Close
 
Kamis, 23 Oktober 2014   |   Jum'ah, 28 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.454
Hari ini : 8.312
Kemarin : 23.762
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.260.597
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 januari 2007 02:15

Hat Yai, Pesona Thailand di Tanah Melayu

Lalu lalang manusia berkulit kuning langsat, sawo matang, biksu, dan gadis berjilbab di tengah aroma dupa untuk sembahyang merupakan keunikan Kota Hat Yai di Thailand Selatan. Di sudut Kota Hat Yai, patung Buddha setinggi dua puluh meter berpadu dengan tempat sembahyang -Pra Chin- di rumah penduduk diselingi rumah makan Muslim di sudut-sudut kota merupakan pemandangan unik.

Semenanjung Malaya selama ini identik dengan perpaduan tiga budaya: Melayu, Cina, dan India. Namun, nun di utara Semenanjung Malaya yang menjadi wilayah Thailand tepatnya di Kota Hat Yai, kombinasi budaya Thai-Cina dan Melayu menjadi keunikan daerah tersebut.

Terapit di antara empat provinsi berpenduduk Melayu, Satin, Yala, Naratiwat, dan Pattani, Hat Yai menjadi pusat bisnis Provinsi Songkla sekaligus pintu gerbang Thailand di selatan. Kota ini terletak 60 kilometer dari perbatasan Thailand di Sadao dengan Bukit Kayu Hitam di negara bagian Kedah, Malaysia.

Tidak ada nuansa perang atau ancaman terorisme selepas aksi penumpasan gerakan separatis di tiga provinsi, Yala, Naratiwat, dan Pattani, selama bulan April-Mei 2004. Bahkan, di pintu perbatasan Sadao, Thailand, dan Bukit Kayu Hitam, Malaysia, Pemerintah Thailand memasang spanduk besar bertuliskan "All Visitor Are Welcome to Thailand. There Is No Restriction Or Curfew in Songkla."

Pemerintah Thailand memang sangat menjaga image kedamaian negerinya demikianlah tampak dari siaran televisi setempat yang minim siaran kriminal ala televisi Indonesia. Menjaga citra aman dan damai memang sangat penting demi menjaring wisatawan sekaligus menjaga martabat bangsa.

Seperti wilayah Thailand sekitar Bangkok, kawasan utara di Chiang Mai dan Chiang Rai, Provinsi Songkla pun sangat mengandalkan pariwisata sebagai salah satu roda penggerak ekonomi mereka. Suasana tenang, bersih, keramahan masyarakat dan perpaduan budaya memang menjadi daya tarik Hat Yai.

Bagi wisatawan pemula tidak sulit menjangkau Hat Yai karena dapat dijangkau dengan perjalanan darat sekitar tiga setengah jam dari Penang yang berseberangan dengan Medan, Sumatera Utara. Ongkosnya pun murah, yakni RM 20 sekali jalan atau sekitar Rp 45.000 per penumpang minibus yang memiliki pendingin ruangan.

BERTUALANG di Hat Yai merupakan rangkaian kegiatan sepanjang hari, wisata makanan eksotis, berbelanja barang produk mutakhir namun murah meriah, mengenal budaya dan nuansa Buddhis Thailand, serta terakhir tentu saja hiburan malam yang terkenal meriah dari pentas waria hingga tarian erotis tersedia di sudut-sudut kota.

Kompas bersama rombongan wartawan Indonesia memulai penjelajahan Hat Yai dari pusat perbelanjaan produk kerajinan tangan. Beragam produk kerajinan kulit buaya, kulit ikan pari, dan tenunan dari seluruh wilayah Thailand, terutama wilayah utara sekitar Chiang Mai dan Chiang Rai, terpajang di toko cendera mata.

Harga barang dagangan cukup terjangkau pada kisaran 100-1.000 baht atau sekitar Rp 22.000 hingga Rp 220.000. Sebagai perbandingan produk tenunan Thailand serupa di plaza terkenal di Jakarta, harganya mencapai Rp 400.000 atau Rp 500.000 per lembar.

Para penjaga toko kebanyakan mampu berbicara dalam Melayu pasar seperti di Malaysia. Tentu saja tidak ada kesulitan bagi wisatawan Indonesia yang memang dikenal hobi berbelanja.

Selain toko besar yang menjual cendera mata, kita dapat berbelanja sambil menawar di gerai pedagang kaki lima (PKL). Tidak seperti PKL di Indonesia yang semrawut, pedagang di Thailand menata rapi dagangan dengan menyisakan ruang untuk lalu lalang pejalan kaki.

Kawasan pusat Kota Hat Yai di Prachathipat Road, Duangchan Road, dan Niphat Unit serta Sanehanusorn Road merupakan surga untuk berbelanja di gerai PKL. Kaus kualitas wahid buatan Thailand yang di Jakarta dijual Rp 75.000 per lembar, di sini harganya lebih murah 70 persen atau hanya 100 baht alias Rp 22.000 saja!

Tak hanya berbelanja barang murah, jika kelebihan uang dan ingin membeli barang branded, seperti Camel Active, Levis, ataupun tas Samsonite, dapat dengan mudah dijumpai di pelbagai pusat perbelanjaan yang tidak kalah mewah dibandingkan dengan Plaza Senayan.

Lagi-lagi, harga barang di Thailand lebih murah dibandingkan dengan Jakarta. Sebagai contoh, produk kemeja Camel Active terbaru harganya hanya sekitar 1.000 baht atau Rp 220.000, sementara produk serupa di Jakarta berbandrol Rp 300.000. Demikian pula tas ransel Samsonite dengan kompartemen untuk menyimpan notebook harganya hanya 2.000 baht atau sekitar Rp 440.000. Produk sejenis di Jakarta harganya paling murah Rp 750.000.

Lelah berbelanja, urusan perut pun tidak menjadi persoalan. Pelbagai masakan Melayu atau masakan Thai halal dapat dijumpai di pelbagai sudut kota. Harganya? Tentu saja murah meriah dan sedap.

Untuk menjamu delapan orang rombongan Kompas dengan enam belas porsi hidangan seperti Tom Yam Gong, sayur sawi masak belacan (terasi-Red), daging masak merah dan telur dadar isi ala Thai, semuanya hanya menghabiskan sekitar 1.100 baht atau sekitar Rp 240.000. Nasi dihidangkan melimpah oleh pemilik rumah makan, kita boleh menambah terus-menerus hingga kenyang.

Jika kelaparan di malam hari, tak usah cemas, warung pinggir jalan (hawker-Red) berjajar di sepanjang Sanehanusorn Road berjualan hingga pagi hari. Sepotong ayam goreng ukuran besar berikut hati dan ampela harganya hanya 40 baht atau Rp 4.400. Cemilan seperti cumi bakar ukuran besar, harganya hanya 10 baht atau Rp 2.200 seporsi. Yang paling mahal adalah sup sarang burung walet yang harganya mencapai 150 baht per mangkuk atau sekitar Rp 33.000. Pelbagai minuman ringan seharga 5-10 baht juga dapat dibeli di situ.

Lukman, warga Melayu Thai, mengatakan, mencari makanan halal sesuai dengan ajaran Islam tidaklah sulit di Thailand. Penjual makanan atau restoran biasanya mencantumkan tulisan halal di kedai mereka.

Lepas dari urusan belanja dan mengisi perut, tibalah bagian utama dari menikmati nuansa Thailand, yakni mengunjungi Wat-Kuil Buddha-serta menyaksikan gebyar hiburan malam. Kita dapat menyaksikan Patung Buddha setinggi 20 meter lebih tak jauh dari pusat kota di sudut Saeng Sri Road di belakang sebuah wat yang bersebelahan dengan sebuah sekolah.

Patung tersebut berdiri megah, sementara lingkungan wat pun tak kalah asrinya. Warna- warni penghias kuil, patung Sang Buddha, ruang sembahyang, semua terbuka untuk dikunjungi. Tentu saja kita harus mengikuti tata krama setempat, yakni melepas kasut di dalam ruang sembahyang wat, dan satu hal penting, jangan pernah menyentuh atau mengusap kepala orang Thai karena hal itu sangatlah tabu!

Tidak hanya wat berarsitektur Thailand, Hat Yai yang memiliki banyak penduduk Tionghoa Thai juga mempunyai Kelenteng Tionghoa. Kuil Tionghoa ini berdiri megah di sudut Pracharak Road.

Salah satu landmark Buddhisme di Hat Yai adalah patung Bodhisattva Kuan Yin. Patung megah buatan Cina itu merupakan patung Kuan Yin terbesar di Thailand. Umat Buddha dari Malaysia, Singapura, dan Thailand kerap berziarah di tempat ini.

Selepas petang hari, kita dapat saja meminta izin untuk bermalam di wat kepada para biksu. Namun, jika masih ingin melangkahkan kaki, menyaksikan dugem atau dunia gemerlap Thailand janganlah dilewatkan.

Menurut Khaimuk (34), wanita yang merupakan warga Hat Yai, hiburan malam merupakan salah satu magnet yang menarik wisatawan Malaysia ataupun Singapura bahkan dari Indonesia untuk menghabiskan waktu di kota itu.

Sepanjang pusat kota menjelang tengah malam, kita dapat menyaksikan kios atau toko penjual tiket bus Thailand-Malaysia-Singapura yang memasang brosur besar bertuliskan Cabaret atau Sexy Show. Kedua pertunjukan ini menjual seni serta sensualitas perempuan setempat dengan tiket 400 baht sekali masuk atau sekitar Rp 88.000.

Perbedaan pertunjukan ini adalah Cabaret Show merupakan pentas para waria Thailand yang memang cantiknya sulit dibedakan dari perempuan tulen. Bahkan, terkadang mereka lebih mulus, cantik lagi aduhai….

Lain lagi pertunjukan Sexy Show, semuanya tarian erotis yang berakhir dengan pentas striptis alias telanjang bulat. Kedua jenis pentas ini berlangsung sepanjang malam pada sejumlah hotel dengan dua atau tiga kali pertunjukan meski penonton penuh atau pun hanya dua-tiga pengunjung.

Terlepas dari hiburan sensual, kita dapat merasakan suasana berbeda nonton bioskop di Hat Yai yang memiliki gedung bioskop megah seperti Plaza Senayan namun harga karcis sangat murah hanya 100 baht atau Rp 22.000. Uniknya, di tengah pertunjukan, film mendadak berhenti, terdengar lagu kebangsaan dan muncul gambar Raja Bhumibol Adulyadej yang dicintai rakyat Thai. Kontan seluruh penonton berdiri memberi hormat.

Itulah sepenggal kenangan dari Hat Yai kota berpenduduk 200.000 yang memberi warna berbeda di Semenanjung Malaya. Ibarat miniatur Bangkok, Hat Yai adalah perpaduan keramahan, pesona dan eksotisme persilangan budaya Asia Tenggara.(Iwan Santosa dari Thailand)


Sumber:

Kompas


Dibaca : 12.365 kali.

Tuliskan komentar Anda !