Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
14 februari 2008 03:35
Peringatan 100 Tahun Surau Syech Djambek Diharap Lanjutkan Tradisi Dakwah
Jakarta- Peringatan 100 tahun berdirinya Surau Syech Muhamad Djamil Djambek di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, 2-4 Februari lalu diharapkan melanjutkan kembali tradisi dakwah dan syiar keagamaan di bumi Ranah Minang.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Yayasan Syech Djambek, Sudirman Suwin, di Jakarta, Rabu (13/12). Menurut Sudirman peringatan ini bertujuan menggerakan kembali aktivitas pengajian dan pendidikan keagamaan yang sudah berlangsung konsisten selama 100 tahun.
Kegiatan yang dilakukan antara lain, merenovasi surau lama menjadi surau berlantai tiga yang berlokasi di Pasar Bawah, Tangah Sawah, Bukit Tinggi, menyelenggarakan seminar bertema `Meningkatkan Peran Serta Surau Syech Djambek` yang menampilkan pembicara cendekiawan muslim Ahmad Syafii Maarif, ulama Buya Masud Abidin, pakar ekonomi syariah Muhammad Syafii Antonio dan dai kondang Yusuf Mansyur. Juga diadakan bedah buku karya Syafii Antonio tentang kepemimpinan Rasulullah Nabi Muhammad SAW.
Syech Muhammad Djamil Djambek kelahiran Bukit Tinggi 2 Februari 1862, wafat pada 31-Desember 1947. Sebelum belajar Islam pada usia 22 tahun dikenal sebagai seorang pemuda yang hidup tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
"Beliau bisa disebut preman padahal waktu itu ayahnya Wali Kota di Bukit Tinggi. Pencerahan spritual dialami beliau ketika akan dihukum masyarakat pada usia 22 tahun. Beliau lari pada sebuah sungai dan menjelang subuh tergerak menjalani salat subuh di sebuah surau. Disinilah beliau bertobat dan berniat belajar agama," papar Sudirman.
Oleh ayahnya, beliau diberangkatkan ke Tanah Suci Mekah untuk mendalami Islam selama sembilan tahun. Sepulangnya tahun 1908 ia membangun surau untuk membimbing umat. Di surau inilah, perjuangan Syech Djambek secara konsisten berdakwah dengan memakmurkan surau dalam aktivitas keagamaan.
Wakil Ketua Yayasan Djambek, Fachrizal menambahkan keutamaan Syech Djambek menghidupkan atau memakmurkan mesjid dengan pengajian rutin setiap minggu. Ia juga berhasil membuat penanggalan waktu salat selama 100 tahun dan kalender Imsakiyah atau kalender puasa.
"Saya melihat karya beliau terpampang pada salah satu mesjid. Upaya beliau menghidupkan dan memakmurkan surau dengan kegiatan dakwah dan pengajian secara simpatik melalui tablig akbar, bisa dikatakan belia mempelopori dakwah dengan model pertama," cetus Fachrizal.