Selasa, 22 Agustus 2017   |   Arbia', 29 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 6.107
Hari ini : 41.817
Kemarin : 74.552
Minggu kemarin : 334.268
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.037.789
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Latar Belakang Sejarah Kesusastraan Melayu Masa Pengaruh Kolonial

Harus diakui bahwa kehadiran bangsa-bangsa Barat memberikan pengaruh besar, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap perkembangan kesusastraan Melayu. Pengaruh ini bermula sebagai pengadopsian dan modifikasi bahasa Melayu—medium utama kesusastraan Melayu dalam semua periode—oleh bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris untuk keperluan-keperluan nonsastrawi, dan berlanjut dengan integrasi estetika kesusastraan Barat ke dalam kesusastraan Melayu secara total sejak paruh pertama abad ke-20 hingga sekarang.

Secara tidak langsung, takluknya Malaka oleh Portugis pada 1511 telah mendorong lahirnya pusat-pusat budaya dan sastra Melayu di Aceh, Johor-Riau, dan kerajaan-kerajaan lain di seantero dunia Melayu, yang pada gilirannya melahirkan Zaman Klasik. Selama Zaman Klasik ini, kesusastraan Melayu masih merupakan kesusastraan yang utuh pada dirinya sendiri, memiliki ukuran-ukuran kesastraan sendiri, dan berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri.

Pengaruh Barat secara langsung muncul pada abad ke-19, tetapi baru menyebar luas pada abad ke-20, yang kemudian mendorong para pelaku sastra Melayu untuk melakukan “pemutusan” total dari estetika sastra Melayu “Lama” dan mempraktekkan suatu estetika sastra Melayu yang “Baru”. Salah satu praksis estetika sastra yang “Baru” ini, dan merupakan wujud pengaruh Barat yang paling besar, adalah pemilahan secara tegas antara yang sastra dan yang bukan sastra.

Jika yang disebut sebagai kesusastraan menurut estetika “Lama” adalah “semua bentuk tulisan dalam aksara Jawi dan karya-karya sastra lisan yang menggunakan bahasa Melayu”, maka estetika sastra Melayu mengadopsi pandangan modern dari Barat yang mengisolasi “yang sastra” secara terbatas pada karya-karya yang mengandung nilai estetis dan literer menurut ukuran-ukuran kesastraan Barat.

Bahasa perdagangan, diplomasi, dan bahasa misi Katolik dan Protestan

James T. Collins (2005:21-23) dan A. Teeuw (1959:24) menyebutkan bahwa orang Eropa pertama yang mengumpulkan kosakata bahasa Melayu adalah Antonio Pigafetta, seorang penjelajah Italia yang bergabung dengan ekspedisi Magellan. Setelah Magellan terbunuh oleh prajurit Lapulapu di Filipina tengah, Pigafetta dan awak kapal yang tersisa terus berlayar ke arah barat hingga tiba di Tidore dan Brunei. Daftar kata Pigafetta ditulis di Tidore pada 1522 dengan menggunakan bahasa Italia dan bahasa Melayu, kemudian diterbitkan dalam versi bahasa Latin-Melayu dan versi bahasa Perancis-Melayu.

Pada abad ke-16 itu, orang Eropa kemungkinan juga telah mulai mempraktekkan kesusastraan Melayu, walaupun hanya sebuah sajak, yaitu untuk memperingati kematian Kapten Dom Paulo da Gama, dalam suatu pertempuran laut di tahun 1553:

Capito D. Paulo
Baparam de Pungor
Angga‘ dia malu
Sita pa ta undor (Collins, 2005:24-25)

Selama abad ke-16, dunia Melayu dan bangsa-bangsa Eropa terlibat dalam perebutan dominasi atas dunia Melayu, di mana perdagangan merupakan bidang yang terpenting. Bangsa-bangsa Barat sangat memerlukan penguasaan bahasa Melayu untuk melancarkan hubungan dagang dengan orang-orang. Bahasa Melayu pada masa itu, selain memegang peran sebagai bahasa bersama, juga berperan sebagaimana bahasa Latin pada Abad Pertengahan di Eropa, yakni sebagai bahasa keagamaan, pengetahuan, diplomasi, dan sastra. Maka sejak itulah orang-orang Eropa mencoba mendokumentasi dan menuliskan bahasa Melayu dengan cara merawat surat-surat dan mendokumentasi pemakaian dan jumlah kata-kata bahasa Melayu.

Peran penting bahasa Melayu untuk melancarkan diplomasi terlihat jelas ketika orang Spanyol di Manila mengirim surat kepada Sultan Brunei pada 1578. Utusan Spanyol membawa dua surat untuk Sultan Brunei, satu surat ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (‘lidah orang Kalimantan‘), yang lainnya ditulis (secara terpisah) dalam bahasa Tagalog di Filipina (‘lidah orang Manila‘) (Collins, 2005:31). Surat yang berbahasa Tagalog dirobek-robek oleh Sultan, sementara surat berbahasa Melayu-Jawi, meskipun berisi “keangkuhan Spanyol” (Haji Awang Mohd. Jamil Al-Safri, 2000:28-30), dibawa ke hadapan Sultan dengan resmi untuk dibacakan dengan lantang oleh petugas istana.

Para misionaris Katolik juga memanfaatkan bahasa Melayu untuk menyebarkan agama Katolik di dunia Melayu—di bawah pengawalan bersenjata Portugis. Misionaris Jesuit Baska, Francesco Javier, pada 1545 tiba di Malaka dari Goa (India) dan mempelajari bahasa Melayu, sehingga mampu menerjemahkan doa-doa Katolik dan katekismus dasar ke dalam bahasa Melayu. Dengan bekal pengetahuan bahasa Melayu ini, Javier mengajarkan doktrin agama Katolik di Ambon dan Morotai.

Dokumentasi bahasa Melayu yang ditujukan semata-mata demi kepentingan perdagangan Barat dilakukan oleh F. De Houtman dari Belanda selama masa penahanannya di Aceh (Juni 1599-Agustus 1601) (Collins, 2005:35; Teeuw, 1994:251-252). Sekembalinya dari Negeri Belanda, De Houtman menerbitkan tsamensprekinghen (percakapan) dalam dua belas pelajaran, masing-masing berisi percakapan dalam bahasa Melayu dan ditulis dengan huruf Latin, dengan kolom terjemahan dalam bahasa Belanda.

Percakapan dalam pelajaran-pelajaran itu dilakukan antara pedagang dan pejabat pelabuhan, pedagang lainnya, penjaga pintu, dewan kerajaan, dan sultan sendiri. Sukses buku ini, yang diterbitkan pertama kali pada 1603 dan berjudul Spraeck ende woordboeck, inde Maleyshce ende Madagaskarsche Talen, dapat diukur dengan jumlah cetakan dan edisinya selama abad ke-17. Buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Inggris (Collins, 2005:35).

Bukti lain tentang penggunaan bahasa Melayu untuk kepentingan diplomasi antara bangsa Barat dan Melayu tersimpan di perpustakaan Bodleian Oxford. Perpustakaan ini menyimpan surat tertua dalam bahasa Melayu, yaitu “Surat Emas” yang dikirimkan oleh Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada 1615 kepada Raja James I (Collins, 2005:44-46).

Bukti lain lagi adalah surat dari seorang bangsawan Banten, Kiai Senopati, kepada pemerintah Kerajaan Inggris. Walaupun tidak ditulis dengan menggunakan huruf Jawi melainkan huruf Jawa, surat ini menggunakan bahasa Melayu (Collins, 2005:46).

Bukti-bukti lain yang sangat banyak jumlahnya tersimpan dalam koleksi arsip Indonesia dan Belanda, yang berisikan perjanjian dan kontrak yang ditulis dalam bahasa Melayu pada abad ke-17 dan biasanya disertai dengan kolom berbahasa Belanda di pinggirannya. Contohnya adalah perjanjian antara Sultan Abdul Mahassin Muhammad Zainal Abidin dari Banten dan VOC, yang ditulis dalam bahasa Belanda, Jawa, dan bahasa Melayu dengan ortografinya masing-masing, dan perjanjian Bongaya yang mengakhiri Perang Makassar-Belanda, yang ditulis pada pinggir halaman dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu dengan disertai beberapa catatan dalam bahasa Makassar (Collins, 2005:51-52).

Dengan demikian, jelas bahwa bahasa Melayu bagi VOC menjadi salah satu unsur yang melancarkan legalisme baru berupa lembaran kontrak tertulis yang menjadi dasar legalnya dalam mengeksploitasi dunia Melayu.

Pengembangan bahasa Melayu oleh bangsa Barat terus berlangsung pada masa-masa berikutnya. Collins (2005:55) menerangkan bahwa pada 1611, Albert Ruyll menerbitkan buku pertama dalam bahasa Melayu yang khusus dibuat untuk orang Melayu, yang ditujukan untuk mengajarkan abjad Latin kepada budak dan pelayan yang masih muda. Buku itu, yang berjudul Speighel vande Maleysche Tale, juga ditujukan untuk mengajarkan bagian dasar Kristen Calvinistic kepada mereka, termasuk Sepuluh Perintah Allah, Pasal Keimanan dan beberapa doa. Formatnya adalah dua kolom, satu kolom dalam bahasa Belanda dan di sebelahnya terdapat dialog-dialog dalam bahasa Melayu. Katekismus berikutnya diterbitkan pada 1623, yaitu Cathecismuss attau Adjaran derri agamma Christaon.

Selanjutnya Collins (2005:61) juga menerangkan bahwa sebuah kamus bahasa Melayu yang baru diterbitkan pada 1623, berjudul Vocabularium ofte Voort-boeck naer ordre vanden Alphabet in‘t Duytsch-Maleysch ende Maleysch-duytsch. Kamus ini merupakan hasil kerjasama antara pendeta Calvinis di Ambon, yaitu Casper Wiltens dan Sebastian Danckaerts. Selanjutnya kamus ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh seorang frater Dominikan, David Haex, di Roma pada 1631, dengan abjad Latin. Lalu keduanya disempurnakan dan diterbitkan kembali secara bersama-sama dalam satu koleksi pada 1707.

F. Guynier juga menerbitkan kamus Melayu-Belanda di Batavia pada 1677, juga dengan abjad Latin, yang merupakan kamus bahasa Melayu pertama yang dicetak di Asia Tenggara. Sementara itu, buku tata bahasa Melayu pertama dalam abjad Latin diterbitkan pada 1655 oleh Joannes Roman. Edisi ini difokuskan pada cara penulisan huruf Jawi dengan tepat. Pada 1674, terbit lagi sebuah buku tata bahasa yang lengkap dan mengikuti model tata bahasa Latin, berjudul Grondt ofte Kort Bericht van de Maleysch Tale.

Penerjemahan Injil ke dalam bahasa Melayu berlangsung seiring dengan meningkatnya pemahaman bangsa Belanda terhadap bahasa Melayu. Collins (2005) menerangkan bahwa Injil Mateus dan Markus dicetak pada 1638, Lukas dan Johanes pada 1646, Injil dan Perbuatan pada 1651, Kitab Kejadian pada 1662, Perjanjian Baru pada 1668 dan Mazmur pada 1689. Franchois Charron pada 1678 menerbitkan kumpulan khotbah mingguan agama di Ambon dengan judul Tsjeremin Acan Pegang Agamma, yang dicetak ulang pada 1693 dan 1738.

Selama abad ke-17 dan memasuki abad ke-18, khotbah ini dibacakan di kalangan Protestan di Jawa dan Maluku, dan tetap digunakan di gereja-gereja pedalaman Ambon sampai awal abad ke-19 (Collins, 2005:61-62).

Dengan banyaknya jumlah komunitas Kristen di Maluku tengah dan Batavia, maka Belanda membangun sekolah berbahasa Melayu dengan target minimal untuk mengajarkan kitab Injil kepada orang Kristen pribumi. Sistem ini tentu saja memerlukan bahan bacaan dan produksi buku-buku berbahasa Melayu, terjemahan, dan pamflet. Hasil dari pembangunan sekolah-sekolah ini adalah digunakannya bahasa Melayu secara resmi sebagai bahasa pengadilan Belanda di Ambon. Manuskrip tertua berbahasa Melayu yang ditulis oleh orang Asia Tenggara dengan menggunakan aksara Latin berasal dari institusi ini, yakni seorang panitera bernama Jan Paijs (Collins, 2005:63).

Bangsa Eropa lain juga mengembangkan bahasa Melayu, walaupun tidak mendalam sebagaimana orang Belanda. Seorang Jerman, Lorber dari Weimar, menerjemahkan buku tata bahasa karangan Roman pada 1688, disertai dengan beberapa contoh nyanyian pendek dengan bahasa Melayu kasar dari batavia (Collins, 2005:67). G. Meister dari Dresden pada 1692 menerbitkan sebuah buku berisi bahasa percakapan berbahasa Melayu antara orang Jerman, Cina, Jawa, dan Melayu yang bekerja di Batavia. Pada 1695, guru besar Bahasa Arab dan bahasa Ibrani dari Oxford, Thomas Hyde, menulis sajak berbahasa Melayu dengan menggunakan huruf Jawi untuk memperingati hari kematian Ratu Mary (Gallop dalam Collins, 2005:67) yang bunyinya:

Rajah di negeri Ingeriz perempuannya
Bermati dan Rajah bergheraq hatinya
Telah men-dengar itu dan segalah
Ra‘ayatnya dengan dia jughah tatkalah
Di dalam landarah amat cintah bernangis
Rajah akan perempuannya men-nangis
Mariam bintang ke dalam su‘rgah cayah
Ampir malaikat bermumin bercayah (Collins, 2005:66)

Orang Inggris lain, Thomas Bowrey, seorang pedagang swasta yang berpengalaman berlayar di pulau-pulau bagian barat Asia Tenggara antara 1669-1688, pada 1701 menerbitkan sebuah kamus berjudul A Dictionary English and Malayo, Malayo and English. Banyak kata dalam kamus tersebut yang tidak dapat ditemukan lagi dalam kamus bahasa Indonesia dan Melayu sekarang. Selain itu, sejumlah definisi yang diberikan terbukti berasal dari semantik arkais dan sekarang tidak digunakan oleh penutur bahasa Melayu.

Enam puluh tahun kemudian, kamus ini dibajak oleh Nobel, dan pada awal abad ke-19 dibajak tiga kali, yang paling jelas oleh Howison (Collins, 2000:68). Buku Howrey juga disertai dengan lampiran percakapan dalam bahasa Inggris dan bahasa Melayu.

Pada akhir abad ke-18, Belanda menghasilkan karya berbahasa Melayu dalam jumlah sedikit, di antaranya adalah kamus tiga bahasa yakni bahasa Belanda, Melayu, dan Portugis oleh Zomerdijk pada 1780, terjemahan resmi (Leydekker) Perjanjian Baru pada 1731 dan Perjanjian Lama pada 1733 dengan huruf Latin dan seluruh Injil dengan huruf Jawi pada 1758.

Buku tata bahasa Melayu juga diterbitkan lagi oleh G. Werndly pada 1736 dan juga ringkasan dari karya-karya berbahasa Melayu, yang meliputi penutur bangsa Eropa maupun bangsa Melayu. Werndly juga menerbitkan beberapa katekismus dan tulisan keagamaan lain pada 1730 (Collins, 2005:70). Di Sulawesi Tengah, seorang pelaut Amerika Serikat bernama David Woodard, yang ditahan selama lebih dari dua tahun (1793-1795), memberikan kosakata bahasa Melayu yang dipengaruhi bahasa Bugis, Makassar, dan bahasa-bahasa lokal Sulawesi Tengah.

Penyiapan bahasa kolonial

Selama paruh terakhir abad ke-18, politik dan ekonomi di hampir seluruh dunia Melayu telah didominasi oleh Belanda dan Inggris. Belanda menguasai hampir seluruh kepulauan Nusantara yang kelak menjadi Republik Indonesia, ditambah dengan beberapa wilayah di Semenanjung, sementara Inggris menguasai sebagian besar Semenanjung dan Borneo bagian utara, ditambah dengan daerah Bengkulu di pesisir Barat pulau Sumatera. Pembagian wilayah seperti ini memberikan pengaruh tersendiri terhadap perkembangan bahasa Melayu.

Di bawah naungan residen Inggris di Bengkulu, B. Hunning, seseorang bernama Lauddin menerbitkan sebuah karya berbahasa Melayu jenis baru pada 1778. Lauddin menulis riwayat hidup ayahnya, Kiai Demang Purwasadena, seorang pedagang lada di ujung Sumatra selatan yang dikontrol VOC dan kesultanan Banten. Tulisan ini dikenal sebagai Hikayat Nakhoda Muda, ditulis dalam huruf Jawi tetapi tidak disusun sebagai mitologi istana atau asal-usul silsilah kerajaan. Di Bengkulu pula pada 1771 hingga 1779 seorang sarjana Inggris yang kelak menjadi sangat terkenal, William Marsden, mengumpulkan bahan dan  meneliti bahasa Melayu.

Pada 1812, Marsden menerbitkan sebuah buku tata bahasa dan A Dictionary of Malayan language. Marsden juga menyunting dan menerjemahkan tulisan Laudin ke dalam bahasa Inggris pada 1830 serta menulis The History of Sumatra pada 1783 (Collins, 2005:72-73) dengan bantuan ayah Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (Maman S. Mahayana, 1995:153). Sementara itu, gubernur Inggris di Semenanjung juga menerima surat-surat dari para sultan di Kedah, Terengganu (1785), Selangor (1787), Perak (1787), Pahang (1787), dan Johor (1787), serta beberapa surat biasa, surat resmi, dan surat dagang dari para pedagang setempat.

Para misionaris Katolik Perancis juga mengembangkan bahan bahasa Melayu, sementara para pedagang Perancis mendokumentasikan bahasa Melayu sebagai bahasa yang digunakan di pelabuhan pantai timur Sumatra (Collins, 2005:73-74).

Persaingan politik-ekonomi antara Belanda dan Inggris memuncak ketika Lord Minto menyerang sekutu Perancis, yaitu Belanda di Hindia Timur, pada 1811 dalam rangka perang melawan Napoleon dan kemudian mendudukkan Thomas Stamford Raffles sebagai penguasa jajahan Belanda. Walaupun berlangsung relatif singkat, kurang lebih selama lima tahun, pengaruh Inggris sangat besar dalam perkembangan bahasa Melayu di daerah jajahan Belanda. Setelah penandatanganan London Treaty pada 1824, Belanda menyerahkan Malaka dan semua haknya di Semenanjung kepada Inggris dan Inggris juga menyerahkan Bengkulu kepada Belanda serta semua haknya di daerah Sumatra dan Jawa.

Masing-masing kekuatan imperalis tersebut berusaha menciptakan bahasa Melayu yang akan menjadi alat yang lebih efektif lagi bagi sentralisasi dan modernisasi. Mereka berusaha menciptakan bahasa Melayu “baku” yang sesuai dengan negara bangsa kolonial yang mereka bangun. Mereka memoles bahasa Melayu dan menerbitkan sejumlah buku teks yang “berjenjang serta indah” untuk digunakan dalam sistem persekolahan “nasional” baru yang dikembangkan untuk kepentingan negara pusat (Collins, 2005:75).

Belanda menerjemahkan tata bahasa Marsden ke dalam bahasa Belanda pada 1824 dan 1825-1826, yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dalam kajian bahasa Melayu dalam tradisi Belanda. Di Semenanjung, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menerbitkan karya-karyanya dengan sokongan misionaris Kristen. Buku-buku ini dicetak di Batavia dan diedarkan sebagai bacaan wajib dalam sistem sekolah kolonial Melayu yang berkembang di Hindia Belanda.

Penelitian ilmiah Belanda pun diterbitkan dalam jurnal ilmiah Inggris Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society. R.J. Wilkinson, penyusun kamus A Malay-English Dictionary, yang merupakan petunjuk leksikal bahasa Melayu sampai sekarang, mengutip sumber-sumber leksikografi Belanda dan juga beberapa buku pelajaran Melayu yang diterbitkan di Batavia (Collins, 2005:75-77).

Pada permulaan abad ke-20, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda semakin giat menyiapkan bahasa Melayu sebagai salah satu alat untuk mendidik para pegawai yang akan bekerja dalam birokrasi untuk melestarikan dominasi atas rakyat jajahan. Namun, posisi bahasa Melayu secara umum masih di peringkat dua karena bahasa Belanda tetap merupakan bahasa resmi pertama dalam struktur birokrasi dan ilmu pengetahuan modern.

Berbagai penelitian dan upaya penguasaan bahasa Melayu oleh pihak kolonial menghasilkan pembakuan bahasa Melayu pada peralihan abad ke-20 setelah sebelumnya didahului oleh H. van de Woll yang pada 1875, dengan pertolongan seorang penulis Riau bernama Haji Ibrahim, menerbitkan sebuah buku bacaan berbahasa Melayu dengan judul Cakap-cakap Rampai-rampai Bahasa Melayu Johor. Persiapan juga dibantu oleh C. Snouck Hurgronje, sebagai penasehat pemerintah kolonial, yang pada 1895 menganjurkan agar bahasa Melayu Riau itu dikenal betul dan orang mengetahui sepenuhnya tentang ilmu bunyi bahasa Riau-Malaka (UU Hammidy, 1998:18).

Pada masa itu paling tidak ada tiga ragam pemakaian bahasa Melayu. Pertama, bahasa Melayu Pasar, yaitu bahasa Melayu yang terpakai sebagian besar dalam dunia dagang, yang telah bercampur dengan berbagai bahasa atau dialek, terutama bahasa Cina. Kedua, bahasa Melayu dialek, yaitu bahasa Melayu yang berada di beberapa daerah yang pengucapannya telah terpengaruh oleh bahasa daerah setempat, di samping perbendaharaan katanya juga banyak memakai bahasa daerah tersebut. Dan ketiga, bahasa Melayu Riau, yaitu bahasa Melayu yang telah dibina dan terpelihara di Riau (UU Hammidy, 1998:16). Pilihannya jatuh pada bahasa Melayu dialek Riau-Johor.

Berkat kerja-kerja literer Raja Ali Haji di Riau, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dapat mulai menentukan bahasa yang menurutnya paling baik dan tepat untuk dikembangkan sebagai suatu bahasa konsolidasi birokrasi kolonial di Hindia Belanda. Ragam bahasa Melayu ini dinilai suci dan murni, dalam semua segi linguistiknya mulai dari kosakata hingga sintaksis dan semantik, karena relatif tidak terpengaruh oleh bahasa-bahasa lain. Kelak, pilihan atas bahasa Melayu dialek Riau ini menjadi titik lemah politik kolonialisme karena bahasa yang terpilih itu justru mengetatkan ikatan kebangsaan baru di kalangan “bangsa-bangsa yang terperintah di Hindia Belanda”.

Pada 1910, Ch Van Ophuijsen mempelajari lagi bahasa Melayu Riau dan menerbitkan buku berjudul Logat Bahasa Melayu. Dia mengungkapkan empat alasan mengapa dialek inilah yang patut menjadi dasar penyusunan tata bahasa yang kemudian bertahan hingga 40 tahun sebelum digantikan oleh ejaan Suwandi pada 1948 (Hammidy, 1998:18):

  1. Bahasa Melayu Riau mempunyai kepustakaan tertulis yang besar jumlahnya, baik yang lama maupun yang baru;
  2. Pengaruh sastra lama masih ditiru (dilestarikan) di Riau;
  3. Bahasa Melayu Riau dipakai di istana-istana Melayu, dalam pergaulan dan surat-menyurat golongan berpendidikan;
  4. Bahasa Melayu Riau paling sedikit mendapat pengaruh dari bahasa-bahasa lain.

Teeuw (1959) mengungkapkan bahwa hingga tahun 1941, bahasa pengantar resmi dalam pendidikan di Hindia Belanda sebenarnya terus menjadi bahan perdebatan. Namun, perdebatan itu berpokok pada dua hal: jika bukan bahasa Belanda, maka bahasa asli daerah yang harus dijadikan bahasa pengantar. Tetapi dalam kenyataannya, penyelesaian ketiga yang berlaku, sesuai dengan K.B 1871 No. 104 yang menegaskan bahwa “Pengajaran dalam sekolah-sekolah bumiputera dilakukan dalam bahasa rakyat; jika tak dapat dipakai, baik oleh sebab kurang kemajuannya, baik karena tak ada alat-alatnya, pengajaran diberikan dalam bahasa Melayu” (Teeuw, 1959:27).

Raja Ali Haji

Karena pentingnya bahasa Melayu Riau dalam skema konsolidasi kolonial, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda bersikap lunak, dan bahkan menyokong secara penuh semua aktivitas literer Raja Ali Haji (1804-1872) di Pulau Penyengat, pusat kerajaan Riau-Lingga, melalui seorang utusan yang bernama H. Van Eysinga.

Raja Ali Haji membina bahasa Melayu dengan membuat sebuah buku tata bahasa Melayu yang berjudul Bustanul Katibin, yang terbit pada 1857. Buku ini kemudian disusul oleh semacam kamus yang mirip ensiklopedi dengan judul Pengetahuan Bahasa pada 1859. Dengan kitab tata bahasa dan kamus itu, para pemakai bahasa Melayu, baik Bumiputera maupun kolonial, mendapat panduan untuk memakai bahasa Melayu yang baik. Selain karya-karya kebahasaan Melayu, Raja Ali Haji juga menciptakan karya-karya sastra lain. Yang paling terkenal tentu saja Gurindam Dua Belas (1847). Selain itu, Raja Ali Haji juga menulis Silsilah Melayu dan Bugis (1861), Tuhfat Al-Nafis (1866) dan lain-lain.

Pembinaan ini dilanjutkan oleh sejumlah pengarang dari Riau lain yang tergabung dalam perkumpulan cendekiawan Rusydiah Klab. Bahasa yang dikembangkan oleh perkumpulan ini juga dikenal sebagai bahasa Melayu dialek Riau-Johor, yang menjadi asal usul bahasa Indonesia, bahasa Melayu di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam (Hammidy, 1998:27-28).

Dengan dialek bahasa Melayu yang sama dengan yang dipilih oleh pemerintah kolonial, yang kemudian menjadi ragam bahasa Melayu Tinggi atau sekolah, Raja Ali Haji dan para penulis di Rusydiah Klab menciptakan karya-karya agung yang menjadi khasanah Kesusastraan Melayu Klasik, sehingga Raja Ali Haji memperoleh julukan “Bapak Kesusastraan Melayu” (Maman, 1995:160-166).

Mesin Cetak

“Pelaksana teknis” penyebaran dialek bahasa Melayu Riau pilihan pemerintah kolonial tentu saja adalah hadirnya teknologi percetakan baru di dunia Melayu. Jika pada masa sebelumnya karya-karya kebahasaan dan kesusastraan di dunia Melayu direproduksi secara manual dengan menyalin naskah, maka setelah hadirnya teknologi percetakan baru, naskah-naskah Melayu, terutama karya-karya sastra, diproduksi dengan mesin cetak, sehingga menghasilkan jumlah yang besar dan dapat didistribusikan secara lebih luas.

Peralihan situasi ini ditandai dengan penggunaan litograf atau cap batu dan dilanjutkan dengan mesin cetak yang lebih rumit (Piah et.al., 2002:6), yang kemudian mengubah situasi kesusastraan Melayu dalam periode yang sangat singkat. Di Semenanjung, London Missionary Society yang dibentuk di Malaka pada 1815 memperkenalkan teknologi percetakan di Malaka. Sedangkan pelopor mesin cetak di Singapura adalah Mission Press yang dibentuk pada 1824. Sementara itu, percetakan pertama yang didirikan di Pulau Pinang didirikan pada 1806 oleh A. Bone (Ding Choo Ming, 2008:142-143).

Secara umum, sebagian besar pakar bahasa dan kesusastraan Melayu menyepakati tarikh 1800 sebagai momen peralihan ini dan orang pertama yang mencetak naskah Melayu dengan teknologi modern adalah Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, yang mencetak Sejarah Melayu dengan “cap huruf timah” pada 1831 di Singapura.

Sweeney (2005:3-8) menerangkan bahwa teknologi percetakan hadir di dunia Melayu mula-mula untuk membantu pengembangan agama Kristen yang sering disamarkan sebagai pendidikan umum. Namun, pada pertengahan abad ke-19, pengusaha Islam mulai memanfaatkan teknologi ini. Bidang usaha penerbitan oleh orang Melayu-Islam berkembang dalam bidang yang sebelumnya dikuasai budaya sastra manuskrip Melayu.

Ian Proudfoot (dalam Sweeney, 2005:4) mencatat bahwa dalam kurun waktu 1860-1920, 60% dari segala edisi buku yang terbit di Singapura dihasilkan oleh penerbit Muslim, sedangkan hanya 37% diterbitkan oleh pihak pemerintah (kolonial) dan misionaris—walaupun jumlah eksemplarnya lebih banyak. Wilkinson (dalam Sweeney, 2005:5) menyebutkan bahwa contoh-contoh karangan yang disenangi orang Eropa adalah Hikayat Abdullah, cerita “pelipur lara yang primitif”, dan cerita “jenaka”.

Perbedaan selera juga yang menyebabkan pemerintah kolonial Inggris yang bekerjasama dengan misi Kristen cenderung menyingkirkan karya-karya yang berfokus Islam dan menyebarkan karya-karya pilihan sebagai propaganda pro-Inggris (Sweeney, 2005:7), seperti karya-karya Abdullah yang kritis terhadap adat istiadat Melayu.

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1797-1854) mengawali karir kepenulisan sebagai pembantu bagi ayahnya, yang membantu Marsden menyusun A History of Sumatra. Abdullah juga mengumpulkan naskah-naskah lama dari Lingga, Riau, Pahang, Trengganu, dan Kelantan (Maman, 1995:153). Menurut Piah et.al. (2002:65), sebagian besar dari manuskrip yang ada dalam koleksi Library of Royal Asiatic Society of London dan koleksi lengkap di American Library of Congress berasal dari tangan Abdullah. Sepanjang hidupnya, Abdullah meniti karir sebagai guru bahasa dan juru bahasa untuk para sarjana Barat dan misionaris Kristen.

Karya Abdullah yang paling terkenal tentu saja Hikayat Abdullah (1849) yang merupakan riwayat hidupnya sendiri dan diterbitkan di Singapura. Karya-karyanya yang lain adalah Kisah Pelayaran Abdullah Sampai ke Negeri Kelantan (1838), Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekkah (1858-1859), Syair Singapura Dimakan Api (1843), Cerita Kapal Asap (1843), Syair Kampung Gelam Terbakar (1847?), terjemahan Hikayat Kalilah dan Daminah (1835) dari versi bahasa Tamil. Abdullah juga orang pertama yang mencetak karya agung Sejarah Melayu dengan percetakan modern (“cap huruf timah”) di Singapura (1831).

Abdullah juga menyusun Kitab Kamus Bahasa Melayu yang tidak berhasil diselesaikannya, namun menjadi salah satu panduan bagi Wilkinson, Klinkert, dan Von de Wall dalam menyusun kamus bilingual Melayu-Belanda atau Melayu-Inggris (Maman, 1995:155). Selain itu, Abdullah juga terlibat dalam kerja kolaboratif dengan para misionaris seperti Thomsen, North, dan Krasberry (Sweeney, 2005:8).

Para sarjana kolonial memberikan tanggapan yang positif dan bertendens terhadap kerja-kerja literer, dan memandang karya-karya Abdullah terutama dengan pendekatan sejarah (Sweeney, 2005:9-11). Hooykaas (dalam Seeney, 2005:11) memujinya dengan cara demikian: “Telah pada satu abad yang lalu tanah Malaya mengadakan seorang yang ajaib dari jenis itu, seorang yang sungguh lain daripada yang lain”. Sedangkan Winstedt (dalam Sweeney, 2005:11) memujinya: “Biarpun seorang asing, ia membimbing mereka (yaitu orang Melayu) dari gurun yang tandus, yaitu kegersangan bahasa yang berbunga-bunga dan berlebih-lebihan serta peniruan contoh-contoh asing, kembali kepada suatu realisme yang mulai pada abad ke-15....”

Wilkinson (dalam Sweeney, 2005:11) menjuluki Abdullah sebagai “pelopor sastra baru”, dan Skinner (dalam Sweeney, 2005:12) menyebutnya sebagai “Bapak Sastra Melayu”, sementara Hill (dalam Sweeney, 2005:11-12) memujinya: “Biarpun terdapat kecenderungan untuk berkhotbah yang kadang-kadang membosankan, serta gaya bahasa yang sembrono di sana-sini, namun ‘pelaporannya‘ secara langsung jelas menyegarkan seperti pancuran air sejuk berbanding hikayat yang tampak-rimbun”.

Tanggapan-tanggapan para sarjana kolonial tersebut menggema dalam berbagai pendapat para kritikus sastra selanjutnya, bahkan setelah negara-negara kolonial Eropa di dunia Melayu runtuh. H.B. Jassin, Ajip Rosidi, Zuber Usman, dan A. Teeuw sepakat menyebutnya sebagai “perintis dan pembaharu kesusastraan Melayu” (Maman, 1995:152).

Dari segi bentuk karya sastra, Abdullah memang menerapkan strategi literer yang berbeda dalam karya-karyanya dibandingkan dengan para penulis Melayu yang lain dan bahkan sangat berbeda dari “Bapak Sastra Melayu” yang lain, yakni Raja Ali Haji. Walaupun masih menggunakan gaya bahasa yang dipetik dari gaya bahasa Sejarah Melayu, dia menggunakan gaya penceritaan akuan (aku sebagai pencerita), yang menurut Panuti Sudjiman (dalam Maman, 1995:152) merupakan yang pertama dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Selain itu, dalam isinya pun Abdullah telah berani mengupas masalah sosial dan kehidupan sehari-hari, dan bahkan melontarkan kritik yang sangat pedas terhadap adat istiadat yang berlaku pada waktu itu (Maman, 1995:152).

Walaupun memperoleh berbagai tanggapan bernada positif, namun Amin Sweeney (2005) menerangkan bahwa posisi Abdullah yang kokoh dalam sejarah sastra Melayu tersebut adalah tendens yang didukung oleh penguasa kolonial pada masa Abdullah hidup. Kritik keras Abdullah terhadap adat istiadat Melayu dan anjuran-anjurannya untuk meningkatkan taraf kehidupan orang Melayu melalui pengadopsian nilai-nilai baru dari Barat, yang semuanya terkandung dalam karya-karya Abdullah, sebenarnya telah disunting oleh para penyunting karya-karyanya yang merupakan misionaris Kristen dan membawa agenda-agenda budaya dan politik Barat. Jadi, tidak aneh jika karya-karya Abdullah (yang telah disunting) terbit dalam media seperti Cermin Mata di Singapura yang dikelola oleh misionaris Protestan.

Naguib Al-Attas (1990:67-68) bahkan menyatakan bahwa peranan pelopor modernisasi kesusastraan Melayu seharusnya ditarik lebih jauh lagi kepada Hamzah Fansuri, bukan Abdullah. Pendapat Al-Attas dilandasi argumen bahwa Abdullah mengambil teladan kebahasaan dari Sejarah Melayu, padahal bahasa dalam karya teladan itu adalah bahasa yang membayangkan pandangan hidup lampau yang dipengaruhi konsep-konsep Animisme-Hindu-Buddha. Bagi Al-Attas, gaya bahasa Abdullah adalah penjelmaan terakhir dari gaya bahasa Malaka yang lama dan lambat laun digantikan oleh gaya bahasa Melayu-Islam yang saintifik dan lebih modern—gaya bahasa yang dipelopori oleh Hamzah Fansuri pada abad ke-16.

Multatuli

Seiring dengan giatnya pemerintah kolonial dalam mengembangkan bahasa Melayu, bangsa Barat juga mengembangkan kesusastraannya sendiri dengan menggunakan medium bahasa-bahasa Barat namun mengambil inspirasi dan tema dari dunia Melayu. Hasil-hasil kesusastraan bangsa Barat semacam ini meninggalkan pengaruh yang besar pada masyarakat jajahan, dan salah satu di antaranya bahkan sanggup menentukan arah politik kolonial Belanda.

Multatuli menulis roman Max Havelaar yang ditulis dalam bahasa Belanda dan berkisah tentang kehidupan rakyat jajahan di Banten yang menderita di bawah birokrasi kolonial selama masa Tanam Paksa. Roman ini diajarkan di sekolah-sekolah negeri pada masa kolonial, dan bahkan tetap diajarkan juga setelah Indonesia merdeka, terutama dalam pelajaran sejarah.

Roman ini dianggap sanggup membuka mata politisi di Negeri Belanda akan kebobrokan administrasi pemerintahan di Hindia Belanda sehingga rakyat petani Indonesia menderita. Karena pengaruh buku ini, maka sistem Tanam Paksa kemudian diganti dengan sistem liberal yang menyerahkan kekuasaan ekonomi kepada pihak swasta di Hindia Belanda. Alhasil, roman ini kemudian berkembang menjadi semacam mitos tentang kedigdayaan karya sastra dalam mengubah arah politik suatu pemerintahan.

Terbit pada 1860, Max Havelaar langsung disambut dengan pujian sekaligus cacian di Negeri Belanda. Salah seorang penanggap memberi pujian dengan menyatakan bahwa seluruh bangsa Belanda harus berterima kasih kepada Multatuli dan harus berteladan kepadanya dalam menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, kejujuran dan kesungguhan. Bagi Brunsina, Multatuli adalah seorang pendidik bagi generasi muda di Negeri Belanda (Vitus Brunsina dalam Subagio Sastrowardoyo, 1989:86).

Sementara itu, seorang penanggap yang lain bernama W.H.W. de Kock justru mengatakan bahwa Multatuli tidak punya hak untuk mengecam pemerintahannya, karena dia sendiri tidak punya landasan moralitas yang kuat. Misalnya, Multatuli tidak menunjukkan tanggungjawab karena menelantarkan keluarganya, ketika dia mengembara sebagai bohemian di Eropa setelah dia dipecat dari jabatan asisten residen Banten (W.H.W. de Kock dalam Sastrowardoyo, 1989:87).

Apapun tanggapannya, Multatuli dan Max Havelaar tetap lestari di dalam sejarah Indonesia. Bahkan, setelah Indonesia merdeka, revitalisasi roman ini dilakukan melalui penerjemahan oleh Bakri Siregar pada 1954, sementara terjemahan lengkapnya diterbitkan oleh H.B. Jassin pada 1972. Pada 1976, roman ini ditransformasi menjadi film, walaupun baru diloloskan oleh Badan Sensor Film pada 1987.

Balai Pustaka

Konsolidasi bahasa Melayu Riau sebagai bahasa birokrasi kolonial dikokohkan dengan pendirian Commissie voor de Volkslectuur (Komisi untuk Kesusastraan Rakyat) pada 1908 (Ajip Rosidi, 1973:79; M.C. Ricklefs, 1995:281). Karena merupakan badan pemerintah, maka ragam bahasa yang digunakannya adalah bahasa Melayu Riau, yang kemudian berkembang menjadi bahasa Melayu Tinggi atau Sekolah (mungkin karena disebarkan terutama melalui lembaga pendidikan), dan ditulis dengan menggunakan aksara Latin. Sedangkan ejaan yang digunakannya adalah ejaan yang telah disistematiskan oleh van Ophuiysen—yang kemudian juga diadopsi oleh pers yang jumlahnya mulai melimpah pada awal abad ke-20.

Menurut M.C. Ricklefs (1995:281) Balai Pustaka melaksanakan tiga fungsi pokok: menerbitkan karya-karya sastra klasik yang lebih tua dan cerita-cerita rakyat dalam bahasa-bahasa daerah, menerjemahkan kesusastraan Barat ke dalam bahasa Melayu (Tinggi), dan menerbitkan kesusastraan Indonesia baru. Tujuan utama Volkslectuur adalah menyediakan bahan bacaan untuk keperluan pendidikan dan bahan bacaan ringan dalam bidang sains umum dan kesusastraan, serta memodernisasi dan menyebarkan bahasa Melayu (James N. Sneddon, 2003:95). Tentu saja ada dimensi politis dalam hasil-hasil terbitan badan ini: Volkslectuur hanya menerbitkan bahan-bahan bacaan yang kandungan ideologisnya dianggap patut oleh otoritas penguasa.

Politik penerbitan ini terus berlaku hingga menjelang kemerdekaan Indonesia: Volkslectuur, yang kemudian berganti nama menjadi Balai Pustaka, enggan memberikan pengalaman intelektual kepada para pembacanya, yang rata-rata masih tingkat sekolah dasar dan menengah (Jakob Sumardjo dalam J.B. Kristanto [ed.], 2000:531).

Volkslectuur bersalin nama menjadi Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor untuk Kesusastraan Rakyat) atau Balai Pustaka (Balai Poestaka dalam ejaan aslinya) pada 1917. Walaupun juga menerbitkan buku-buku dan bahan bacaan dalam bahasa Belanda dan bahasa-bahasa daerah, kekuatan utama Balai Pustaka adalah pada penerbitan bahan-bahan bacaan berbahasa Melayu, yang terutama diterapkan pada bahan-bahan pendidikan modern dan informatif yang sangat banyak jumlahnya.

Bahan-bahan bacaan dari Barat yang oleh pemerintah kolonial dianggap sesuai untuk khalayak Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Penyaduran karya sastra Barat juga dilakukan. Merari Siregar, salah seorang pegawai paling awal di Balai Pustaka, atas usul pemimpin Balai Pustaka, D.A. Rinkes, menyadur Jan Smees karya Justus van Maurik, yang aslinya terbit di Negeri Belanda pada 1879, yang merupakan sebuah novela dalam kumpulan cerita Uit Het Volk (Teeuw, 1994:145). Hasil sadurannya adalah Si Jamin dan Si Johan, diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada 1918.

D.A. Rinkes juga merancang dan menerapkan sistem keagenan dan perpustakaan umum di seluruh wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Melalui sistem ini, Balai Pustaka tidak hanya menyediakan bacaan berupa novel dan karya-karya terjemahan, tetapi juga booklet-booklet dengan berbagai topik, mulai dari petunjuk perawatan anak hingga cara memperbaiki sepeda. Rinkes juga mempelopori perpustakaan keliling, berupa kios buku yang dikombinasikan dengan kendaraan bermotor (Sneddon, 2003:95).

Walaupun sebagian besar editor di Balai Pustaka berasal dari Minangkabau, tetapi etnis lain pun memberikan pengaruh terhadap produk-produknya. Majalah mingguan pertama terbitan Balai Pustaka, misalnya, disunting oleh seorang Madura (Sneddon, 2003:97). Para editor inilah yang memantabkan pembakuan bahasa Melayu Tinggi. Mereka mematuhi panduan penyuntingan yang berlaku di badan tersebut dengan ketat, sehingga bahasa Melayu (Tinggi) tertulis dan formal cenderung dapat dikontrol oleh pemerintah kolonial.

Balai Pustaka juga mendorong para penulis Indonesia untuk menciptakan karya-karya sendiri. Penulis pertama yang menerbitkan novel berbahasa Melayu adalah Marah Rusli, yang menerbitkan Azab dan Sengsara pada 1920—dan sering dianggap sebagai batu pertama kesusastraan Indonesia modern dalam pelajaran sastra di sekolah.

Dengan personel editor dan penulis tersebut, Balai Pustaka mampu menerbitkan 40 surat kabar pada 1918, dan pada 1925 badan ini menerbitkan kira-kira 200 surat kabar, hampir semuanya menggunakan bahasa Melayu (Sneddon, 2003:97). Walaupun produksi Balai Pustaka sangat melimpah, namun pemantaban bahasa dan kesusastraan Melayu pada masa ini tidak dimonopoli oleh badan ini. Balai Pustaka bersaing ketat dengan terbitan-terbitan, terutama dalam bidang pers, yang dihasilkan oleh golongan Tionghoa, baik Totok maupun Peranakan.

Golongan Tionghoa di Indonesia dan Malaysia berperan serta dalam pengembangan bahasa Melayu sejak abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20. Peran serta ini terutama dilakukan melalui bidang pers dan kesusastraan. Surat-surat kabar terbitan golongan Tionghoa tidak memberlakukan penggunaan bahasa Melayu Sekolah yang ketat sebagaimana Balai Pustaka, tetapi lebih cenderung menggunakan ragam bahasa Melayu yang disebut sebagai bahasa Melayu Pasar yang kemudian secara peyoratif sering disebut sebagai bahasa Melayu Rendah, dilawankan dengan bahasa Melayu Tinggi atau Sekolah yang didukung oleh pemerintah kolonial. Bahkan, saking meluasnya penggunaan ragam bahasa Melayu Pasar oleh surat-surat kabar Tionghoa, ragam bahasanya sering juga dirujuk sebagai bahasa Melayu-Tionghoa, Melayu-Betawi atau bahasa Melayu Rendah—namun atribut “Rendah” ini, menurut Leo Suryadinata (dalam Ding Choo Ming & Ooi Kee Beng [eds.], 2003:18) baru muncul setelah bangkitnya gerakan nasionalis.

Karya-karya sastra yang menjadi saingan karya-karya sastra terbitan Balai Pustaka adalah karya-karya yang menggunakan ragam bahasa Melayu Pasar ini, yang ditulis oleh golongan Cina Peranakan maupun pribumi. Yang patut dicatat, “karya pertama” yang lain dalam kesusastraan Indonesia modern ditulis dengan ragam bahasa ini, yaitu Student Hidjo (1918) karya Mas Marco Kartodikromo (kemungkinan besar penulis ini juga menulis karya lain berupa novela dengan judul Mata Gelap, yang diduga terbit pada 1914, tetapi karya ini sudah tidak dapat ditemukan lagi) dan Hikayat Kadiroen (1920) karya Semaun.

Bahasa Perjuangan

Selain mahir dalam bahasa ibu masing-masing, orang-orang bumiputera yang terdidik dalam sekolah-sekolah modern juga mahir dalam bahasa Belanda, bahasa Inggris dan bahasa Melayu, yang merupakan bahasa-bahasa pengantar resmi dalam pendidikan dan birokrasi kolonial—yang menjadi pengguna utama para lulusan sekolah-sekolah itu. Kelas terpelajar inilah yang kemudian menyemaikan benih-benih kesadaran nasional baru di seantero dunia Melayu, terutama setelah kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 dan perkenalan dengan ide-ide kebangkitan nasionalis Asia dari Sun Yat Sen.

Seiring dengan bangkitnya sentimen nasionalisme bangsa-bangsa timur, bahasa dan sastra Melayu mengalami babak baru dan memperoleh fungsi, apresiasi dan peranan baru yang berbeda, yang seringkali saling terhubung-kait dengan faktor-faktor politis, yakni sebagai bahasa perjuangan.

______________________

Referensi

A. Teeuw, 1959. Pokok dan tokoh dalam kesusasteraan Indonesia baru I. Jakarta: Djambatan.

_______, 1994. Indonesia antara kelisanan dan keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Amin Sweeney, 2005. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia & Ecole Normale d‘Extreme-Orient.

Ding Choo Ming, 2008. Pantun Peranakan Baba mutiara gemilang dari Negeri-negeri Selat. Selangor: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Haji Awang Mohd. Jamil Al-Sufri, 2000. Latar belakang sejarah Brunei. Bandar Seri Begawan: Pusat Sejarah Brunei Kementerian Kebudayaan, Belia, dan Sukan.

James N. Sneddon, 2003. The Indonesian language: its history and role in modern society. Sidney: UNSW Press.

James T. Collins, 2005. Bahasa Melayu bahasa dunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia & KITLV.

Leo Suryadinata, 2003. “The contribution of Indonesian Chinese to the development of the Indonesian press, language, and literature” dalamDing Choo Ming & Ooi Kee Beng (eds.), 2003. Singapura:Eastern Universities Press. Hal. 82-96.

M.C. Ricklefs, 1995. Sejarah Indonesia modern. Edisi ke-5. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Subagio Sastrowardoyo, 1989. Pengarang modern sebagai manusia perbatasan. Jakarta: Balai Pustaka.

Syed naguib Al-Attas, 1990. Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu. Cetakan ke-4. Bandung, Penerbit Mizan.

UU Hammidy, 1998. Dari bahasa Melayu sampai bahasa Indonesia. Pekanbaru: Pusat Dokumentasi Bahasa dan Budaya Melayu Universitas Lancang Kuning.

(An. Ismanto/12/10-09)

Dibaca : 19.756 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password