Senin, 27 Maret 2017   |   Tsulasa', 28 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 8.815
Hari ini : 61.324
Kemarin : 113.319
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.007.453
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Esai


Buku Essai Karya Michel de Montaigne

Esai merupakan sejenis karangan singkat yang kebanyakan ditulis berdasarkan pandangan personal penulisnya.

1. Tentang Esai

Ada banyak tema yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk menulis esai, misalnya kritik sastra, pengamatan pada kehidupan sehari-hari, budaya, sastra, atau refleksi dari penulisnya.

Esai sebagai genre karangan mulai dikenal setelah Michel Eyquem de Montaigne (1533-1592) menerbitkan dua jilid buku berjudul Essais. Montaigne menulis buku sejak tahun 1571 kemudian menerbitkannya pada tahun 1580. Sejak saat itu nama esai dinisbahkan sebagai salah satu genre karangan sebagaimana yang ditulis oleh Montaigne tersebut (Agus R. Sarjono, 2004:7; Ignas Kleden, 2004:33). Setelah Montaigne, muncul Francis Bacon (1561-1626) yang menulis esai dengan beragam tema yang cenderung lebih pendek daripada esai-esai karangan Montaigne. 

Essai (Prancis) atau essay (Inggris), yang kemudian diterjemahkan menjadi esai dalam bahasa Indonesia—ada juga yang menyebut esei—mempunyai beragam pengertian. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan esai sebagai karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya (2005:308). Webster Dictionary dalam Agus R. Sarjono (2004:7) menyebutkan bahwa esai adalah sebuah tulisan, karangan, analisis, atau penafsiran tentang sesuatu. Kebanyakan dengan topik yang kurang lebih terbatas, dengan luas, gaya, dan metode bebas, meskipun secara umum dapat dibaca sekali duduk.

Sedangkan Oxford Dictionaries (edisi online dalam http://oxforddictionaries.com). menyebutkan esai sebagai karangan pendek mengenai pokok persoalan tertentu. Pengertian tentang esai juga ditemukan di berbagai sumber yang lain sebagaimana dikutip Agus R. Sarjono (2004:8-9) misalnya dalam Encyclopediae International, Encyclopediae Americana, maupun dalam Ensiklopedi Indonesia.

Di Indonesia, esai sebagai sebuah genre karangan sudah banyak yang menulis. Kita bisa menunjuk karangan Ki Hajar Dewantara “Als Ik Netherlanden Was” (Andai Aku Seorang Belanda), yang kemudian menyebabkan ia ditahan dan dibuang ke Belanda, sebagai bentuk karangan esai. Demikian halnya dengan tulisan Sutan Takdir Alisyahbana bertajuk “Semboyan yang Tegas”, bisa dimasukkan dalam jenis karangan esai. Namun, genre tulisan ini mulai menjadi populer dan menjadi biasa dalam dunia kepengarangan di Indonesia ketika HB Jassin menerbitkan buku Sastra Indonesia dalam Kritik dan Esai (Sarjono, 2004: 8).

Pada era 1950-an, Asrul Sani muncul dengan sejumlah esai tentang sastra, film, teater, serta masalah-masalah pendidikan dan kebudayaan. Beberapa penulis lain yang muncul waktu itu adalah Sitor Situmorang dan Iwan Simatupang. Kemudian pada dekade 1960-an muncul lebih banyak penulis dalam dunia esai, seperti Nono Anwar Makarim, Arief Budiman, Sanento Yuliman, dan Goenawan Mohamad yang masih produktif menulis esai hingga kini (Kleden, 2004:32). Selain beberapa nama tersebut, masih banyak penulis yang menggunakan esai sebagai sarana menyalurkan gagasan mereka.

Dilihat dari segi isi, esai biasanya berisi analisis, penafsiran, serta uraian budaya, sastra, dan filsafat. Esai dapat dibagi menjadi esai formal dan nonformal. Pembagian ini dapat dilihat misalnya pada Ensiklopedi Indonesia dan Encyclopediae International. Namun ada pula yang tidak sependapat dengan pembagian itu, misalnya Webster Dictionary, Encyclopediae Americana, Oxford Dictionary, dan lainnya (Sarjono, 2004: 10).

Pembagian esai menjadi formal dan nonformal juga diikuti oleh beberapa penulis Indonesia yang terangkum dalam berbagai buku karya mereka, misalnya Panuti Sudjiman dalam Kamus Istilah Sastra (1982), Saini KM dan Jakob Sumardjo di Apresiasi Sastra: Sebuah Pengantar (1985), dan HG Tarigan dalam Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa (1983).

Penulisan esai hingga saat ini semakin berkembang. Meskipun pendefinisian, pembagian kategori, dan tema yang bisa ditulis menjadi esai bermacam-macam, agaknya esai senantiasa kembali pada semangat awal dalam menciptakan karangan ini, yakni upaya-upaya atau percobaan-percobaan.

2. Jenis Karangan dalam Esai

Pada dasarnya, jenis karangan dibagi menjadi lima macam, yaitu deskripsi, eksposisi. narasi, argumentasi, dan drama. Penjelasan Gorys Keraf mengenai jenis karangan deskripsi yakni bentuk tulisan yang berhubungan dengan berbagai upaya dari para penulis untuk memberikan berbagai perincian dari hal yang sedang dibicarakan (Gorys Keraf, 1982: 93). Maksud dari tulisan tersebut adalah memberikan gambaran tentang sesuatu.

Keraf juga memberikan penjelasan tentang karangan eksposisi sebagai bentuk tulisan yang berusaha menjelaskan suatu pokok persoalan yang dibahas, yang kemudian dapat memperluas pengetahuan orang yang membaca tulisan tersebut (Keraf, 1982:3). Tulisan ini bertujuan untuk memberi uraian tentang sesuatu.

Sedangkan jenis karangan narasi menurut Keraf adalah jenis tulisan yang dirangkai dan dijalin menjadi sebuah peristiwa yang terjadi pada suatu waktu. Tujuan karangan narasi adalah menceritakan suatu peristiwa (Keraf, 1982:136).  

Karangan argumentasi dalam pandangan Keraf adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi orang yang membaca tulisan tersebut agar percaya dan melakukan apa yang dikehendaki penulis (Keraf, 1982:26). Tujuan tulisan ini adalah memberikan bukti tentang sesuatu atau pun meyakinkan pembaca.

Drama berisi percakapan dan tindakan serta berbeda dengan narasi yang lebih menceritakan peristiwa yang sedang terjadi pada waktu lampau berdasarkan ingatan pencerita. Sedangkan peristiwa yang digambarkan dalam drama adalah peristiwa langsung yang terjadi saat ini, sehingga penggambaran peristiwa melalui tindakan-tindakan. Sarjono merumuskan drama sebagai tulisan yang bertujuan untuk menampilkan suatu tindakan secara langsung (Sarjono, 2004:18).

Berdasarkan pembagian jenis karangan, dalam esai cenderung didominasi karangan yang berjenis argumentasi. Hampir semua esai menjadi ruang bagi penulis untuk meyakinkan pembaca atas suatu persoalan. Perbedaan argumentasi pada esai dan karangan ilmiah yakni, pada karangan esai dijelaskan sejak awal dan upaya untuk meyakinkan tentang suatu masalah tidak jarang merupakan paradoks. Kesimpulan di akhir tulisan justru berkebalikan dan menjadi parodi bagi argumen yang dibangun dari awal. Pada karangan ilmiah hal itu tidak terjadi. Karangan ilmiah berusaha meyakinkan pembaca sesuai dengan apa yang dikemukakan (Sarjono, 2004:18).

Contoh dari apa yang telah dijelaskan di atas terlihat pada esai Goenawan Mohamad “Surat-surat Bachtiar–Khumaini” yang termaktub dalam Catatan Pinggir (1982). Esai ini menjelaskan seputar keadaan Iran pada masa revolusi. Menariknya, tokoh yang dibangun Goenawan Mohammad dalam esainya bukan tokoh Iran, melainkan orang Indonesia yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Revolusi Iran. Dalam esai tersebut, dua tokoh ini, Bachtiar dan Khumaini menjelaskan argumen masing-masing yang bertolak belakang. Bachtiar mempertanyakan keabsahan Khumaini dalam melakukan revolusi dan kecemasannya sendiri mengenai revolusi di Iran. Sementara Khumaini memberikan argumen tegas atas apa yang dikhawatirkan Bachtiar (Sarjono, 2004:18).

Esai “Ksatria” karya Mahbub Djunaidi yang terangkum dalam Humor Jurnalistik (1986) juga disusun melalui argumen-argumen yang paradoks. Dalam karangan itu Mahbub menulis argumentasi melalui pernyataan bahwa Inggris adalah bangsa ksatria. Akan tetapi, penggambaran dalam esainya justru memperlihatkan yang sebaliknya. Hal itu terlihat dari ilustrasi esai ini mengenai kekejaman Inggris pada orang-orang India dan para holigan Inggris terhadap penonton Italia di Stadion Heysel.

Sementara itu, Kleden mencatat beberapa sifat esai sebagaimana dimaksudkan Montaigne, yaitu:

Pertama, maksud utama tulisan esai sebagaimana yang dilakukan Montaigne adalah untuk memahami manusia dan masyarakat secara lebih baik. Metode yang diusulkan Montaigne adalah melakukan introspeksi secara kontinyu mengenai perilaku dan kebiasaan sendiri, mengamati apa yang dilakukan orang lain, serta membaca dan menyelidiki dokumen-dokumen tentang apa yang sudah dilakukan manusia di masa lampau dan apa yang gagal dilakukan.

Kedua, berdasarkan maksud di atas, esai menghindari konsep-konsep abstrak, sebaliknya esai selalu bertolak dari pengalaman. Pengalaman dan refleksi orang yang menulis esai selanjutnya akan  menjadi bentuk pengalaman baru bagi pembaca. 

Ketiga, esai tidak bergulat dengan gagasan-gagasan besar, tapi mengangkat persoalan remeh dan kebijaksanaan-kebijaksanaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Lebih penting lagi, esai mengumpulkan berbagai pengetahuan yang tidak sistematis, namun dapat menjadi inspirasi bagi pembacanya. Esai lebih berkutat pada cara agar bisa mengilhami pembaca tentang kebajikan daripada berkutat dengan sistem pengetahuan yang ketat namun tidak memunculkan kepekaan orang lain tentang kebaikan dan kejahatan (Kleden, 2004:34-36).

3. Bentuk dan Penalaran Esai

Esai mempunyai bentuk khusus dan penalaran yang berbeda dengan karangan yang lain. Penggunaan bahasa dalam esai bersifat khas sesuai dengan gaya penulisnya. Penulisan esai kadang tidak selalu berdasarkan tata bahasa baku. Pembahasan permasalahan didasarkan pada pendapat pribadi penulis. Oleh karena itu bukti, fakta, dan alasan yang disajikan harus mendukung pendapat tersebut (Ahmad Aibli, et.al., 1980:146). Meskipun dalam penulisan esai membutuhkan bukti-bukti sebagai penguat argumen, ada beberapa perbedaan antara esai dan karangan ilmiah.

Karangan ilmiah merupakan pengetahuan yang didapat lewat proses tertentu yang disebut metode keilmuan. Inilah yang membedakan karangan ilmiah dengan tulisan-tulisan yang lain. Karangan ilmiah mempunyai kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan metode ilmiah yang mendasarinya. Penulisan karya tulis ilmiah mematuhi kaidah tertentu, mulai dari mengajukan masalah, menyusun kerangka teori, melaporkan hasil penelitian, ringkasan serta kesimpulan, abstrak, dan daftar pustaka. Dengan adanya kaidah-kaidah ilmiah dalam penulisan karangan ilmiah, diharapkan tulisan tersebut bisa menjamin obyektifitas suatu ilmu (Sarjono, 2004:11).

Kata kunci pada bentuk tulisan esai adalah adanya faktor analisis, interpretasi, dan refleksi. Dalam esai, subyektifitas penulis biasanya lebih menonjol (F. Rahardi, 2006:31). Pengamat melihat kenyataan sebagaimana kenyataan tersebut hadir di dalam kesadaran. Ia kemudian menuliskan pengalaman dan pengamatannya begitu saja tanpa prosedur dan kaidah tertentu. Oleh karena itu, sering kepribadian orang yang mengamati membayang dalam sebuah esai. Keberadaan subyek pengamat dan obyek yang diamati sama-sama berperan penting dan saling mendukung dalam tulisan esai (Sarjono, 2004:13). Hal inilah yang memisahkan dengan jelas antara karangan ilmiah dan karya sastra dengan esai.

Jelas bahwa penulisan esai tidak memiliki kaidah baku tertentu. Tidak adanya kaidah baku tersebut menjadi landasan mengapa tidak ada esai dalam bentuk prosa liris atau pun puisi karena keduanya mempunyai bentuk baku dan aturan tertentu dalam penulisannya.

Menurut Sarjono, hal khusus yang juga terdapat dalam esai adalah penalaran yang digunakan. Penalaran yang digunakan dalam tulisan esai cenderung merupakan penalaran lateral (Sarjono, 2004: 13-14). Sarjono mendasarkan pendapatnya pada karya-karya Montaigne yang terkumpul dalam Essais.

Penalaran lateral merupakan salah satu macam penalaran hasil pemikiran Edward de Bono. Edward de Bono membagi penalaran menjadi dua macam, yaitu vertikal dan lateral. Penalaran vertikal adalah penalaran logis seperti yang dikenal sekarang ini. Berpikir vertikal berarti memusatkan perhatian pada suatu hal sekaligus mengesampingkan sesuatu yang tidak relevan. Dalam berpikir vertikal, logika tulisan dibangun secara bertahap di mana tiap urutannya berkaitan dengan yang lain. Muara dari berpikir vertikal adalah adanya suatu jawaban atau kesimpulan di akhir.  

Model berpikir lateral tidak (harus) menggunakan urutan berpikir yang runtut. Berpikir lateral lebih cenderung bersifat provokatif. Berbeda dengan berpikir vertikal yang cenderung analitis. Selain itu, berpikir lateral juga tidak mensyaratkan urutan-urutan logika sehingga dalam menulis sebuah esai pengarang boleh membuat lompatan-lompatan, baik alur logika tulisan maupun urutan argumen yang disampaikan (Sarjono, 2004:14-15).

4. Penutup

Sejak Michel di Montaigne memunculkan esai sebagai genre baru dalam dunia karang-mengarang, esai terus berkembang hingga saat ini. Di Indonesia, karangan berbentuk esai mulai diperkenalkan kepada publik sejak tahun 1930-an, terutama oleh majalah Pujangga Baroe, yang kemudian berkembang pada zaman sesudah perang hingga saat ini. Hampir sebagian besar tokoh-penulis menggunakan esai untuk menyampaikan gagasannya. Bahkan, boleh dikatakan esai menjadi tolok ukur kepiawaian seorang penulis.

(Mujibur Rohman/bdy/22/02-2011)

Sumber foto: www.bude-orleans.org

Referensi:

Agus R. Sarjono, 2004. “Sebuah Bukan Esai tentang Esai”, dalam Majalah Horison, Edisi XXXVIII/1/2004.

Ahmad Aibli et. al. 1980. Bahasa Indonesia. Jakarta: Yudhistira Ghalia Indonesia.

Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

F. Rahardi, 2006. Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature dan Esai. Depok: Kawan Pustaka.

Gorys Keraf, 1982. Eksposisi dan Deskripsi . Jakarta: Gramedia.

Gorys Keraf, 1982. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.  

Ignas Kleden, 2004. “Esai: Sebuah Godaan Subyektivitas”, dalam Majalah Horison Edisi XXXVIII/1/2004.

Oxford Dictionaries, 2011. [Online] Tersedia di http://oxforddictionaries.com [Diunduh pada 21 Februari 2011].

Dibaca : 8.522 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password