Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
02 februari 2008 11:13
Perpustakaan Ideal untuk Melihat Dunia Melayu se-Dunia
Yogyakarta, MelayuOnline.com. Di tengah kesibukan dan panasnya kota Yogya, para redaktur MelayuOnline.com mengundang seorang pustakawan kawakan UGM, Lasa Hs., pada Sabtu (2/02/2008) untuk memberikan materi diskusi tentang manajemen kepustakaan. Ia berbicara tentang “Pepustakaan dan Perkembangannya.”
Pembicaraan diarahkan pada bagaimana membangun perpustakaan ideal, baik yang konvensional maupun digital. Ia mengatakan, “perpustakaan merupakan suatu kebutuhan bagi kita sebagai manusia yang selalu bertanya dan menambah pengetahuan tentang apapun. Namun, pada kenyataannya tidak banyak orang yang mau memperhatikan dunia perpustakaan. Terutama dikarenakan rendahnya dukungan finansial dari pemerintah. Di samping itu, minimnya sumber daya manusia yang ahli dalam bidang kepustakaan menyebabkan terhambatnya perkembangan perpustakaan.”
Di tengah minimnya perhatian berbagai pihak terhadap perpustakaan, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), sebagai lembaga induk MelayuOnline.com, berketetapan hati mengembangkan perpustakaan yang representatif untuk mendukung kajian tentang Melayu dan kemelayuan sedunia. Sehingga, sekiranya perlu menghadirkan perpustakaan khusus/spesifik dan ideal tentang dunia Melayu—mulai dari pustaka sastra klasik Melayu hingga hal-hal yang sifatnya kontemporer—dalam dua bentuk, yakni konvensional [kertas] dan digital.
Di kantor BKPBM, telah dikembangkan perpustakaan konvensional yang terkait dengan dunia Melayu. Sementara itu, perpustakaan versi digital sudah digarap dan ditampilkan melalui MelayuOnline.com. Kendati demikian, sejauh ini masih banyak kekurangan pada kualitas manajemen perpustakaan. Sehingga, pada kesempatan diskusi tersebut, para kru secara aktif melontarkan pertanyaan terkait dengan bagaimana dan seperti apa cara mengelola sebuah perpustakaan yang benar dan akurat.
“Menjadi perpustakaan yang baik dan representatif, dibutuhkan sebuah metode pengklasifikasian khusus untuk mendukung proses katalogisasi koleksi buku.” Ia menambahkan, ”Kendati demikian, metode klasifikasi yang ditawarkan ini tidak saklek, tergantung pada kebutuhan dan kategori perpustakaan BKPBM. Selain itu, MelayuOnline.com juga perlu mempromosikan perpustakaan ke khalayak agar mereka mau datang dan mengakses, sehingga fungsi perpustakaan berhasil dengan baik.”
Impian hanya jadi utopia belaka tanpa upaya mewujudkannya. Dan, Balai ini ternyata tidak sedang terbuai mimpi, namun usaha keras untuk mewujudkannya tampak dalam diskusi siang itu. Bayangan-bayangan yang tadinya kabur dan gelap untuk mengelola sebuah perpustakaan menjadi terarah dan terang.
Dari diskusi yang berlangsung selama sekitar dua jam ini, muncul cara pandang baru dan pengetahuan segar tentang perpustakaan. Akhirnya para kru MelayuOnline.com mendapatkan sebuah tuntunan yang berguna untuk menjadikan perpustakaan digital dan konvensional sebagai perpustakaan yang bisa membawa seseorang menyaksikan sebuah dunia kebudayaan yang agung bernama kebudayaan Melayu. [KM/brt/01/02-08]