Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
16 desember 2009 02:00
Perajin Batik Tulis Kesulitan Regenerasi
Jambi - Perajin batik tulis di Jambi mengaku kesulitan melakukan regenerasi dan mencari pembatik baru dari anak-anak muda sebab kebanyakan generasi muda kurang berminat menekuni pekerjaan sebagai pembatik.
Azmiah (42), perajin batik di Kampung Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi, mengatakan, saat ini relatif susah mencari perajin batik tulis dari kelompok anak muda sebab generasi muda sekarang menganggap pekerjaan membatik adalah pekerjaan yang sulit dan butuh ketekunan tinggi. Mereka lebih memilih pekerjaan yang praktis, mudah, dan tidak rumit, seperti menjadi pramuniaga di pusat perbelanjaan.
”Saya suka gondok sendiri. Bahkan, mengajari membatik ke anak-anak saya saja juga tidak gampang. Generasi muda sekarang tak mau pekerjaan yang susah. Paling banyak hanya ada 35 persen perajin batik tulis dari total yang ada di desa ini,” ujar Azmiah, Selasa (15/12).
Hal serupa diakui Apis (27), pembatik di Kelurahan Jelmu, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi, yang kesulitan mencari pembatik, khususnya yang bisa membuat batik tulis khas Jambi. Lamanya proses pembuatan batik, mulai dari dua minggu sampai tiga bulan, sehingga membuat jenuh, adalah salah satu alasan rendahnya minat generasi muda belajar membatik.
Penyebab lain mengapa segera dibutuhkan regenerasi adalah masa kerja pembatik di Jambi sangat pendek. Hampir keseluruhan pembatik di Jambi adalah perempuan sehingga setelah pembatik berkeluarga dan mempunyai anak, mereka cenderung berhenti membatik.
Upah tinggi
Sebenarnya, dilihat dari pendapatannya, upah membatik tidak murah. Untuk selembar kain yang panjangnya 2 meter, pembatik bisa menerima upah Rp 50.000. Bahkan, jika hasil batikan bagus dan halus, upahnya bisa lebih tinggi lagi. Selembar kain batik tulis harganya pun menjanjikan. Untuk batik tulis jambi, misalnya, harganya mulai dari Rp 500.000 sampai di atas Rp 3 juta per lembar jika menggunakan pewarna alam.
Oleh karena itu, kata dia, agar membatik mulai menjadi pekerjaan yang memberi jaminan kesejahteraan, dia berani membayar tinggi setiap hasil batikan pekerjanya. Tujuannya, memberi motivasi agar minat dan keahlian membatik meningkat. Kini, dia juga mulai mengajak ibu-ibu rumah tangga belajar membatik, dengan maksud mereka memiliki pekerjaan sampingan.
Maraknya batik sebagai busana formal dan kasual, merupakan peluang untuk menumbuhkembangkan batik jambi. Desain-desain batik pun makin beragam. Motif batik kuno mulai kembali diminati, seperti motif bunga tanjung, kapal sanggat, durian pecah, pauh, dan batanghari. Membatik motif kuno tersebut tentu saja butuh keahlian.
Selain motif, warna-warna kusam dan terkesan kuno juga mulai digemari, seperti warna indigo, coklat, merah marun, dan hitam bercampur kuning. (THT)