Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
31 januari 2011 04:57
Sastra Lisan Gorontalo Terancam Punah
Gorontalo - Salah seorang pengamat yang juga tokoh adat Gorontalo, DK. Usman mengatakan, ragam tradisi lisan yang merupakan warisanbudaya leluhur Gorontalo, terancam punah jika tidak dipelajari sejak dini.
"Gorontalo memiliki ragam sastra tutur yang saat inikurang diminati genarasi mudah, jika dibiarkan bisa lenyap dari akar budaya kita," ujar DK. Usman , Rabu.
Kehawatiran tokoh adat ini bukan tanpa alasan, karena menurutnya, pengaruh kurang maksimalnya upaya pemerintah daerah mensosialisasikan kekaayan ragam sastra lisan Gorontalo, dinilainya justru menjadi pemicutradisi tersebut kurang mendapat tempat bagi generasi muda.
Lanjut DK Usman, salah satu tradisi sastra lisan seperti ’Tanggomo’, saat ini sudah sedikit masyarakat yang piawai menuturkan bait demi bait ragam lisan tersbut dengan benar, jika ada, dipastikan bukan dari kalangan muda-mudi Gorontalo.
"Saat ini untuk Tanggomo sudah sedikit yang mampu menguasainya, jika ada penuturnya pasti bukan dari genarasi muda kita," jelas DK Usman.
Seraya menambahkan, disamping belum adanyadukungan serius dari pemerintah, terutamaDinas Pendidkan, dia menilai, efek media juga ikut mengambil andil besar memengaruhi minat dan bakat pemuda Gorontalo, sehingga kurang memahami dan melestarikan budaya daerahnya sendiri.
"Media massa termasuk salah satu yang paling berpengaruh, mereka didikte oleh informasi yang jauh dari akar budaya bangsa, misalnya jika ada anak kita ikut melestarikan budaya, justru dinilai kampungan," keluhnya.
Selain itu, penggunaan bahasa Gorontalo sebagai percakapan untuk teman sejawat, menurut DK Usman,telah mengalami penurunan jumlah penuturnya, terutama generasi muda.
Oleh karenanya, dia berharap, agar kekayaan budaya warisan leluhur ini tetap lestari, dukungan dari lingkungan keluarga, menurutnya merupakan tempat pertama membina dan mengembangkan tradisi lisan dan budaya Gorontalo.
"Saya berharap, dari lingkungan keluarga, kita jadikan sebagai tempat belajar dan melestarikan warisan budaya untuk anak cucu kita agar tidak punah," imbuhnya.