Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
12 sepember 2007 02:10
Festival Wayang Gong 2007
Sebuah Upaya Pelestarian Tradisi
Banjarmasin- Langkah penonton tidak surut untuk menyaksikan sebuah festival pertunjukan tradisional di Auditorium Taman Budaya Kalimantan Selatan (Kalsel) yang berada di kawasan Kayu Tangi Banjarmasin.
Meski tidak seramai pergelaran atau pentas bernuansa modern, toh Festival Wayang Gong 2007 dan Pagelaran Damarwulan memang sudah semestinya dihidupkan kembali.
Dari sebuah keprihatinan terhadap seni lokal yang makin tersisih --padahal dulu pernah hidup dan berjaya di Banua-- acara ini digelar. Bisa dibilang memprihatinkan, karena upaya mendongkrak seni tradisi untuk muncul kembali ke permukaan lewat festival ini hanya diikuti tiga grup sebagai peserta.
Ini membuktikan Wayang Gong sebagai pertunjukan seni makin ditinggalkan dan perlu upaya melestarikannya.
Namun Zulfansyah Bondan selaku ketua panitia tetap bersemangat melaksanakan kegiatan ini, kendati sempat beberapa kali jadual festival terpaksa diundur.
Diawali tampilnya sanggar tari dan seni Kambang Barenteng Banjarmasin, berjudul Perang Tambak. Penonton seolah terbawa dalam atmosfer cerita yang disajikan.
Judul ini mengisahkan cikal bakal manusia sejak fase lahir ke bumi dan kehidupan setelahnya. Para pemain muncul dari balik panggung lengkap dengan aksesoris panggung kerajaan seperti kumis palsu tebal ditambah pakaian penuh hiasan khas dari manik-manik, arguci, dan patah banta membius penonton.
Apalagi, tatkala lelakon ini masuk dalam inti cerita yakni kehidupan manusia yang nyaris tak pernah terpisah dari kerusuhan dan perpecahan, akibat oleh hawa nafsu, serakah dan iri dengki. Kalau perlu membunuh, merampok dan merampas demi kepentingan pribadi.
Tokoh Rahwana (Dasamuka) mengorbankan hawa nafsunya dengan merampas Dewi Shinta dari tangan Rama. Diantara manusia-manusia itu ada manusia yang bathil yaitu sebangsa manusia berbentuk kera putih (Hanoman).
Di persidangan Alengka, Dasamuka memerintahkan Resik Ala berangkat ke Gua Sapitro Rahman. Untuk mempertahankan negara Alengka dari serbuan pasukan Pancawati yang dipimpin Hanoman Pancawati. Hanoman sendiri masih membujuk Dewi Shinta mau menjadi isterinya.
Penonton kian terbawa arus cerita tatkala sanggar Raden Sanjaya Tapin, membawakan lakon berjudul Gugurnya Raden Subali. Kisah ini menggambarkan penyiksaan Raden Subali terhadap adiknya Raden Sugriwa, karena kecewa dengan jatuhnya hadiah dari kayangan Dewi Tara ke tangan Raden Sugriwa.
Festival Wayang Gong 2007 ini akhirnya menempatkan sanggar Bumi Ruhui Rahayu ini meraih peringkat pertama.
Tampilnya seni tradisi tua di Kalsel ini juga menempatkan sanggar Rindang Bahalap Marabahan dengan judul Perang Tanding Wayang Rama Lesmana sebagai pemenang kedua. Wakil dari Banjarmasin, sanggar Kambang Barenteng sebagai pemenang ketiga.
Hesly Junianto Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin dalam sambutannya mengatakan merespon baik kegiatan ini. Apalagi, kesenian ini tergolong langka. Bahkan, bisa dikatakan nyaris punah jika tidak sering dipertontonkan di hadapan khalayak terutama kaum muda.
Sementara Ketua Pelaksana Festival Wayang Gong, Zulfansyah Bondan mengaku cukup bangga festival Wayang Gong dan Pagelaran Damarwulan yang sempat tertunda beberapa kali bisa dilaksanakan. Menindaklanjuti festival, Minggu (9/9) pagi juga dilaksanakan diskusi mengangkat Seni Wayang Gong dengan pembicara Drs Mukhlis Maman dan Bakhtiar Sanderta.
Sumber : www.banjarmasinpost.co.id Kredit foto : id.wikipedia.org