Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
17 februari 2011 02:55
Indahnya Sastra Gorontalo
Gorontalo - Sastra lisan Gorontalo, tidak hanya kaya makna dan muatan keindahan kata dan bunyinya, namun juga mengandung unsur kedisiplinan, kata Herman Didipu, dosen sastra daerah, Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Saat menjadi pemateri pada seminar nasional bertema "Pendidikan Berbasis Budaya Lokal" di kampus UNG, Rabu, ia mencontohkan hal itu pada penggunaan "handala", perangkat tetabuhan sejenis rebana, untuk mengiringi "Tuja’i", salah satu ragam sastra lisan Gorontalo berbentukpuisi, yang biasa dibawakan pada upacara adat. "Tujai tidak akan diucapkan sebelum handala ditabuh, di sanalah unsur kedisiplinannya," ujarnya.
Menurutnya, unsur kedisiplinan dalam sastra lisan Gorontalo, dapat diterapkan dalam pendidikan berbasis budaya lokal.
"Ada nilai-nilai dalam sastra yang bisa diterapkan, bukanhanya dari segi estetika semata," katanya.
Seminar nasional itu diikuti oleh puluhan mahasiswa, dosen dan gurudi Gorontalo. Turut hadir selaku pemateri, Rektor UNG Syamsu Qomar Badu, Misran Rahman dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jawa Barat, Yudi Firdaus dari Ikatan Penulis Indonesia, Moon Otoluwa, Dekan FSB UNG, dan Abdul Rahmat, penulis dan staf pengajar dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG.