Close
 
Selasa, 21 April 2026   |   Arbia', 4 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.631
Kemarin : 24.407
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

10 november 2010 07:34

Warga Babel Tinggalkan Kearifan Lokal

Warga Babel Tinggalkan Kearifan Lokal

Pangkalpinang, Babel - Budayawan Bangka Belitung, Suhaimi Sulaiman menyatakan, warga mulai meninggalkan kearifan lokal yang sarat nilai-nilai kemaslahatan akibat pengaruh globalisasi yang cukup pesat di daerah itu.

"Tradisi kearifan lokal daerah Babel seperti gotong royong, membuat nasi aruk, cara menebang kayu dan sistim mencari ikan yang ramah lingkungan sudah mulai ditinggalkan warga, sehingga terjadi kerusakan alam dan sosial yang cukup memprihatinkan," kata Suhaimi Sulaiman di Pangkalpinang, Kamis.

Ia menjelaskan, pengaruh globalisasi yang semakin meningkat tanpa dilakukan filter mengakibatkan nilai-nilai tradisi yang ramah lingkungan ditinggalkan masyarakat dan mengadopsi nilai baru yang  tidak sesuai dengan tatanan tradisi yang sudah melembaga di dalam masyarakat.

"Kemajuan teknologi dan informasi dan  produk makanan cepat saji (instan), pada gilirannya juga mendorong pola hidup masyarakat berpikir instan dan konsumtif sekaligus membuat masyarakat malas dan cenderung berpikir instan dan meninggalkan nilai-nilai tradisi yang bersahabat dengan alam," ujarnya.

Ia menjelaskan, kearifan lokal merupakan ilmu yang diperoleh masyarakat dari pengalaman dan turun temurun untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menciptakan altenatif lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Penganan aruk merupakan makanan pengganti ubi, cara membuatnya merupakan kearifan lokal dan Zaman dahulu masyarakat tidak boleh menebang pohon yang sedang tumbuh tunas, karena saat itu ular sedang berganti kulitnya, sehingga jika dilakukan penebangan membahayakan keselamatan jiwanya dan kayu boleh ditebang jika umurnya telah puluhan tahun," kata Suhaimi.

Selain itu, ketika mencari ikan, nelayan menggunakan alat tradisional seperti pancing dan jaring agar tidak merusak habitat biota laut. Namun kini, kata dia, masyarakat malah melakukan tindakan merusak lingkungan untuk tujuan profit dengan mengabaikan kelestarian alam.

Menurut dia, pemerintah juga tidak berupaya untuk mendorong masyarakat agar melestarikan kearifan lokal seperti membuat pelatihan untuk membuat beras aruk dan lainnya, selain pelaksanaan aturan yang tidak tegas dan tidak konsisten.

"Masa penjajahan Belanda aturan malah lebih ketat, jika hendak menebang hutan masyarakat harus meminta izin kepada petugas Gading yang membawahi Demang, jika tidak meminta izin orang tersebut harus membayar denda, sementara zaman sekarang aturan yang dibuat pemerintah tidak jelas dan pelaksanaannya pun tidak tegas dan tidak konsisten terutama terkait dengan penebangan hutan," ujarnya.

Sumber: http://oase.kompas.com


Dibaca : 1.527 kali.

Tuliskan komentar Anda !