Close
 
Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 83
Hari ini : 6.554
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

16 sepember 2011 03:14

Museum Bengkulu Terjemahkan 10 Persen Naskah Kuno

Museum Bengkulu Terjemahkan 10 Persen Naskah Kuno

Bengkulu - Museum Bengkulu baru mampu menerjemahkan 10 persen naskah kuno "ka ga nga" ke dalam Bahasa Indonesia dari total 138 naskah yang dikoleksi.

"Ka ga nga merupakan tulisan asli masyarakat Melayu Bengkulu yang berasal dari aksara semit kuno, proto melayu, selain di Bengkulu ka ga nga juga terdapat di Jambi, dan Lampung tulisan ini berasal dari aksara Palawa," jelas kurator museum Bengkulu Muhardi, Rabu.

Huruf ka ga nga untuk masyarakat Suku Serawai di Bengkulu dikenal dengan tulisan ulu atau serat ulu, sedangkan untuk suku rejang dikenal dengan tulisan rencong.

Ia mengatakan, minimnya naskah kuno ka ga nga yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dikarenakan keterbatasan tenaga penerjemah.

Dari beberapa naskah yang telah diterjemahkan kebanyakan tulisan membawa yang berisikan kitab pengobatan, penyakit, kisah atau kejadian alam semesta, cerita tentang sang kancil, hukum adat, pantun, tata cara hubungan kaum muda, tata cara bertani, pantun, serta jampi dan mantra.

Menurutnya, jika seluruh naskah ka ga nga tersebut diterjemahkan akan sangat berguna bagi kemajuan masyarakat Bengkulu baik dari sisi adat, keseimbangan alam, hukum, kedokteran, dan lain-lain.

Ia menambahkan naskah kuno banyak menggunakan kata kiasan sehingga dibutuhkan penerjemah bahasa yang pintar menganalisis makna yang tersurat tidak hanya penerjemah bahasa tulisan.

Dikatakannya, beberapa naskah yang berhasil diterjemahkan  didominasi penggunaan bahasa kiasan. Naskah tersebut berisi tata cara kehidupan yang ditulis secara terperinci dan bertanggung jawab kepada alam semesta dan Tuhan.

"Tulisan kuno mengandung ilmu yang luar biasa dan seharusnya menjadi warisan budaya untuk membangun bangsa," tambahnya.

Tulisan ka ga nga untuk suku Rejang Lembak terdiri atas 23 kata sedangkan Serawai Pasemah terdiri atas 28 kata dan memiliki 13 tanda baca.

Huruf ka ga nga  lahir menjelang abad ke 12, huruf ini merupakan bagian dari  tulisan aksara semit kuno atau lebih spesifik dari proto sumatra bahkan di Bandung ka ga nga juga dikenal lahir dari aksara Palawa atau naskah Melayu.

Sumber: http://oase.kompas.com


Dibaca : 2.560 kali.

Tuliskan komentar Anda !