Rabu, 24 Mei 2017   |   Khamis, 27 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 8.676
Hari ini : 64.427
Kemarin : 111.111
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.454.982
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Ungkapan Melayu tentang Sikap Malu dan Tahu Diri


Ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri berisi tentang peringatan dan ajaran budi pekerti bagi setiap orang untuk menjaga diri dan rasa malunya, baik ketika sendiri maupun saat bergaul dengan lingkungan dan sesama warga masyarakat.

1. Asal-usul

Dalam menata diri, baik secara pribadi maupun ketika berhubungan dengan masyarakat umum, orang Melayu berusaha selalu menjaga sikap malu dan tahu diri. Meskipun hal seperti ini tergantung pada kualitas pribadi setiap orang, tradisi leluhur orang Melayu telah mengajarkan pentingnya menjaga sikap. Ajaran itu tertuang dalam ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri (Nizamil Jamil, ed., 1982).

Ungkapan ini berisi tentang peringatan dan ajaran budi bagi setiap individu untuk menjaga diri dan rasa malunya, baik ketika sendiri maupun saat bergaul dengan masyarakat. Orang Melayu menganggap bahwa aib sendiri atau orang lain harus dijaga karena membuka aib sama halnya dengan mencoreng muka sendiri (Tenas Effendy, 1991; Budi S. Santoso, 1986). Jika mencermati ungkapan-ungkapan itu, terlihat bagaimana leluhur orang Melayu menghubungkan sikap malu dan tahu diri dengan kesadaran yang harus dimiliki oleh seseorang.

Selain itu, peringatan untuk menjaga sikap malu dan tahu diri dikaitkan dengan adat Melayu yang menjunjung tinggi marwah, yang berbunyi: Tau idup dikandung adat, tau mati dikandung tanah. Hinga kini, ungkapan tentang rasa malu dan tahu diri ini masih sering disampaikan sebagai nasehat dan petunjuk bagi orang Melayu, khususnya ketika Idul Fitri, resepsi perkawinan, atau pengajian. Semua itu ditujukan sebagai bahan renungan agar terhindar dari perbuatan yang tidak sesuai dengan adat maupun dengan norma-norma sosial lainnya (Effendy, 1991; Jamil, ed., 1982). 

2. Konsepsi Ungkapan Melayu tentang Malu dan Tahu Diri

Ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri merupakan ajaran budi pekerti bagi keluarga dan lingkungan sosial. Berikut ini adalah bait-bait dari untaian ungkapan tersebut:

Malu menyingkap kain di badan, malu membuka aib orang

Malu menyingkap kain di badan, malu membuka aib orang


Malu menoreng arang di koning

Malu mencoreng arang di kening

 

Malu ke tongah berminyak aei, malu ke topi mengelak utang

Malu ke tengah berminyak air, malu ke tepi mengelak utang

 

Malu telanggo pada syarak

Malu terlanggar pada syarak

 

Malu telando pada lembago

Malu terlanda pada lembaga

 

Malu tetaung pado adat

Malu tertarung pada adat

 

Malu tekalang pado udang

Malu terkalang pada undang

 

Ogo garam pada masinnya, ogo manusio pado malunya

Harga garam pada asinnya, harga manusia pada malunya

 

Malu temakan pada sumpah, malu tetolan pado amanah

Malu termakan pada sumpah, malu tertelan pada amanah

 

Menutup malu dengan malu, Tau duduk dengan tegak

Menutup malu dengan malu, Tahu duduk dengan tegak

 

Tau gelanggang tompat mainan, Tau asal kejadian

Tahu gelanggang tempat bermain, Tau asal kejadian

 

Tau idup bekesudahan, tau mati bekokalan

Tahu hidup berkesudahan, tahu mati berkekalan

 

Tau pangkalan tompat belabou, tau tepian tompat mandi

Tahu pangkalan tempat berlabuh, tahu tepian tempat mandi

 

Tau diri dengan perinyo, tau marwah dengan tuahnyo

Tahu diri dengan perinya, tahu marwah dengan tuahnya

 

Tau alou dengan patutnyo, tau salah dengan silahnyo

Tahu alur dengan patutnya, tahu salah dengan silahnya

 

Tau toluk timbunan kapo, tau tanjong pumpunan angin

Tahu teluk timbunan kapar, tahu tanjung pumpunan angin

 

Tau pasang menyentak naik, tau su-ut menyentak su-un

Tahu pasang menyentak naik, tahu surut menyentak turun

 

Tau umah ado adatnyo, tau tepian ado basonya

Tahu rumah ada adatnya, tahu tepian ada bahasanya

 

Tau dagang betopatan, tau galas besandoan

Tahu dagang bertepatan, tahu galas bersandaran

 

Tau darah setampuk pinang, tau umou setaun jagung

Tahu darah setampuk pinang, tahu umur setahun jagung

 

Tau idup ado utangnyo, tau mati ado bokalnyo

Tahu hidup ada utangnya, tau mati ada bekalnya

 

Tau kocik belom benamo, tau bosos bolum begolo

Tahu kecil belum bernama, tahu besar belum bergelar

 

Tau idup dikandung adat, tau mati dikandung tanah

Tahu hidup dikandung adat, tahu mati dikandung tanah

 

Tau otak ado pocahnyo, tau sumbing ado belahnya

Tahu otak ada pecahnya, tahu sumbing ada belahnya

 

Tau onak yang menyombo, tau batang yang melintang

Tahu onak yang menjemba, tahu batang yang melintang

 

Tau uncing melukokan, tau lubang menjatoukan

Tahu runcing melukakan, tahu lubang menjatuhkan

 

Tau manis memabukkan, tau pait membotahkan

Tahu manis memabukkan, tahu pahit membetahkan

3. Nilai-nilai

Ungkapan Melayu tentang malu dan tahu diri mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan orang Melayu, antara lain:

  1. Introspeksi diri. Nilai ini tercermin jelas dari kalimat-kalimat dalam ungkapan yang memang mengajak orang Melayu untuk selalu mawas diri. Di sisi lain, introspeksi diri ini akan berdamapk pada sikap sosial, yakni menjaga martabat orang lain yang sebenarnya itu juga berarti menjaga marwah diri sendiri.   
  2. Melestarikan sastra tradisional. Nilai ini tercermin dari bait-bait ungkapan Melayu sebagai karya sastra. Dengan ini, orang Melayu diharapkan dapat menata diri dan kehidupan sosialnya.
  3. Menjaga adat. ungkapan Melayu ini merupakan karya leluhur yang dijadikan adat orang Melayu. Oleh karena itu, mempelajari ungkapan-ungkapan sastrawi ini secara tidak langsung juga menjaga adat-istiadat Melayu.
  4. Nilai sosial. Nilai ini tercermin dari ungkapan: Malu menyingkap kain di badan, malu membuka aib orang. Dari ungkapan ini, secara sosial orang Melayu dituntut untuk menghormati rahasia orang lain.
  5. Religius. Nilai ini tercermin dari ungkapan: Tau idup ado utangnyo, tau mati ado bokalnyo. Dari ungkapan ini, orang Melayu diperingatkan agar jangan melupakan kehidupan setelah mati.

4. Penutup

Ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri tampak sekali mencerminkan kemanusiaan seseorang. Manusia yang tidak lepas dari salah dan benar. Agar tidak terjerembab dalam malu, ia harus menjaga sikap tahu dirinya. Dalam konteks ini, ungkapan-ungkapan di atas akan memuat fungsi yang penting.

(Yusuf Efendi/Bdy/66/06-2011)

Sumber Foto: http://tutinonka.wordpress.com

Referensi

Budi S. Santoso, 1986. Masyarakat Melayu dan Kebudayaannya. Riau: Pemda.

Nizamil Jamil (ed.), 1982. Upacara Perkawinan Adat Riau. Riau: Bumi Pustaka

Tenas Effendy, 1991. Adat Istiadat dan Upacara Perkawinan di Bekas Kerajaan Pelalawan. Riau: Lembaga Adat Daerah.

Dibaca : 7.429 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password