Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
18 mei 2007 04:06
Media Massa Tak Beri Peluang Pada Musik Tradisional Melayu
Media massa tidak banyak memberi peluang bagi musik tradisional Melayu untuk berkembang, kata Vice Chairman Malay Music Development Committee Singapura, Yusnor E.F. di Yogyakarta.
“Musik tradisional Melayu tenggelam karena semakin kuatnya pengaruh musik barat pada kehidupan budaya,” kata dia saat berkunjung ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Seniman Melayu yang telah menulis lebih dari 250 lirik lagu tersebut mengatakan banyak musik Melayu yang dapat dikembangkan, namun media massa lebih berpihak pada musik barat.
“Anak muda sekarang lebih mengenal musik barat dibanding budaya sendiri,” kata dia.
Lagu Melayu asli saat ini masih dapat ditemukan di Sumatera, Singapura, dan Malaysia. “Contoh lagu Melayu antara lain Sri Banang, Makan Sirih, dan Nasib Panjang,” kata penulis skenario film Irisan-irisan Hati ini.
Film Irisan-irisan Hati adalah film yang skenarionya merupakan kolaborasi antara penulis Indonesia dan Singapura. Film yang keluar pada tahun 1990-an ini dibintangi oleh Dedy Mizwar dan Christine Hakim.
Selain itu, kata dia, di Singapura dan Malaysia juga berkembang lagu Ghazal, yaitu lagu melayu yang dipengaruhi budaya Arab.
Lagu Melayu seperti Dondang Sayang yang merupakan lagu berbalas pantun dan lagu Keroncong merupakan lagu tradisional yang sebaiknya dikembangkan.
Ia menambahkan, lagu tradisional lainnya seperti ‘dikir barat’, ‘mak youg’ dan ‘boria’ dapat ditemukan di Kelantan dan Thailand.
Selain lagu tradisional, kata dia, juga terdapat musik Melayu ‘muden’ seperti irama ‘masri’, joget ala Hindustan, dan Langgam. “Semua itu merupakan seni bernilai tinggi dan harus dikembangkan,” kata dia.