Close
 
Senin, 24 Agustus 2026   |   Tsulasa', 10 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.554
Kemarin : 23.903
Minggu kemarin : 178.006
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

16 sepember 2015 01:52

Yogya Gelar Lomba Dagelan Mataram 2015

Lawak Butuh Kecerdasan Memainkan Kata-kata

Yogyakarta, Melayuonline.com – 13 grup dagelan (lawak) dari berbagai daerah di DIY beradu dalam Lomba Dagelan Mataram yang digelar di Panggung Terbuka Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 15-16 September 2015. Lomba ini diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal Yogya. “Lomba Dagelan Mataram untuk menyelamatkan Yogya sebagai ibu kota budaya dan perekat para seniman,” kata Umar Priyono, Kepala Dinas Kebudayaan DIY ketika membuka lomba dengan memukul kenong.

Ditegaskan oleh Umar Priyono, apa yang pernah dilakukan oleh maestro lawak Basiyo (alm) memberikan inspirasi dan motivasi dalam merespon artikulasi jaman. Lomba ini juga bermanfaat untuk ajang silaturahmi para seniman lawak di Yogya.

Malam pertama lomba menampilkan 7 grup dan malam kedua, Rabu (16/9), menampilkan 6 grup. Dalam lomba ini akan dipilih 5 pemenang, di antaranya pemain terbaik putra dan putri. Juara pertama akan dikirim ke Anjungan DIY di TMII Jakarta untuk perform pada 27 September 2015. 13 grup yang tampil adalah MCK (lakon: Kewirangan), Sekar Mataram (Ora Wurunga), Giras (Getun), Komedi Mataram (Kena Santet), Pasty Gumregah (Watu Bundhet), Mbeling (Anak Ku Dewe), Gebleg Renteng (Keliru Tampa), Sinta Mataram (Daster Keblinger), Suminar (Wurung), Kemben (Pulung), Wirabraja Mudha (Wangsit) dan Esem Group (Mundak Pingin). Sedangkan dewan juri terdiri dari Dr. Sumaryono, MA, Yati Sumaryo, Drs. RM Kristiadi, Dra. Daruni, M. Hum, dan Indra Tranggono.

Dr. Sumaryono, MA Ketua Dewan Juri, yang ditemui Melayuonline sehabis pentas, mengatakan melawak itu butuh kecerdasan, dan ini lebih sulit dari yang lain. Modal lawak harus lucu dalam kecerdasan memainkan kata-kata yang tak mudah diucapkan. “Jangan sampai melawak itu jatuh menjadi kethoprak atau acara mbangun desa. Ini butuh pengalaman dan jam terbang dalam mengasah ilmu,” ujar Sumaryono yang dari ISI Yogya.

Indra Tranggono salah satu dewan juri juga mengungkapkan hal yang hampir serupa, permainan karakter pemain cenderung seragam. Materi yang lucu tapi tak disampaikan dengan gaya humor. “Banyak pementasan terjebak dalam sandiwara dan belum mampu menampilkan yang komedis,” kritik Indra.

Banyak pemain yang cenderung main stereotip. Pelawak seharusnya bisa berpikir seperti orang lain atau memberi versi lain. “Pilihan cerita tak memiliki potensi kelucuan. Saya merekomendasikan harus ada workshop dagelan Mataram. Banyak group yang tak memiliki kekhasan,” tandas Indra Tranggono. * (Teguh R Asmara)


Dibaca : 2.575 kali.

Tuliskan komentar Anda !