Minggu, 23 Agustus 2026 |Isnain, 9 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 770
Hari ini
:
12.762
Kemarin
:
20.520
Minggu kemarin
:
178.006
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
19 sepember 2007 08:22
Sumatera Barat Dijadikan Model Provinsi Siap Menghadapi Gempa
Padang- Suasana hati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat berada di Sumatera Barat, berbeda 180 derajat dengan saat berkunjung ke Bengkulu. Ia bahkan menetapkan Sumbar sebagai model provinsi yang betul-betul siap menghadapi gempa.
Penetapan Sumbar sebagai model ini tidak terlepas dari kesan yang didapat SBY dari paparan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi yag dinilainya realistis. “Dengan data yang realistis, solusi bisa tepat dilakukan. Sumber daya yang dikerahkan juga tepat,” katanya. Data yang valid, kata SBY tetap harus diverifikasi. Sebab, dana yang dipakai harus dipertanggungjawabkan. Setiap mengeluarkan anggaran harus betul-betul akuntabel.
SBY merasa bersyukur karena dalam gempa di Sumbar jumlah korban bisa diminimalkan. “Hari ini saya ingin menjadikan Sumbar sebagai model provinsi yang didesain untuk betul-betul bisa menghadapi bencana,” kata SBY (18/9).
Untuk itu SBY meminta dipastikan pengorganisasian yang baik. Pengorganisasian itu dicontohkan misalnya ada posko yang mencatat semua kronologi, data korban jiwa, material, dan sebagainya secara akurat. Posko inilah yang akan mengendalikan semua kegiatan selama 24 jam. “Tanggap darurat bukan rencana bangun tidur, bukan keputusan asal-asalan. Manajemen bukan berarti tidak cepat. Tanpa manajemen, jadi amburadul, kacau,” kata SBY.
SBY sempat memuji Mardiyanto saat menjadi Gubernur Jateng, yang dinilai melakukan pengorganisasian dengan baik saat terjadi gempa di Yogya Jawa Tengah. Namun dalam hal kesiapan Pemda, SBY memuji Gamawan Fauzi.
Dua gubernur yang dipuji SBY, Gamawan dan Mardiyanto, berasal dari PDIP. Sedangkan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin, yang ditegur SBY sehari sebelumnya adalah gubernur yang dicalonkan PKS dan sekarang menjadi Ketua DPD Partai Demokrat Bengkulu.
Untuk menjadikan Sumbar sebagai model, SBY meminta Menko Kesra Aburizal Bakrie memikirkan kerja sama dengan negara sahabat. Kerja sama itu perlu dilakukan dengan pusat meteorologi geofisika negara lain dan pusat sistem satelit negara lain. “‘Saya ingin sebagai model, Sumatera Barat ditata, dibangun peralatan untuk hadapi bencana dengan teknologi yang tepat. Pak Ical (Aburizal Bakrie, red) tolong dipikirkan kerja sama dengan badan-badan internasional,” katanya.
“Dengan latihan organisasi, posko, dan kepemimpinan, banyak yang bisa kita selamatkan. Save more life of our people,” sambung SBY.
SBY menginginkan semuanya selesai dalam dua tahun ini. “Saya ingin 2009 sudah terinstalasi. Paling tidak saya tidak ingin memberi beban kepada presiden pengganti saya. Kalau masa bakti saya sampai 2009, ya itulah kalau bisa kita lakukan sebaik-baiknya. Lebih cepat lebih bagus,” kata SBY.
Usai memberikan pemaparan kepada para bupati dan wali kota se-Sumatera Barat, SBY sempat meninjau lokasi gempa di sepanjang jalan Pesisir Selatan hingga akhirnya menuju Bandara Internasional Minangkabau Padang. Pukul 13.30 WIB, SBY meninggalkan Sumbar dan terbang ke Jakarta.
Perintahkan Pejabat Rajin Mencatat
Dalam kunjungannya ke Sumbar, SBY meminta para pejabat rajin mencatat. Catatan ini penting untuk mereview peristiwa yang pernah terjadi. Minimal untuk persiapan membuat otobiografi ketika sudah tidak menjabat lagi.
Anjuran mencatat itu disampaikan SBY kepada para bupati di Sumatera Barat (Sumbar) di kediaman Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abid, Selasa (18/9) pagi. SBY memang menginap di rumah dinas Bupati Pesisir Selatan setelah melakukan perjalanan darat selama sepuluh jam untuk meninjau lokasi gempa di Sumatera Barat.
Selama mendengar paparan dari bupati dan gubernur, SBY dan Ani Yudhoyono memang terlihat menyimak dan mencatat. Itu juga dilakukan di berbagai kegiatan.
“Catatan saya ini mungkin paling lengkap. Belum tentu para menteri selengkap catatan saya,” kata SBY. Para menteri yang hadir, seperti Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkes Siti Fadilah Supari, Mensos Bachtiar Chamsyah, Menteri PU Djoko Kirmanto, dan Panglima TNI Djoko Suyanto pun tertawa sambil berpandangan.
Menurut SBY, kebiasannya mencatat dilandasi kesadarannya bahwa ada batas kemampuan daya ingat seseorang. Catatan bisa mengingatkan suatu komitmen yang mungkin lupa karena kesibukan. Dengan mencatat, kata SBY, dirinya memiliki rekaman saat keputusan diambil. “Ada emosinya, ada pertentangannya yang tidak bisa ingat semua tanpa catatan,” kata SBY.
SBY mengatakan, catatan itu juga berguna kalau sudah tidak menjabat lagi dan ingin membuat otobiografi. “Nah, otobiografi tidak boleh mengarang, tanpa data, tanpa fakta, tanpa kejadian yang sebenarnya. Kalau bupati, wali kota, gubernur, menteri, presiden, pimpinan DPD, Panglima TNI suatu saat bercita-cita menulis buku. tiap hari sudah menabung,” kata SBY.
Otobiografi, kata SBY sangat bernilai bagi generasi mendatang. “Ini baik bagi kita untuk mempersiapkan pada saat kita turun, kalau tidak kita persiapkan, nanti tidak bagus,” papar SBY lagi.
Selain meminta bupati dan wali kota mencatat, SBY juga meminta mereka rajin membaca buku. “Bupati, walikota jangan sama sekali tidak membaca lho. Ya paling tidak sabtu-minggu sisakan 2-3 jam untuk membaca,” kata SBY.
Di depan para bupati dan walikota, SBY kembali memberikan ceramah kepemimpinan. Menurut SBY menjadi bupati dan walikota, atau gubernur, bahkan presiden harus siap secara mental, pengetahuan, ketrampilan, dan siap berkorban.
“Pak Gamawan (Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, red) mesti siap. Saya pun siap. Meskipun terus terang luar biasa yang kita lakukan di tengah suasana seperti itu,” kata SBY. “Di tengah orang-orang yang senang mencerca. Sakit harus kita hadapi,” katanya.
SBY mengatakan, dirinya tidak ingin bupati, wali kota, dan gubernur, tak kuat menghadapi semuanya. “Jangan cengeng,” tegasnya.