Close
 
Kamis, 11 Juni 2026   |   Jum'ah, 25 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.846
Kemarin : 20.067
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

02 oktober 2007 02:06

Banyak Remaja Aceh Timur Tidak Bisa Baca Alquran

Banyak Remaja Aceh Timur Tidak Bisa Baca Alquran

Peurulak- Sektar 80 persen remaja di Aceh Timur tidak bisa membaca dan memahami kitab suci Alquran secara benar. Kondisi ini dipengaruhi akibat derasnya budaya asing masuk ke sana. Akibatnya Aceh Timur sebagai simbol Islam Asia Tenggara terancam tinggal kenangan belaka.

Demikian dikatakan Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah saat peringatan Nuzulul Quran, Sabtu (29/9) malam kemarin yang dipusatkan di Masjid Zadul Muad Peureulak. “Hampir 80 persen putera-puteri di Aceh Timur ini tidak bisa membaca Al-quran. Sungguh sangat sedih bagi kita. Padahal Islam pertama kali masuk di Aceh Timur. Tepatnya di Peureulak,” katanya di hadapan ratusan jamaah shalat insya dan taraweh

Menurut Muslim, kondisi tersebut berjalan dengan sendirinya tanpa disadari oleh remaja sebagai penerus bangsa. Alquran, ungkap dia, sebagai petunjuk hidup umat manusia sudah jauh ditinggalkan oleh remaja sekarang ini. “Mereka lebih memilih menghisap ganja, shabu-shabu, dan perbuatan yang merugi lainnya,” tambahnya

Perihal itu, terang Muslim, diketahuinya setelah diadakan penelitian beberapa waktu lalu. Yang menyimpulkan sebanyak 80 persen putera-puteri di Aceh Timur tidak bisa membaca Alquran.

Padahal, kata dia, jika digunkan kesempatan, Syariat Islam dengan baik, niscaya keharuman nama Aceh Timur sebagai simbol Islam pertama tetap berseri. “Kalau Alquran sebagai ruh Syariat Islam tidak bisa dibaca lagi. Berarti hati kita dalam keadaan mati,”ungkapnya.

Oleh kerana itu, ia berharap, melalui peringatan nuzulul Quran harus ada tekad dari semua warga Aceh Timur untuk mensyiarkan Islam kembali. “Dulu orang Aceh sangat pintar baca Alquran. Jadi apa bedanya kita dengan orang zaman dulu. Mereka juga makan nasi,” katanya.

Tapi sayang, Bupati Muslim Hasballah, pada kesempatan tersebut tidak menyebutkan upaya Pemkab Aceh Timur dalam mengatasai persoalan dimaksud.

Sastra Paling Tinggi

Tgk HM Daud Hasbi MAg yang menjadi penceramah tunggal Nuzul Quran di Aceh Timur membahasa keistimewaan Al-quran yang mengandung nilai sastra tertinggi dibandingkan dengan karya sastra lainnya. Al-quran tidak dapat ditiru walau ditempuh dengan cara apapun. Karena kandungan sajaknya sudah tertata dengan rapi.

Menurut Daud Hasbi, kandungan sastra berupa sajak dalam al-quran sangatlah enak untuk dibaca dan didengar. Bunyi kalimat yang mempunyai nilai arsistik luar biasa merupakan salah satu mukjizat yang diberikan Allah.” Beberapa ayat Quran yang pernah ditiru kalangan kafir Quraisy sama sekali tidak enak didengar dan mudah ketahuan,” jelas dia di hadapan ratusan jamaah.

Sumber : www.serambinews.com
Kredit foto : sekolah.mmu.edu.my


Dibaca : 3.014 kali.

Tuliskan komentar Anda !