Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
24 november 2007 03:02
Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM) Tampilkan 15 Seni Budaya Melayu
Tanjungpinang– Acara Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM) ke-3 Kabupaten Lingga tahun 2007 ini akan menampilkan 15 bentuk seni budaya Melayu. Jumlah ini meningkat lima cabang dibanding pelaksaan tahun lalu.
Adapun lima cabang tambahan itu adalah fertival gasing, perlombaan syair, lomba lagu Melayu, lomba pakaian Melayu, dan perlombaan penulisan sejarah. Sementara pementasan sandiwara bangsawan, kompang, zapin, tari inai, pameran bonsai, pameran lukisan dan lomba masakan Melayu tetap diselenggarakan seperti tahun lalu.
Acara yang berlangsung selama 8 hari itu diadakan di dua tempat, yakni di Daik Lingga dan Dabosingkep. Pembukaan diadakan di Daik Lingga mulai 24 November 2007 dan acara berlangsung sampai 28 November 2007. Kemudian dari 29 November 2007 hingga 1 Desember berlangsung di Dabosingkep.
“Rampai seni budaya Melayu ini sudah menjadi kalender wisata Kabupaten Lingga. Diadakan pada akhir tahun karena diharapkan mampu menjadi media hiburan bagi masyarakat disamping untuk memberikan kesempatan bagi pelaku seni budaya Melayu untuk mengembangkan kreatifitas mereka,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Lingga, Ir Muhammad Ishak MM, kepada Batam Pos, kemarin.
Pembukaan acara ini dilakukan Bupati Lingga, Drs H Daria bertempat di halaman Kantor Bupati di Daik Lingga. Pihak panitia sudah menyiapkan tari kreasi yang dilakukan secara massal oleh anak-anak SD, yang dipersiapkan oleh kareografer terbaik Provinsi Kepri dalam acara rampai seni tahun 2007, yakni Rusnadi.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Lingga, Hamzah mengaku RSBM ini cukup positif bagi para pelaku seni di Kabupaten Lingga. Karena melalui acara ini mereka dapat memanfaatkannya sebagai ajang unjuk kebolehan kepada masyarakat luas. Bagi masyarakat acara ini selain sebagai media hiburan juga dapat menilai sanggar mana yang kreatif.
“Karena ini sudah menjadi agenda tetap, sehingga setiap sanggar seni dapat mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari untuk tampil lebih baik. Sehingga acara ini memang cukup efektif sebagai usaha untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya Melayu di Kabupaten Lingga,” timpal Hamzah, mantan guru kesenian di SMA Dabosingkep ini.