Close
 
Sabtu, 22 Agustus 2026   |   Ahad, 8 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 496
Hari ini : 10.585
Kemarin : 24.647
Minggu kemarin : 178.006
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

15 sepember 2007 04:20

Syekh Abdurauf Pantas Peroleh Gelar Pahlawan Nasional

Banda Aceh-  Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Dr. Darni M. Daud, MA menilai ulama kharismatik Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Tengku Syekh Abdurauf bin Ali A-Fansury cukup pantas memperoleh gelar Pahlawan nasional dari Pemerintah Indonesia. 

"Syekh Abdurauf dikenal bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga politikus, intelektual dan pemikir yang telah banyak melahirkan karyanya hingga dikenal dikawasan Asia Tenggara," katanya pada acara "Sehari calon pahlawan nasional Syekh Abdurauh di Banda Aceh, Selasa.

Dalam makalah berjudul "Rekam jejak, kiprah dan eksistensi Syekh Abdurauf bin Ali Al-Fansury, almarhum yang lahir pada tahun 1592 M di Desa Lipat Kajang, Simpang Kanan, Aceh Singkil, memperoleh pengetahuan dasar Islam dan bahasa arab dari ayah dan pamanya Syekh Hamzah Fansury.

Ia memperdalam pengetahuan tentang Islam di Deyah Geudong Samudera Pasai pimpinan Syekh Syamsuddin Sumatrany serta memperdalam ilmu di jazirah Arab (Mekkah, Madinah, Yaman, Baitul Makdis dan Istambul) selama hampir 20 tahun. Menurut Darni, ia menguasai berbagai ilmu tentang keislaman tidak terlepas dari bimbingan 19 ulama "guru" terkemuka serta bimbingan dari 27 sahabatnya serta sebelas orang sufi selama bermukim di kawasan jaziarah Arab.

Kepulangannya ke Aceh tahun 1161 M telah memberikan muatan positif bagi penyelesaian kesalahpahaman antara pengikut paham Wardatul wujud (Wujudiyah) dengan paham Isnaniyatul Wujud, serta mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dan ulama pada masa itu. "Atas kemampuan yang luar biasa itulah, Ratu Safiatuddin (tahun 1165 M) mengangkatnya menjadi kadhi Malikul Adil (mufti besar Kerajaan Aceh Darussalam menggantikan Syekh Nurdin Ar-Raniry," katanya.

Penobatan nama Tengku Syiah Kuala pada lembaga pendidikan tinggi tertua di Aceh dengan nama Universitas Syiah Kuala merupakan salah satu bentuk penghargaan atas jasanya sebagai seorang ulama, negarawan, politikus, pemikir, sastrawan, penulis dan juga pengarang. "Mungkin saat ini amat sulit ditemui sosok seorang seperti Syekh Abdurauf sebagai pahlawan pembaharu Islam di Aceh, nusantara dan dunia," katanya.

Pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dikaitkan dengan Syekh Abdurauf, satu hal yang dapat dijadikan "cermin" untuk memantul pada kehidupan Aceh masa kini dan mendatang adalah program pendidikan bagi putra-putri Aceh secara terprogram hingga ke luar negeri.

Selain itu, Syekh Abdurauf dengan pemikiran hukumnya yang membolehkan kepemimpinan dalam Islam dipegang oleh wanita telah mengantarkan sejumlah perempuan Aceh menjadi pemimpin, padahal di negeri Islam lainnya tidak memberikan kesempatan kepada perempuan menjadi pemimpin.

Sumber : www.republika.co.id


Dibaca : 1.989 kali.

Tuliskan komentar Anda !