Close
 
Rabu, 29 April 2026   |   Khamis, 12 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.859
Kemarin : 22.835
Minggu kemarin : 169.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 april 2007 00:00

Plakat Asal Mula Kota Banda Aceh Dipancang di Gampong Pande

Plakat Asal Mula Kota Banda Aceh Dipancang di Gampong Pande

Banda Aceh- Pemko Banda Aceh bekerjasama dengan BRR Aceh-Nias dan warga Gampong Pande memancang plakat untuk menandai tempat asal mulanya kota itu, bertepatan dengan peringatan HUT ke-802 Kota Banda Aceh, Minggu (22/4).

Acara peletakan plakat ini dilaksanakan di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, yang merupakan titik bersejarah muasal perkembangan Kota Banda Aceh. Di tempat inilah, Kesultanan Aceh Darussalam dibangun oleh Sultan Alaidin Johansyah 802 tahun lalu atau pada 22 April 1205 Masehi. Pada momen penting ini juga dihadiri Walikota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin dan pimpinan DPRK Banda Aceh.

Pemasangan plakat merupakan bagian dari rangkaian kegiatan mewujudkan jalur jejak sejarah (heritage trails), rekonstruksi Taman Bustanus-salatin dan penanaman pohon persahabatan sebagai bagian dari rehabilitasi Aceh pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami. Kegiatan ini diprakarsai oleh tim program jejak sejarah Kota Banda Aceh yang diketuai Dr Ir Kamal Arif M.Eng IAI.

Plakat yang dipancang mencantumkan kalimat dalam tiga bahasa, yaitu Aceh, Indonesia dan Inggris. Dalam Bahasa Aceh berbunyi, Disinoe asai muasai mula jeut Kuta Banda Aceh teumpat geupeudong keurajeuen Aceh Darussalam le Soleuthan Johansyah bak uroe phon puasa Ramadhan thon 601 Hijriah (Di sini cikal bakal Kota Banda Aceh tempat awal asal mula kerajaan Aceh Darussalam, didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 601 H).

“Ini adalah suatu upaya tambihoy atau peringatan bagi kita semua, orang-orang yang lupa. Kita lupa pada akar kita sendiri, lupa pada pusaka kita. Bahwa di sini, Gampong Pande 802 tahun lalu berdiri sebuah Kerajaan Bandar Aceh yang makmur, yang memulai kehidupan kota ini hingga hari ini,” ujar Kamal Arif.

Program jejak jalur sejarah Kota Banda Aceh sejauh ini telah mengidentifikasikan 100 titik bersejarah sejak masa Hindu/Budha, perkembangan masuknya Islam, Kolonial Belanda, hingga Aceh pasca tsunami. Tim ini juga mengidentifikasikan sebuah situs yang penting untuk direkonstruksi di pusat Banda Aceh, yaitu Taman Bustanus-salatin, sebuah taman raja-raja yang megah pada abad ke-17, kalamana Kota New York di Amerika Serikat belum lagi memiliki Central Park-nya yang kesohor itu.

“Rekonstruksi taman tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini akan ruang terbuka hijau, tetapi juga menunjukkan betapa pengadaan lingkungan yang asri serta berkelanjutan sudah lama terdapat dalam khasanah budaya masyarakat Banda Aceh,” kata Kamal Arif.

Dijelaskannya, jalur jejak sejarah ini bertujuan memberikan landasan bagi pembangunan Kota Banda Aceh di masa mendatang agar tidak melupakan sejarah perkembangannya. Pada tahap awal, program difokuskan pada kegiatan studi dan survei titik-titik bersejarah, serta kegiatan perencanaan dan perancangan.

Dalam tahap kedua tahun depan, program akan meletakkan plakat-plakat penanda pada 20 titik bersejarah, memulai awal dari rekonstruksi Taman Bustanus-salatin dengan penanaman kembali pohon dan tanaman yang tercantum di dalam Kitab Bustanus-salatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry di abad ke-17 dan mulai penanaman pohon sebagai bagian dari program pohon persahabatan.

Sumber : analisadaily.com

Kredit foto : www.Islamiccity.com

Dibaca : 4.863 kali.

Tuliskan komentar Anda !