Close
 
Jumat, 3 Juli 2026   |   Sabtu, 17 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 1.628
Hari ini : 27.138
Kemarin : 26.238
Minggu kemarin : 251.743
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

08 desember 2009 04:30

Apresiasi Masyarakat pada Kesenian Tradisional Menurun

Apresiasi Masyarakat pada Kesenian Tradisional Menurun

Medan, Sumatra Utara - Apresiasi masyarakat terhadap berbagai kesenian tradisional dinilai kian menurun terutama pada kalangan generasi muda.

Staf pengajar Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Julianus P Limbeng, di Medan, Senin, mengatakan, secara umum kehidupan kesenian tradisional di Indonesia saat ini mendapat tantangan atau hambatan yang cukup besar.

Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, pertama karena menurunnya daya apresiasi mayarakat yang disebabkan oleh gencarnya arus kesenian masa kini yang melanda berbagai pelosok telah mempersempit ruang gerak kesenian tradisional.

Kesenian modern masa kini memberi banyak pilihan, sehingga banyak yang menggantikan tempat kesenian tradisional dalam peristiwa-peristiwa pertunjukan masyarakat tradisional sekalipun.

Selanjutnya, kesenian masa kini yang biasa disebut sebagai seni pop, lebih mudah diapresiasi oleh kalangan muda hingga menyebabkan generasi muda tidak memiliki kemampuan mengapresiasi kesenian tradisional.

Gencarnya propaganda atau arahan yang sistematis termasuk dalam pendidikan di sekolah yang berdasar  pada pendekatan estetika mono-kultur (barat), menurutnya telah mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang kesenian tradisional.

Arahan kurikulum dan bahan-bahan pengajaran kesenian yang mengacu pada estetika barat dan telah berjalan lebih dari setengah abad, juga menyebabkan kesenian tradisional dianggap "seni yang tidak sesuai zaman" atau bahkan dianggap bukan seni.

Begitu juga ketika penggolongan disiplin seni secara akademis  seperti seni musik, tari, teater, seni rupa dihadapkan pada fenomena kesenian tradisional, akan menemui ketidak-cocokan.

Kesenian seperti debus yang tidak bisa dikelompokkan pada keempat kategori tersebut, tidak akan diangap sebagai kesenian.

Begitu juga tentang hal yang lebih teknis seperti komposisi dan tata warna dalam seni rupa, plot dalam naskah drama, pemanggungan, tata cahaya dan ukuran waktu dalam seni pertunjukan yang mengacu pada nilai seni barat (modren).

Ia mengatakan, dewasa ini ada kecenderungan karya-karya baru yang bertolak dari khasanah kesenian tradisional dari kalangan akademik atau yang paling banyak dipentaskan di panggung-pangung modern dan televisi, secara umum dianggap kebih baik. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com
Kredit Foto: http://fajriboy.multiply.com


Dibaca : 2.609 kali.

Tuliskan komentar Anda !