Tuesday, 25 August 2026   |   Tuesday, 11 Rab. Awal 1448 H
Online Visitors : 0
Today : 5.689
Yesterday : 29.971
Last week : 178.006
Last month : 11.454.048
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

16 sepember 2015 01:52

Yogya Gelar Lomba Dagelan Mataram 2015

Lawak Butuh Kecerdasan Memainkan Kata-kata

Yogyakarta, Melayuonline.com – 13 grup dagelan (lawak) dari berbagai daerah di DIY beradu dalam Lomba Dagelan Mataram yang digelar di Panggung Terbuka Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 15-16 September 2015. Lomba ini diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal Yogya. “Lomba Dagelan Mataram untuk menyelamatkan Yogya sebagai ibu kota budaya dan perekat para seniman,” kata Umar Priyono, Kepala Dinas Kebudayaan DIY ketika membuka lomba dengan memukul kenong.

Ditegaskan oleh Umar Priyono, apa yang pernah dilakukan oleh maestro lawak Basiyo (alm) memberikan inspirasi dan motivasi dalam merespon artikulasi jaman. Lomba ini juga bermanfaat untuk ajang silaturahmi para seniman lawak di Yogya.

Malam pertama lomba menampilkan 7 grup dan malam kedua, Rabu (16/9), menampilkan 6 grup. Dalam lomba ini akan dipilih 5 pemenang, di antaranya pemain terbaik putra dan putri. Juara pertama akan dikirim ke Anjungan DIY di TMII Jakarta untuk perform pada 27 September 2015. 13 grup yang tampil adalah MCK (lakon: Kewirangan), Sekar Mataram (Ora Wurunga), Giras (Getun), Komedi Mataram (Kena Santet), Pasty Gumregah (Watu Bundhet), Mbeling (Anak Ku Dewe), Gebleg Renteng (Keliru Tampa), Sinta Mataram (Daster Keblinger), Suminar (Wurung), Kemben (Pulung), Wirabraja Mudha (Wangsit) dan Esem Group (Mundak Pingin). Sedangkan dewan juri terdiri dari Dr. Sumaryono, MA, Yati Sumaryo, Drs. RM Kristiadi, Dra. Daruni, M. Hum, dan Indra Tranggono.

Dr. Sumaryono, MA Ketua Dewan Juri, yang ditemui Melayuonline sehabis pentas, mengatakan melawak itu butuh kecerdasan, dan ini lebih sulit dari yang lain. Modal lawak harus lucu dalam kecerdasan memainkan kata-kata yang tak mudah diucapkan. “Jangan sampai melawak itu jatuh menjadi kethoprak atau acara mbangun desa. Ini butuh pengalaman dan jam terbang dalam mengasah ilmu,” ujar Sumaryono yang dari ISI Yogya.

Indra Tranggono salah satu dewan juri juga mengungkapkan hal yang hampir serupa, permainan karakter pemain cenderung seragam. Materi yang lucu tapi tak disampaikan dengan gaya humor. “Banyak pementasan terjebak dalam sandiwara dan belum mampu menampilkan yang komedis,” kritik Indra.

Banyak pemain yang cenderung main stereotip. Pelawak seharusnya bisa berpikir seperti orang lain atau memberi versi lain. “Pilihan cerita tak memiliki potensi kelucuan. Saya merekomendasikan harus ada workshop dagelan Mataram. Banyak group yang tak memiliki kekhasan,” tandas Indra Tranggono. * (Teguh R Asmara)


Read : 2.576 time(s).

Write your comment !