Close
 
Rabu, 29 April 2026   |   Khamis, 12 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.982
Kemarin : 22.835
Minggu kemarin : 169.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

22 november 2007 09:17

Materi Pameran Asian International Art Exhibition Tertunda di Tanjung Priok

Materi Pameran Asian International Art Exhibition Tertunda di Tanjung Priok

Bandung- Ketua Panitia Pameran Seni Rupa Antar Bangsa Asia (Asian International Art Exhibition-AIAE) ke-22, Setiawan Sabana mengaku kesulitan mengurus kargo berisi karya seni rupa milik peserta dari Hong Kong di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Barang harus sampai besok di Bandung," ujarnya dalam konferensi pers di sekretariat Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB), Selasa (20/11).

Menurut Setiawan, 10 materi pameran itu terlambat didatangkan ke Bandung karena birokrasi yang rumit. Padahal materi pameran sudah dikirim sebelum bulan puasa.

Panitia sebenarnya sudah mengatur agar pengiriman materi pameran melalui satu perusahaan kargo. Namun, karena setiap peserta mengirimkannya dengan dana masing-masing, mereka tidak melewati satu pintu.

Materi tersebut seharusnya sudah masuk ke dalam ruang pamer di Selasar Sunaryo Art Space bersama sekitar 122 karya seni rupa lainnya. Pameran seni rupa tingkat Asia ini rencananya bakal dibuka pada Jumat (23/11) mendatang. Rencananya pameran ini akan diselenggarakan hingga 23 Desember 2007.

Pameran yang merupakan hasil kerjasama The Federation of Asian Artists (FAA), Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain (PPSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Selasar Sunaryo ini mengangkat tema "Membayangkan Asia: Pemahaman atas Perbedaan dan Perubahan".

Kurator pameran, Agung Hujatnikajennong mengatakan pameran tersebut bakal menampilkan karya dari 131 seniman yang berasal dari Tiongkok, Filipina, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Makau, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Indonesia. Para delegasi ini akan berada di Bandung selama empat hari.

"Seniman dari Indonesia terlihat menonjol secara kualitas. Namun yang ikut serta di sini, karya-karyanya juga patut diperhitungkan," papar Agung yang menjadi kurator pameran bersama Aminudin TH Siregar.

Keikutsertaan Indonesia sebagai tuan rumah merupakan kali ke-dua setelah sebelumnya membuat pameran serupa di Gedung Merdeka, Bandung, pada tahun 1992 silam.

Pada tahun ini, peserta juga diajak berdiskusi dalam Art Forum dengan pembicara Eddie Lui (Hong Kong), Bambang Sugiharto (filsafat Universitas Parahyangan), dan Ben Cabrera (Filipina) di Aula Barat ITB, Sabtu (24/11).

Terkait dengan materi pameran dari Indonesia, Agung menuturkan, didominasi oleh karya lukis. "Tema yang diangkat bertujuan menciptakan imajinasi-imajinasi baru tentang kebudayaan Asia dan perubahannya sebagai konsekuensi dari transformasi global pada abad ke-21," kata dia.

Beberapa seniman Indonesia yang turut serta dalam pameran ini, antara lain, Ade Darnawan, Agus Suwage, Arahmaiani, Asmudjo Jono Irianto, Astari Rasjid, Isa Perkasa, Tisna Sanjaya, Tinton Satrio, Heri Dono, Yani Mariani, Ugo Untoro, dan lainnya. Mayoritas seniman berasal dari Bandung.

Pameran ini mulanya diselenggarakan oleh kelompok seniman dari Korea, Taiwan, dan Jepang. Pameran ini dipimpin oleh Prof Ryu Kyung-Chai, Alm (Korea), Prof Kuo Jen (Taiwan), dan Soseki Akiyoshi (Jepang) pada tahun 1985. Seiring berjalannya waktu, acara ini diikuti pula oleh seniman dari negara-negara Asia lainnya.

Sumber : www.suarapembaruan.com
Kredit foto : www.selasarsunaryo.com


Dibaca : 2.448 kali.

Tuliskan komentar Anda !