Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
30 november 2007 10:11
Menristek: Banyak Hal Bisa Dikerjasamakan Indonesia-Malaysia
Kuala Lumpur- Menteri Riset dan Teknologi RI (Menristek) Kusmayanto Kadiman menyatakan, banyak hal bisa dikerjasamakan antara Malaysia dan Indonesia. Salah satu yang dia sebut adalah kerja sama pembangunan jaringan listrik mulai dari Kalimantan (termasuk Sabah dan Sarawak), Jawa-Sumatera, kemudian menyambung ke Semenanjung Malaysia.
"Indonesia punya potensi batubara dan energi panas bumi yang besar dan bisa dimanfaatkan untuk produksi listrik. Jika perlu kita jual ke negara-negara ASEAN lainnya," kata Kusmayanto saat berbicara dalam Dialog Industri di Kuala Lumpur, Kamis (29/11).
Soal lain yang bisa dikerjasamakan, menurut Kusmayanto, adalah produksi kacang kedelai sebagai bahan utama pembuatan tempe dan tahu di Indonesia, serta minuman Soya di Malaysia.
Dalam dialog itu, Kusmayanto yang dikenal suka humor itu juga menyentil hubungan Indonesia-Malaysia yang seringkali diwarnai ketegangan. Yang terakhir, soal reog. Ia lalu bercerita bahwa ketika baru tiba di Kuala Lumpur International Airport, dirinya mendapat SMS dari Indonesia bahwa 1000-an penari reog tengah melakukan demonstrasi di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.
Tentang hubungan Indonesia-Malaysia itu, ia berharap agar kedua pihak kembali seperti ABG (anak baru gede). "Tahu gak ABG. Di Indonesia ada istilah ABG bagi anak yang baru tumbuh. Mereka selalu ceria, senang main bersama dengan teman-temannya, saling berbagi kepemilikan," katanya.
Akan tetapi setelah mereka sama-sama dewasa, mulai saling berbisnis, tambah Kusmayanto, yang muncul adalah bisnis `mine`. "Apa yang berlaku dalam bisnis? This is mine (ini punya saya). That is mine (itu punya saya) dan itulah yang terjadi pada hubungan Indonesia-Malaysia saat ini. Makanya saya mengusulkan agar Indonesia dan Malaysia perlu kembali ke ABG," kata Kusmayanto disambut gelak tawa para peserta dialog yang terdiri dari ilmuwan, pengusaha dan akademisi dari mancanegara.
Untuk memperjelas gambaran itu, Kusmayanto kemudian menyebut sejumlah contoh. "Ketika Indonesia ekspor asap ke Malaysia, PM Malaysia, Pak Lah, memprotes kami. Tapi perlu diketahui juga bahwa yang membakar hutan kami di Sumatera dan Kalimantan antara lain para pengusaha Malaysia yang ingin buka perkebunan kelapa sawit. Namun ketika kami mengekspor udara segar dari hutan kami, Malaysia juga tidak mengucapkan terima kasih," katanya.
Sumber : www.kompas.co.id Kredit foto : www.defence.gov.au