Close
 
Jumat, 17 April 2026   |   Sabtu, 29 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 2.924
Hari ini : 55.470
Kemarin : 36.578
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

25 januari 2011 04:01

Sastra Kini Mengarah ke Dunia Maya

Sastra Kini Mengarah ke Dunia Maya

Jakarta - Saat ini karya sastra tidak terbatas pada lembaran kertas. Karya sastra berupa puisi atau prosa juga tersebar dalam bentuk digital di dunia maya.

Melalui blog pribadi, situs jejaring sosial, mickroblogging atau web, siapa pun dapat menyebarkan karyanya. Agaknya, fenomena sastra saat ini sudah bergeser ke dunia maya.

"Karya sastra kalau dilihat dari ruang budaya di media massa cetak jadi berkurang, tapi di media massa dunia maya justru meningkat," ujar Kepala Perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Endo Senggono, Minggu (23/1/2011) di PDS HB Jassin, Jakarta.

Perkembangan teknologi, kata Endo, tampak membawa sastra Indonesia ke arah dunia maya. Semua orang ingin mencoba menulis karya sastra yang dulu seolah hanya milik para sastrawan ternama.

Sayangnya, kata Endo, peningkatakan minat menulis tersebut tidak diiringi meningkatnya minat baca masyarakat. "Minat baca sama saja. Dari oplah buku yang terbit belum pernah ada yang luar biasa. Katakan Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, tapi yang lain, tidak," ujarnya.

Akibatnya, kualitas karya masyarakat di dunia maya tidak sebaik karya sastra pujangga sebelum ditemukannya internet. Meskipun demikian, mutu tulisan di dunia maya tersebut dapat meningkat seiring berjalannya waktu. Karya-karya di dunia maya itu pun, kata Endo, akan mengalami seleksi kualitas dengan sendirinya. Masyarakat dengan sendirinya akan menyaring mana karya yang berkualitas dan mana yang tidak.

"Paling enggak, yang membaca punya teman yang dikenal, nanti terseleksi sendiri, mana yang disenangi pembaca, mana yang tidak," kata Endo.

Menurut Endo, jumlah pencinta sastra di Indonesia tergolong sedikit. Sebagai pengelola Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dia melihat pengunjung yang datang ke pusat sastra satu-satunya di Indonesia itu hanya segelintir orang. Hanya pelajar atau mahasiswa yang meneliti sastra dan para pencinta sastra.

"Semua orang yang suka sastra akan berkunjung kemari atau mencari data-data tentang sastra. Namun, di masyarakat umum, sastra itu kurang perhatian. Pengunjung paling banyak pelajar dan mahasiswa," ungkapnya.

Sumber: http://oase.kompas.com

Sumber Foto: http://rajaalihaji.com


Dibaca : 1.761 kali.

Tuliskan komentar Anda !