Kanda rasa sudah waktunya ia menikah. Untuk itu, Kanda bermaksud untuk mencarikan jodoh yang sepadan dengannya. Kanda berharap agar menantu dan putri kita dapat menggantikan kedudukan Kanda kelak,” jelas Baginda Mulia.

“Benar, Kanda! Ia juga sabar, tidak sombong dan rendah hati. Dinda juga berharap kerajaan ini kelak dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana seperti Kanda,” tambah Permaisuri.

“Tapi, apakah Kanda sudah mempunyai pilihan untuknya?” tanya Permaisuri ingin tahu.

“Belum, Dinda,” jawab Baginda Mulia.

“Lalu, apa rencana Kanda?” Permaisuri kembali bertanya.

“Kanda bermaksud memancang gelanggang di depan istana. Siapa pun yang menang dalam gelanggang itu, dialah yang akan menjadi menantu kita dan pastinya ia adalah seorang pemuda yang sepadan dengan putri kita,” jelas Baginda Mulia.

Mendengar penjelasan itu, sang Permaisuri pun setuju. Keesokan harinya, Baginda Mulia memanggil Putri Sulung.

“Ampun, Ayahanda! Ada apakah gerangan Ayahanda dan Ibunda memanggil Putri?” tanya Putri Sulung penasaran.

“Begini, Putriku! Kini engkau telah dewasa. Ayah dan Bundamu bermaksud mencarikan jodoh yang sepadan untukmu. Kami berharap engkau dan suamimu kelak dapat menggantikan Ayahandamu untuk memimpin kerajaan ini,” jawab Baginda Mulia.

Mendengar jawaban itu, Putri Sulung pun terdiam sambil menundukkan kepala. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Bagaimana pendapatmu, Putriku?” desak sang Ibunda.

“Jika sekiranya itu adalah jalan yang terbaik untuk masa depan Ananda dan kerajaan ini, Ananda tidak keberatan. Tapi, bagaimana Ayahanda dan Ibunda memilihkan jodoh untuk Ananda?” Putri Sulung balik bertanya ingin tahu.

Baginda Mulia Nan Arif dan Bijaksana pun menjelaskan semua rencananya. Setelah mendapat persetujuan dari Putri Sulungnya, Baginda Mulia pun segera mengumpulkan semua pejabat istana untuk membicarakan segala hal yang menyangkut keperluan penyelenggaraan gelanggang tersebut. Setelah itu, para pengawal istana segera menyebarkan pengumuman ke seluruh penjuru negeri dan mengirim surat undangan kepada kerajaan-kerajaan tetangga agar bersedia mengirim utusan atau putra mahkota mereka.

Dalam waktu singkat, ramailah orang membicarakan gelanggang yang akan diselenggarakan oleh Baginda Mulia Nan Arif Bijaksana itu. Setiap hari, dari pagi sampai sore, banyak pemuda dan putra mahkota berlatih untuk mengasah kemampuan dan kesaktian mereka.

Sementara para pemuda dan putra mahkota sibuk berlatih, Baginda Mulia beserta pembesar kerajaan sibuk bermusyawarah untuk persiapan pembukaan dalam acara gelanggang tersebut.

“Mahapatih, apa rencana untuk pembukaan gelanggang nanti?” tanya Baginda Mulia kepada Bendahara Kerajaan.

“Ampun, Baginda! Jika hamba boleh mengusulkan, sebaiknya kita mengadakan tari-tarian untuk menyambut para tamu,” jawab Bendahara sambil memberi hormat.

“Ada usulan yang lain?” Baginda Mulia bertanya kepada peserta rapat lainnya.

“Hamba usul Baginda!” sahut salah seorang menteri.

“Apakah itu? Katakanlah!” desak Baginda Mulia.

“Bagaimana kalau kita mengadakan jamuan makan dengan para undangan dan peserta lomba agar semakin eratlah hubungan persaudaraan kita,” ungkap sang Menteri.

 “Ampun, Baginda Mulia! Untuk menjamu mereka, tentu kita harus menyediakan makanan enak dan lezat dari bahan-bahan pilihan,” tambah seorang menteri lainnya.

“Benar, Baginda! Kita harus menyembelih beberapa ekor kerbau yang besar-besar dan sehat-sehat,” Bendahara Kerajaan menambahkan.

Mendengar jawaban itu, Baginda Mulia terdiam sejenak. Ia memikirkan binatang ternak apa yang pantas untuk dihidangkan kepada para tamunya. Sesaat kemudian, tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas dalam pikirinnya.

“Ah, kalau begitu, perintahkan kepada rakyat untuk segera menangkap lima ekor kerbau yang besar-besar di hutan sebelah timur sana! Barangsiapa yang berhasil menangkapnya akan mendapat hadiah yang pantas. Tapi ingat Paman Patih, tidak boleh kurang dari lima ekor kerbau,” tegas Baginda Mulia.

“Daulah, Baginda! Perintah kami laksanakan,” jawab Bendahara sambil memberi hormat.

Bendahara Kerajaan pun segera memerintahkan para pengawal untuk menyebarkan pengumuman ke seluruh pelosok nagari. Dalam waktu singkat, seluruh rakyat nagari mengetahui pengumuman tersebut dan segera melaksanakan titah Baginda Mulia dengan penuh hormat dan tanggungjawab. Sebelum berangkat, mereka mempersiapkan segala keperluan untuk menangkap kerbau dan makanan untuk bekal di perjalanan. Sebab, hutan tempat di mana kerbau-kerbau Baginda Mulia berada sangat jauh dari perkampungan.

Setelah itu, berangkatlah satu rombongan menuju hutan yang dimaksud oleh Baginda Mulia. Berhari-hari mereka berjalan keluar masuk hutan, melintasi sungai-sungai besar, menahan hawa dingin serta terik matahari yang menyengat.

Pada suatu hari, sampailah mereka di sebuah hutan lebat. Pepohonannya tumbuh subur dan hijau.

“Apakah hutan ini yang dimaksudkan Baginda Mulia?” tanya seorang warga kepada penetua (orang yang dituakan), pemimpin rombongan itu.

Belum sempat penetua menjawab, seorang warga lain bertanya pula.

“Di mana kerbau-kerbau itu?”

“Tenang saudara-saudara! Sebaiknya kita cari dulu kerbau-kerbau itu. Barangkali mereka berkeliaran di sekitar hutan ini,” jawab penetua menenangkan anggota rombongannya.

Setelah beberapa lama mencari, mereka tidak juga menemukan kerbau-kerbau tersebut.

“Sudah kita telusuri hutan ini, namun belum juga menemukan kerbau itu,” kata seorang warga yang mulai putus asa.

“Jangan cepat putus asa, saudara! Kalau kita berusaha dengan sungguh-sungguh, kita pasti akan menemukan mereka. Inilah kesempatan kita membaktikan diri kepada Baginda Mulia yang demikian baik dan selalu memperhatikan nasib kita,” ujar penetua memberi semangat.

“Berhubung hari sudah sore, sebaiknya kita beristirahat dulu di tempat ini. Besok pagi-pagi sekali kita melanjutkan pencarian ini di hutan sebelah timur yang memisahkan dua sungai besar itu. Aku yakin hutan itulah yang dimaksudkan oleh Baginda Mulia dan kita pasti menemukan kerbau-kerbau itu,” tambah penetua sembari memberi petunjuk kepada anggota rombongannya.

Keesokan harinya, saat matahari mulai terbit, rombongan itu berangkat menuju ke arah hutan sebelah timur. Setelah melintasi beberapa sungai besar, sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat. Pohon-pohonnya tampak besar-besar dan banyak binatang yang berkeliaran di dalamnya. Saat mereka menjelajahi hutan itu, tak jarang mereka menjumpai binatang buas yang sering mengancam keselamatan mereka. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka patah semangat. Mereka terus berjalan menuju ke tengah hutan.

Penetua! Kita beristirahat dulu sejenak. Rasanya lemas semua badanku,” pinta seorang anggota rombongan.

“Iya, Tuan! Sebaiknya kita beristirahat dulu. Sudah jauh kita berjalan, namun belum menemukan tanda-tanda keberadaan kerbau itu,” tambah anggota rombongan lainnya.

Akhirnya sebagian mereka beristirahat untuk melepas lelah sambil menikmati bekal yang hampir habis. Namun, penetua bersama beberapa anggota rombongan lainnya terus berjalan lebih jauh ke tengah hutan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara keras dan lantang dari seorang warga yang bertubuh gemuk dan besar.

“Koto nan ampek...! Koto nan ampek...! (Ini dia yang empat ekor!)

Anggota rombongan lain yang sedang beristirahat segera berlari menuju ke arah sumber suara itu. Mereka yang tadinya lemas, tiba-tiba menjadi kuat dan bersemangat.

“Akhirnya kita menemukan mereka,” kata penetua.

“Wah... bagus sekali warnanya, bersih dan mengkilap,” ucap seorang warga yang baru saja tiba di tempat itu.

“Untuk mengenang perjuangan kita ini, tempat ini aku namakan Koto Nan Ampek. Semoga anak cucu kita dapat mengenang perjuangan kita dan tempat ini menjadi daerah yang subur seperti keempat kerbau ini,” kata penetua.

Para warga yang ikut dalam rombongan itu pun mengangguk-angguk sebagai tanda setuju. Setelah itu, mereka pun segera menggiring keempat kerbau itu ke sebuah padang rumput.

“Lalu, bagaimana dengan kerbau yang satu ekor, Penetua?” tanya salah seorang warga.

“Aku yakin kerbau itu tidak jauh dari daerah Koto Nan Ampek ini. Sebaiknya kita bagi anggota rombongan yang ada. Sebagian menunggu keempat kerbau ini dan yang lainnya mencari kerbau yang satu itu,” ujar penetua.

“Baik, Tuan!” jawab semua anggota rombongan serentak.

Rombongan pencari kerbau itu pun dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mencari di sebelah utara, sedangkan kelompok kedua mencari di tepian sungai. Ternyata, untuk mencari seekor kerbau tidaklah mudah. Mereka harus menyusuri tepian sungai dan jalan-jalan sempit yang dikelilingi pohon-pohon besar. Namun, hal itu tidak membuat semangat mereka surut. Mereka terus mencarinya ke sana kemari. Tidak berapa lama, tiba-tiba seorang warga berteriak dengan suara keras dan lantang dari arah sungai.

“Koto nan gadang! Koto nan gadang! (Inilah yang besar!).

Mendengar teriakan itu, anggota rombongan lainnya segera mendatangi orang yang berteriak itu.

“Wah, besar sekali kerbau ini!” ucap seorang warga dengan penuh rasa kagum.

“Aku tidak pernah menyangka jika Baginda Mulia mempunyai ternak kerbau sebesar ini!” ungkap seorang warga lainnya.

Akhirnya mereka pun berhasil mendapatkan kelima kerbau itu.

“Untuk mengenang penemuan ini, maka aku namakan daerah ini dengan nama kenegerian Koto Nan Gadang, tempat ditemukannya kerbau yang terbesar. Semoga kenegerian ini akan berkembang maju dan rakyatnya mampu menjadi pembesar-pembesar negeri,” kata penetua sambil mengelus-elus kepala kerbau besar itu.

Alangkah senang hati mereka atas hasil yang mereka peroleh. Rasa lelah yang mereka rasakan pun tiba-tiba hilang. Dengan penuh semangat, mereka menggiring kelima kerbau besar itu menuju istana.

Sesampainya di istana, rombongan penetua itu disambut gembira dan disalami satu per satu oleh Baginda Mulia. Sesuai dengan janjinya, Baginda Mulia pun memberikan hadiah kepada penetua bersama rombongannya, masing-masing satu hektar tanah. Kecuali penetua mendapat dua hektar tanah, karena ia berhasil memimpin rombongannya mendapatkan lima ekor sapi tersebut untuk disembelih dalam acara pembukaan gelanggang.

Pada hari yang telah ditentukan, acara pembukan gelanggang pun dimulai. Tamu yang hadir datang dari berbagai penjuru negeri untuk mengikuti acara tersebut. Mereka disuguhkan berbagai macam makanan enak dan lezat serta pementasan tari-tarian. Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan acara inti, yaitu acara gelanggang. Satu per satu peserta gelanggang menunjukkan kemampuan dan kesaktiannya. Setelah seluruh peserta tampil, ditetapkanlah seorang pemenang dan dinikahkan dengan putri sulung Baginda Mulia Nan Arif Bijaksana.

* * *

Demikian cerita Asal Nagari Koto Nan Ampek dan Koto nan Gadang dari daerah Sumatra Barat. Cerita di atas termasuk legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas, yaitu pentingnya seorang pemimpin yang arif dan bijaksana, serta sifat tidak mudah putus asa.

Pertama, pentingnya seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Sifat ini tampak pada sikap dan perilaku Baginda Mulia Nan Arif Bijaksana dalam memimpin rakyatnya. Ia senantiasa menjalankan kewajibannya dengan baik dan memperhatikan hak-hak rakyatnya, sehingga ia pun dihormati dan dipatuhi oleh rakyatnya. Dalam kehidupan orang Melayu, pemimpin wajib dihormati, ditaati, dan dipatuhi sepanjang ia menjalankan kewajibannya dengan baik dan benar. (Tenas Effendy, 2006). Dikatakan dalam ungkapan Melayu:

Raja adil raja disembah,
Raja zalim raja disanggah

Kedua, sifat tidak mudah putus asa. Sifat ini tercermin pada sifat dan perilaku penetua dalam memimpin rombongannya. Ia tidak pernah berputus asa menghadapi berbagai cobaan dan rintangan yang dihadapi ketika mencari lima ekor kerbau di tengah hutan. Berkat kesungguhannya, ia bersama rombongannya dapat menemukan kelima kerbau tersebut. (Samsuni /sas/105/10-08).

Sumber:

  • Y.B. Suparlan (Penyunting). 2004. Batu Menangis: Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.
  • Anonim. “Kabupaten Lima Puluh Kota,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lima_Puluh_Kota, diakses tanggal 20 Oktober 2008).
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
Dibaca : 14.132 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password