Minggu, 26 Februari 2017   |   Isnain, 29 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.453
Hari ini : 4.494
Kemarin : 67.112
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.800.589
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Nyanyi Panjang Bujang Tan Domang

a:3:{s:3:

1. Daerah asal

Nyanyi panjang Bujang Tan Domang adalah salah satu judul cerita dalam nyanyi panjang yang berkembang di masyarakat Petalangan, Riau, Indonesia. Masyarakat Petalangan adalah salah satu puak (suku) asli di Riau yang bermukim di kecamatan Pangkalan Kuras, Bunut, Langgam dan Kuala Kampar, Pelalawan, Riau. Kawasan ini telah mereka huni secara turun temurun dan mereka sebut sebagai Hutan Tanah Wilayat atau Tanah Wilayat. Pemilikan, pemanfaatan, dan pemeliharaan Tanah Wilayat ini diatur secara baik dan cermat oleh adat tempatan. Aturan adat tidak hanya berupa hukum tertulis, tapi juga tercantum dalam sastra lisan. Salah satu jenis sastra lisan yang mengandung hukum adat ini adalah tombo. Tombo merupakan bagian dari tradisi nyanyi panjang. Tidak semua nyanyi panjang yang berkembang di masayarakat termasuk dalam jenis tombo, sebagian besar di antaranya malah termasuk jenis nyanyi panjang biasa. Nyanyi panjang Bujang Tan Domang yang berkembang di masyarakat Petalangan merupakan salah satu contoh nyanyi panjang tombo tersebut. Di dalamnya, tercantum kisah asal-usul Bujang Tan Domang, keturunannya dan caranya menetapkan wilayah yang sekarang diakui secara adat menjadi daerah adat Monti Raja. Kisah-kisah dan aturan yang tercantum dalam nyanyi panjang ini diakui oleh seluruh warga sebagai sumber hukum dan nilai.   

Siapa sebenarnya Bujang Tan Domang ini? Bujang Tan Domang adalah seorang tokoh yang juga dikenal dengan nama Datuk Demang Serail. Ia dianggap sebagai cikal bakal pesukuan Monti Raja (dulu dinamakan Sialang Kawan) yang sekarang tinggal di desa Betung, Pangkalan Kuras, Pelalawan, Riau. Pesukuan Monti Raja ini merupakan pesukuan yang dituakan dalam masyarakat Petalangan. Nyanyi panjang Bujang Tan Domang beirisi tentang hutan tanah wilayat pesukuan Monti Raja (kepala suku) di desa Betung. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Petalangan Riau, nyanyi panjang Bujang Tan Domang tidak hanya berfungsi untuk hiburan semata, tapi juga sebagai dokumen sejarah dan hukum yang otentik tentang asal-usul suku serta wilayah milik mereka.

Dalam perkembangannya di masyarakat Petalangan, sastra lisan nyanyi panjang ini memiliki beberapa variasi. Sebagai sastra lisan, munculnya variasi ini memang tidak bisa dihindari, disebabkan adanya kecenderungan setiap penutur atau pencerita untuk menambah atau mengurangi isi ceritanya setiap kali bercerita di depan pendengarnya. Sebagai standar, yang digunakan dalam tulisan ini adalah versi Tenas Effendy yang telah merekam versi aslinya, kemudian memperdengarkannya kepada 37 orang pemangku adat Petalangan untuk dikoreksi, sehingga hasilnya cukup autentik dan karena itu, otoritatif.

Ketika nyanyi panjang dituturkan, biasanya digunakan irama lagu tertentu dan diikuti musik gendang atau dulang, sehingga proses penuturan berjalan menarik, tidak monoton. Ada dua lagu yang sering dijadikan standar senandung, yaitu lagu Indang Padonai dan Indang Padodo. Terkadang ada juga yang memakainya secara selang seling. Namun, kebanyakan penutur hanya memakai satu lagu, dan mereka lebih sering memilih lagu Indang Padonai. Biasanya, nyanyi panjang ini ditampilkan pada acara perayaan-perayaan, seperti pesta perkawinan. Untuk suatu pesta perkawinan, nyanyi panjang ditampilkan antara lima sampai tujuh malam, dari jam 21.00 hingga jam 03.00. Biasanya, penampilan nyanyi panjang ini juga diselingi pantun.

2. Alur cerita

Nyanyi panjang Bujang Tan Domang sangat panjang dan cukup susah karena kosa katanya yang sangat kaya. Namun demikian, cerita dalam nyanyi panjang ini tetap lincah, hidup dan menarik. Di dalamnya, terkadang diselingi adegan yang menggelikan dan mengharukan. Memang di dalamnya terdapat banyak pengulangan, namun setiap pengulangan selalu menunjukkan variasi yang menarik. Ringkasnya, baik ditinjau dari segi gaya (kekayaan kosa kata, ungkapan, formula, irama, kiasan dan penggambaran) ataupun isi (rentetan kejadian dan nilai filosofisnya), nyanyi panjang Bujang Tan Domang tetaplah sebuah sastra lisan yang brilian.

Alur cerita dalam nyanyi panjang ini terbagi dalam dua struktur yang berbeda. Bagian pertama mengikuti alur yang sangat lazim dalam cerita dan hikayat lama, baik yang lisan ataupun tulisan. Alur tersebut dimulai dari keluarga raja yang mendapat bencana sehingga menjadi terpencar; anak-anak raja tersebut berusaha untuk berkumpul kembali; para anak tersebut mengalami kisah pahit dan tantangan hebat; keluarga raja berkumpul kembali, martabat dan kehormatan mereka kembali pulih, sehingga dapat merasakan lagi kebahagiaan yang pernah hilang. Alur seperti ini disebut juga dengan alur bundar, dalam arti, cerita bertolak dari sebuah kerajaan yang aman dan makmur, kemudian keadaan ini jadi berubah buruk karena adanya faktor eksternal. Dalam perkembangannya, keadaan kembali pulih berkat adanya tokoh sakti dari kerajaan itu yang berhasil menyelamatkan negerinya.

Pada alur kedua, strukturnya bersifat linier, dan ini agak tidak lazim jika dibandingkan dengan cerita atau hikayat lama yang lebih banyak beralur bundar. Pada bagian kedua ini, cerita dimulai ketika seorang tokoh keluar dari negerinya untuk mencari pengalaman, belajar aneka macam ilmu, kesaktian dan adat istiadat. Setelah menjadi sakti, ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya yang berilmu tinggi. Dalam perjalanannya, ia diangkat sebagai anak atau saudara oleh orang terpandang, kemudian menikah dengan seorang putri cantik. Setelah itu, ia membuka daerah baru, mendirikan kerajaan dan menjadi raja yang pertama. Selama masa pemerintahannya, keadaan rakyat aman sentosa.

Jika dilihat struktur alur pertama dan kedua ini, sebenarnya keduanya masih berkaitan. Bisa dikatakan bahwa, alur pertama merupakan sebuah proses pemulihan keadaan untuk menciptakan suatu kondisi yang kondusif; sementara alur kedua merupakan alur pengembangan, baik pengembangan ilmu maupun pengembangan kerajaannya dengan membuka kerajaan baru di daerah lain.

Berikut ini ringkasan cerita nyanyi panjang Bujang Tan Domang:

Raja Alam bertahta di negeri Tanah Johor. Permaisuri Putri Mayang memperanakkan dua orang putri: Putri Embun Putih dan Putri Lindung Bulan, dan seorang putra: Bujang Tan Domang. Sebagai putra satu-satunya, Tan Domang menjadi tumpuan harapan ayahnya. Ia menjadi sosok yang istimewa di kerajaanan. Keistimewaan itu tercermin dalam ungkapan, “bagai ditiup anak malaikat, bagai dituntun anak bidadari.” Kelahirannya dirayakan secara besar-besaran. Suatu ketika, Raja Garuda yang bersemayam di lawang langit tiba-tiba menyerang negeri sambil melahap rakyat Johor. Raja Alam menyembunyikan putra-putrinya, dan kemudian menentang Raja Garuda, namun kekuatannya tidak sepadan. Raja Garuda menyambar Raja Alam dan permaisuri, kemudian membawa mereka terbang ke lawang langit.

Setelah beberapa waktu Putri Embun Putih berangkat mencari orang tuanya. Setelah berjalan dengan susah payah, akhirnya ia sampai ke negeri Raja Pati. Ia ditampung dan diangkat anak oleh nenek Janda Kasihan. Suatu ketika, Raja Pati melihat Putri Embun Putih dan langsung tertarik. Singkat kata, Raja Pati kemudian meminang sang putri. Pernikahan mereka dirayakan besar-besaran.

Putri Lindung Bulan juga tidak mau ketinggalan. Ia kemudian berangkat mencari sanak saudaranya, hingga akhirnya sampai juga di negeri Raja Pati. Ia kemudian diangkat anak oleh sepasang orang tua yang miskin. Suatu ketika, Putri Embun Putih yang telah menjadi permaisuri Raja Pati melihatnya dan langsung mengenali adiknya ini karena bunga yang dikarangnya.

Untuk mencari adiknya yang bungsu, yaitu Bujang Tan Domang, kemudian permaisuri dan Raja Pati pergi ke Johor, namun ternyata, Bujang sudah berangkat meninggalkan negerinya. Dalam pengembaraannya, Bujang berjalan di  hutan rimba hingga akhirnya sampai di rumah Nek Bia Susu Tunggal. Nenek itu mengangkatnya sebagai anak, dan mengabarinya tentang Putri Lindung Bulan yang telah diculik oleh Raja Cina. Sebenarnya, Raja Cina itu  datang ke negeri Raja Pati untuk meminang Lindung Bulan. Namun, saat itu Raja Pati sedang berada di Johor bersama permaisurinya mencari Bujang Tan Domang. Oleh karena itu, empat orang menteri yang bertanggungjawab terhadap kerajaan tidak bisa menerima pinangan tersebut. Raja Cina menjadi marah, kemudian empat menteri tersebut ia bunuh dan Putri Lindung Bulan ia bawa pulang ke negerinya.

Bujang Tan Domang berguru ilmu-ilmu kesaktian serta berbagai aturan budi bahasa pada Nek Bia. Setelah itu, ia pergi mencari kakaknya Lindung Bulan. Di tengah jalan, Bujang juga berguru pada Tuk Syeh Panjang Janggut. setelah itu, Bujang Tan Domang kembali ke Johor, dan diakui sebagai saudara oleh seorang anak miskin, Bujang Kecil. Mereka berdua kemudian pergi ke istana Raja Johor. Pada waktu itu pula, Raja Cina datang menyerang negeri Johor, sehingga terjadilah peperangan dahsyat antara kedua belah pihak hingga malam hari. Pada waktu tengah malam, saat peperangan berhenti karena kelelahan dan semua orang tertidur, Bujang Tan Domang naik ke kapal Cina dan memperagakan ilmu kesaktiannya, sehingga orang Cina ketakutan dan pulang ke negerinya pada malam itu juga.

Ketika pagi menjelang, Raja Pati heran karena musuhnya sudah lari. Raja Pati kemudian bertekad mengejar Raja Cina tersebut. Bujang sadar bahwa Raja Pati tidak akan mampu melawan Raja Cina. Oleh sebab itu, agar Raja Pati tidak bisa mengejar Raja Cina, kapal-kapal Raja Pati ditenggelamkannya. Kemudian, ia sendiri yang terbang ke negeri Cina untuk menyelamatkan kakaknya, Lindung Bulan. Ketika sampai di Cina, rakyat Cina disirapnya, kemudian peti yang digunakan untuk menawan Lindung Bulan ia bawa terbang kembali ke Johor. Sesampainya di Johor, tak ada seorangpun yang mampu menggerakkan, apalagi membuka peti itu.

Ketika melihat peti yang berisi Lindung Bulan telah dicuri, Raja Cina kembali menyerang negeri Johor. Saat itu, Raja Pati masih berada di Johor dan kembali berhadapan dengan Raja Cina. Bujang kemudian muncul untuk menghadapi Raja Cina. Peti yang berisi Lindung Bulan ia angkat dan buka, sehingga Putri Lindung Bulan menjadi bebas. Raja Cina mohon maaf dan kemudian berdamai dengan Bujang. Bujang kembali tampil dengan rupa seperti semula dan memperkenalkan diri. Raja Pati selanjutnya dinobatkan sebagai Raja Johor, sedangkan seorang hulubalang tua diangkat sebagai pengganti di negeri asalnya.

Putri Lindung Bulan makin besar dan cantik. Banyak anak raja yang datang meminangnya, namun ia tidak bersedia menikah sebelum bertemu lagi dengan orang tuanya. Bujang bersemedi dan mengimbau guru-gurunya, Nek Bia dan Tuk Syeh agar mengajarkan ilmu dan aturan baru untuk mencari orang tuanya. Setelah tirakat empat puluh hari dalam hutan, akhirnya datanglah penjaga pintu lawang langit, Tuk Jaya Lembang Alam. Ia kemudian mengantar Bujang ke lawang langit untuk dipertemukan dengan orang tuanya. Saat itu, Bujang juga belajar ilmu baru pada Tuk Jaya Lembang. Bujang kemudian berperang dengan Raja Garuda dan berhasil mengalahkannya. Namun, akhirnya mereka menjadi saudara angkat. Setelah itu, Bujang membawa orang tuanya kembali ke Johor. Akhirnya, seluruh keluarga berkumpul kembali.

Raja Alam tampil kembali di depan rakyatnya. Ia kemudian menunjuk Raja Pati sebagai penggantinya untuk menduduki tahta Johor, dan memberikan berbagai nasihat tentang pemerintahan. Negeri Johor makin ramai dan makmur. Suatu ketika, datanglah Raja Dilaut dari negeri Sangar untuk meminang Putri Lindung Bulan. Setelah para menteri kedua pihak berunding, akhirnya pinangan disepakati dan perkawinan dilangsungkan.

Setahun kemudian, barulah Raja Laut mohon diri dari Johor. Raja Alam kemudian memberikan berbagai  petuah kepadanya tentang sifat manusia yang luhur serta adat membuka negeri. Raja Laut berangkat bersama dengan Lindung Bulan dan Bujang. Ketika sampai di Sangar, mereka dielu-elukan oleh rakyatnya, dan ibunda raja mengadakan perayaan empat puluh hari empat puluh malam.

Beberapa tahun kemudian, Bujang berangkat bersama menteri dan hulubalang tua untuk melihat-lihat Laut Embun (yaitu Sungai Kampar) sambil memperdalam ilmunya. Dusun pertama yang mereka kunjungi sangat indah dan sentosa, berkat kebijaksanaan penghulu yang memerintah menurut adat dan keadilan. Sebaliknya, dusun kedua yang mereka lihat miskin dan kacau, karena diperintah oleh Raja Panjang Hindung yang tamak dan zalim. Bujang kemudian berperang dengan raja itu dan berhasil membunuhnya. Menteri tua ditunjuknya untuk memerintah di dusun itu, sedangkan ia melanjutkan perjalanan.

Bujang sampai ke negeri Raja Dinda. Saat itu, banyak anak raja dari negeri  lain datang meminang putri Raja Dinda yang bernama Putri Sri Gading. Ada tujuh orang anak raja lain yang ditolak pinangannya dan bermaksud membunuh Raja Dinda. Bujang kemudian menolong Raja Dinda dan berhasil mengalahkan mereka tujuh anak raja lain tersebut, dan menyuruh mereka pulang ke negerinya masing-masing. Saat itu, Bujang sendiri belum bersedia memperistri Putri Sri Gading, dan memilih untuk melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kampar ke arah hulu. Dalam perjalanan, Bujang bertemu dengan sebuah kapal yang besar sekali, yang diperintah oleh seorang raja zalim, bernama Raja Garang. Raja Garang memaksakan kehendaknya kepada setiap kapal yang lewat. Sebelum melanjutkan perjalanannya, Bujang terlebih dulu membunuh Raja Garang.

Beberapa tahun sudah lewat, Bujang telah menjadi seseorang laki-laki yang berilmu dan berpengalaman. Dalam perjalanannya itu, ia sampai ke negeri Raja Lela. Saat itu, negeri Raja Lela sedang diserang oleh Raja Jin yang ingin mengawini putri raja bernama Putri Mayang Pinang. Bujang menantang Raja Jin dan berhasil mengalahkannya setelah berperang selama tujuh hari tujuh malam. Untuk membalas jasa Bujang, Raja Lela kemudian mengangkatnya sebagai anak.

Bujang berlayar lagi dan mencapai sebuah tempat yang sangat indah dan subur, yang dinamakan Batang Bunut. Tempat-tempat lain di sekitar daerah itu kemudian ia beri nama sebagai tanda akan dibukanya sebuah negeri di daerah. Nama-nama daerah baru tersebut adalah Sialang Kawan, Dusun Betung, Sungai Bunut, Tanjung Sialang, Tanjung Perusa, Sungai Peragaaian dan Tealau.

Selanjutnya, Bujang sampai ke negeri orang Bunyian dan lama tinggal bersama mereka. Ia berkenalan dengan segala jenis makhluk gaib, dan menjadi saudara angkat Raja Bunyian. Mereka tukar-menukar ilmu dan kesaktian. Setelah beberapa tahun di negeri Bunyian, Bujang kembali ke Sialang Kawan dan melakukan upacara membuka negeri. Hulubalang tua disuruhnya mendirikan kampung di situ, sedangkan ia sendiri kembali ke Laut Embun (Kampar) dan Johor. Dalam perjalanan pulang, ia singgah di negeri Raja Lela (saat itu, Putri Mayang Pinang sudah bersuami) dan Raja Dinda. Di sini, ia bertunangan dengan Putri Sri Gading.

Saat itu, negeri Sangar sedang diserang oleh Raja Besar Hidung yang hendak menuntut balas atas kematian adiknya, Raja Panjang Hidung. Raja Besar Hidung berhasil mengalahkan Raja Dilaut dengan mudah, dan Putri Lindung Bulan hendak diculiknya. Bujang mengetahui secara gaib kejadian tersebut, dan segera ke Sangar unutk terbang menolong kakaknya. Akhirnya, Raja Besar Hidung berhasil ia bunuh.

Putri Lindung Bulan sudah beranak seorang laki-laki, oleh Bujang diberi nama Kelana Jaya. Kemudian, Bujang pergi ke Johor bersama Lindung Bulan dan putranya. Akhirnya, ketiga kakak beradik dan orang tua mereka, Raja Alam kembali berkumpul. Setelah beberapa waktu, Bujang kemudian pergi ke negeri Raja Dinda (Pekantua) untuk memperistri Putri Sri Gading. Sebelum ke negeri Raja Dinda, Bujang terlebih dulu mengantar Lindung Bulan ke kerajaan suaminya. Sebelum pergi, ibu mereka yaitu Putri Mayang memberikan beberapa nasehat kepada putrinya tentang perilaku seorang istri yang baik.

Bujang dan Lindung Bulan tiba di Sangar. Tiga bulan kemudian, datang pula orang tua mereka, Raja Alam dan Putri Mayang, beserta Putri Embun Putih serta Raja Pati. Untuk pertama kali, mereka saat itu berjumpa dengan ibunda Raja Dilaut. Beberapa waktu kemudian, semuanya berangkat lagi menuju negeri Raja Dinda (Pekantua) dengan menggunakan tujuh kapal, untuk menghadiri perkawinan Bujang dengan Sri Gading. Setelah menteri Johor dan menteri Pekantua berunding panjang, akhirnya disepakatilah hari perkawinan.

Pada hari perkawinan tersebut, diadakan perhelatan besar-besaran. Saat itu, Bujang juga mengundang semua gurunya. Di tengah-tengah perayaan, datanglah Datuk Jembalang Api, tiga pendamping dan bala tentaranya untuk menuntut balas kematian kedua muridnya, Raja Besar Hidung dan Raja Panjang Hidung, yang telah dibunuh oleh Bujang. Ketiga pendamping tersebut bertarung dengan tiga datuk dari pihak Bujang, sementara Bujang sendiri bertarung dengan Datuk Jembalang Api. Pertarungan itu sangat dahsyat dan terjadi d angkasa, sehingga tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Akhirnya, Datuk Jembalang Api berhasil dikalahkan oleh Bujang. Bujang kemudian berdamai dengan musuh yang baru dikalahkannya itu. Saat itu, Bujang dipuji oleh guru-gurunya karena sudah mencapai tingkat ilmu yang tertinggi.

Beberapa bulan kemudian, Raja Alam dan keluarganya pulang ke Sangar dan Johor. Pada waktu berpisah, mereka satu per satu memberikan berbagai nasihat dan petuah tentang hidup berumah tangga dan pendidikan anak kepada Bujang dan istrinya.

Beberapa tahun kemudian, Bujang dan istrinya pindah ke Sialang Kawan yang sudah menjadi negeri yang ramai dan makmur. Disitu, Bujang diangkat sebagai raja, sehingga negeri itu bertambah kaya dan sentosa. Untuk menciptakan keamanan bagi rakyat dan para pedagang yang datang ke negerinya, Bujang kemudian melayari Laut Batang Kampar selama enam bulan untuk menumpas penyamun dan perompak. Sejak saat itu, ia diberi gelar Datuk Demang Serail. Serail adalah ejaan setempat untuk menyebut malaikat pencabut nyawa, Israil. Dalam hal ini, pengertiannya adalah, Bujang telah mencabut nyawa para penyamun dan perompak. Bujang terus bertahta di Sialang Kawan. Putranya yang tertua kemudian menjadi raja di Pekantua.

Demikianlah ringkasan nyanyi panjang Bujang Tan Domang yang berkembang di masyarakat Petalangan.

4. Lirik nyanyi panjang

Sebelum masuk ke nyanyi panjang tombo Bujang Tan Domang, terlebih dulu dinyanyikan pantun pembuka, yang sering disebut dengan pantun bebalam. Pantun bebalam ini tidak panjang, hanya sebagai pembuka sebelum masuk ke tombo. Berikut ini contoh dari lirik pantun bebalam model lagu Indang Padonai:

 Indai donai...  Indai donai...
 Aaii..............  Aaii..............
 Buah lakom di dalam somak  Buah lakom di dalam semak
 Pada seumpun ditimpo bonto  Padi serumpun ditimpo bento
 Salamualaikum kepado sanak  Assalamualaikum kepada sanak
 Kami bepantun membukak ceito  Kami berpantun membuka cerita
 ................................  
 Indang donai...  Indang donai...
 Aaii.................  Aaii.................
 Untuk apo mumasang pelito  Untuk apa memasang pelita
 Untuk penoang uang di balai  Untuk penerang orang di balai
 Untuk apo mungonang ceito  Untuk apa mengenang cerita
 Untuk pogangan uang nan amai  Untuk pegangan orang yang ramai
 .......dan seterusnya.  

Berikut ini contoh kutipan isi tombo Bujang Tan Domang:

 Eeii......Aaii................  Eeii....Aaii............
 Iyolah kunun joman dolunyo  Ialah konon zaman dulunya
 Joman dimano kami bilang  Zaman yang mana kami tuturkan
 Sejoman tampuk lagi mudo  Zaman tampuk lagi muda
 Sejoman tangkai lagi begota  Zaman tangkai lagi bergetah
 Sejoman bumi nan tigo congkuk  Zaman bumi tiga sungkup
 Sejomannya langik tigo juai  Zaman langit tiga jurai
 Sejoman padi lagi menyadi  Zaman padi masih subur bernas
 Sejoman binatang lagi bucakap  Zaman binatang lagi bercakap
 Sejoman kayangan lagi onda  Zaman kayangan lagi rendah
 Sejoman lawang langik lagi tebukak  Zaman lawang langit lagi rendah
 .......................................  
 Eeii.........Aaii...............  Eeii.......Aaii..........
 Betambah sonang ati Ajo Alam  Bertambah senang hati Raja Alam
 Iyo nan bininyo Puti Mayang  Dengan istrinya Putri Mayang
 Anak suang sudah beduo  Anak seorang sudah berdua
 Tapi betino keduonyo  Tetapi perempuan keduanya
   
 Eeii......Aaii.......................  Eeii......Aaii...................
 Iyolah adat ajo nan bose  Ialah adat raja yang besar
 Kalau bolum beanak jantan  Kalau belum beranak lelaki
 Bolum lengkap isi sentano  Belum lengkap isi istana
 Bolum beuat payung panji  Belum berurat payung panji
 Belum sempono aso idupnyo  Belum sempurna rasa hidupnya
 Bolum sampai ucap nan kabul  Belum samapai ucap dan kabul

.......dan seterusnya.

Kredit foto : www.yoonheekang.net

Dibaca : 16.857 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password