Minggu, 26 April 2026 |Isnain, 9 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 396
Hari ini
:
10.830
Kemarin
:
23.172
Minggu kemarin
:
7.342.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
10 november 2007 03:27
Budaya Membaca di Aceh Rendah
Banda Aceh- Budaya membaca di kalangan masyarakat sangat rendah, sehingga buku baru yang terbit di Indonesia, termasuk di Aceh sangat minim. Semua pihak harus berperan mendorong rakyat agar lebir gemar dalam membaca.
Hal itu diungkapkan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten III Sekretariat Daerah Aceh Dermawan ketika membuka Pameran Buku Nasional Terbesar di Aceh tahun 2007, di Banda Aceh, Rabu (7/11) lalu.
Rendahnya minat baca di masyarakat, tambahnya, bisa dilihat dari jumlah judul buku baru yang terbit di Indonesia, yaitu sekitar 5.000 judul. Angka tersebut sangat kecil kalau dibandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul buku per tahun, dan Inggris lebih dari 100.000 judul per tahun.
Penyebab masyarakat kurang membaca akibat pengaruh media elektronik, munculnya teknologi televisi membuat masyarakat kita melompat dari budaya tutur ke budaya menonton, katanya.
Menumbuhkan
Deputi Bidang Agama, Sosial, dan Budaya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR), T Safir Iskandar Wijaya mengatakan, guna menumbuhkan minat baca di masyarakat Aceh, BRR menggelar pameran buku nasional di Aceh tahun 2007, yang mengambil tema "Aceh Membaca, Aceh Berjaya".
"Pameran buku ini diperlukan baik dalam konteks pencanangan budaya membaca tingkat daerah sebagai pertanda kebangkitan masyarakat Aceh pascatsunami dan konflik, juga menjadi sarana pertukaran informasi antarkomunitas pecinta buku," sebutnya
Panitia Pameran Buku Arnabun menyebutkan, pameran ini bertujuan menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat Aceh yang mulai bangkit setelah diterpa bencana gempa dan tsunami, tiga tahun silam.