Minggu, 23 Agustus 2026 |Isnain, 9 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 320
Hari ini
:
15.329
Kemarin
:
20.520
Minggu kemarin
:
178.006
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
01 november 2007 03:02
Indah, Tapi Terkesan Kumuh
Palembang- Program Visit Musi 2008 yang akan di-launching 5 Januari 2008 kembali menjadi sorotan. Direktur Bina Program Departemen Pekerjaan Umum (PU), Ir Danny Sutjiono, menilai, penataan pemukiman rumah di sepanjang Sungai Musi masih terkesan kumuh. "Percuma kalau pemerintah sudah menyiapkan kapal persiar untuk wisata sungai, tetapi kalau yang dilihat pemukimannya kumuh begitu. Nah, harus mulai dilakukan perbaikan dengan mendorong dan di fasilitas pemerintah kota," ujar Danny, usai sosialisasi penilaian kinerja pemerintah daerah bidang Pekerjaan Umum di ruang Bina Praja Pemprov Sumsel, kemarin (30/10).
Diungkapkannya, apabila ingin menjadikan Kota Palembang sebagai kebanggaan dan dikunjungi para wisatawan asing, pemkot bersama masyarakatnya harus mampu bekerja sama melakukan penataan. Tata ruang yang baik seperti bagaimana menata pemukiman di sepanjang kawasan pinggiran sungai perlu dipikirkan. "Masyarakat harus diberi kesadaran. Tata ruang yang baik tidak akan bisa berjalan kalau kesadaran masyarakat tidak ditumbuhkan dan tidak ada kepedulian," tuturnya.
Konsep penataan sungai yang baik, menurut Danny, jika sepanjang kawasan pinggiran sungai tidak ada lagi rumah yang membelakangi sungai. "Tetapi kalau rumahnya langsung ke sungai, dia akan menjadi beranda belakang. Kalau sudah menjadi beranda belakang, biasanya belakang itu untuk membuang kotoran dan segala macamnya. Dan orang melihatnya menjadi tidak baik," tuturnya.
Berarti penataan rumah di kawasan Sungai Musi belum optimal? "Saya kira harus ditingkatkan. Kalau kita ingin bangga dengan Kota Palembang," ujarnya. Pemerintah, masih kata Danny, harus memberikan penyuluhan dan kesadaran kepada masyarakat. Sebab, rumah menjadi tanggung jawab masyarakat sendiri. Jika tidak ada kesadaran, akan sulit untuk membuat Sungai Musi menjadi lebih bagus.
"Kalau penataan dilakukan dengan baik, akan banyak mengundang wisatawan. Seperti di Bangkok terkenal hanya dari sungai. Keindahannya tidak kalah hebat dari potensi yang ada di Sungai Musi. Tetapi dengan penataan yang sangat baik, jadi mampu dikenal di mancanegara," ungkapnya. Tidak hanya itu, saat ini setiap daerah juga perlu mengembangkan arsitek budaya perumahan lokal. Termasuk, penataan pemukiman kawasan Sungai Musi agar menjadi lebih indah.
"Hal ini perlu dilakukan selain kita ingin melestarikan budaya lokal. Kita harus bangga dengan arsitek sendiri. Ini bisa dilakukan dengan memberikan tekanan dalam izin mendirikan bangunan (IMB) agar ada keseragaman budaya daerah," ungkapnya. Saat ini, revitalisasi adalah suatu proses bagaimana melestarikan budaya lokal. Dimana pemukiman harus benar-benar berciri lokal. "Jangan seperti di Jakarta. Kebanyakan warganya bangga memiliki arsistektur rumahnya dengan gaya Spanyol atau negara lainnya. Namun, seharusnya gaya rumah berarsistektur lokal seperti Sunda dan lainnya harus dijadikan suatu pilihan dan kebanggaan dong," tegasnya.
Apabila penataaan budaya lokal tersebut di lakukan di sepanjang Sungai Musi, Denny mengatakan, tidak menutup kemungkinan banyak turis asing yang datang ke Kota Palembang. "Yang jelas semuanya ini tidak hanya tergantung pada program pemerintah. Tapi pemerintah dan masyarakatnya harus bersama-sama bisa mewujudkan hal ini," pungkasnya.
Sumber : www.sumeks.co.id Kredit foto : www.explaju.com