Close
 
Rabu, 20 Mei 2026   |   Khamis, 3 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 999
Hari ini : 16.260
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

25 februari 2008 07:25

Seabad M Natsir, Sang Peletak Dasar Pendidikan Islam

Seabad M Natsir, Sang Peletak Dasar Pendidikan Islam

Bandung- Sejarah Bangsa Indonesia mencatat seorang tokoh bernama Mohammad Natsir, secara unik. Dia adalah perdana menteri, tokoh politik, tokoh pergerakan, tokoh Islam, sekaligus tokoh pendidikan.

Hanya saja, oleh pemimpin di masa lalu, dia juga ditulis sebagai seorang pemberontak, pendiri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), yang merongrong kewibawaan pemimpin negara kala itu. Akibatnya, Natsir pun harus rela tinggal di bui, pada akhir era 1950-an.

Jika masih hidup, usia Natsir sudah mencapai 100 tahun pada 2008 ini. Kenangan dan jasa Natsir di masa lalu inilah yang membuat peringatan satu abad M Natsir digelar di Universitas Islam Bandung, Sabtu (23/2).

Tidak berlebihan, karena Natsir adalah salah satu pendiri pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Sebelum orang lain memikirkannya, dia sudah mendirikan sekolah Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung, karena kegalauannya terhadap sistem pendidikan sekuler.

"Sekolah yang didirikan Natsir, memadukan pendidikan Agama Islam dengan pendidikan umum. Dia risau, karena saat itu, banyak sekolah yang didirikan Belanda, tidak mengajarkan pendidikan Agama Islam," tutur Laode Kamaluddin, guru besar di Unisba.

Pendis yang didirikan Natsir di Bandung adalah cikal bakal lahirnya Unisba, yang saat ini tercatat sebagai universitas swasta terpandang di Kota Bandung. Dalam perjalanannya, Natsir juga yang merintis berdirikan Sekolah Tinggi Islam (STI), di Jakarta, yang ketika dipindahkan ke Yogyakarta pada 1945 berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo pun memastikan tujuh perguruan tinggi Islam besar di Indonesia kelahirannya dibidani oleh Natsir. Selain di Bandung, dan Yogyakarta, beberapa perguruan tinggi lainnya juga tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra.

"Natsir juga mengilhami kita untuk membentuk sistem pendidikan nasional yang membangun kecerdasan hati, alam pikiran, rasa dan fisik. Pendidikan dilakukan dengan membangun dari yang halus, kecerdasan hati dengan moral dan agama, sampai kondisi fisik yang prima dengan pendidikan olahraga," tuturnya.

Natsir, lanjutnya, adalah negarawan besar yang ikut menjadi peletak dasar pendidikan dasar. Pikiran besarnya di masa lalu, ternyata tidak lekang oleh perubahan dan kondisi zaman.

"Dia juga sangat luar biasa dalam menentukan posisi sebuah perguruan tinggi yang dibangunnya. Ke tujuh institusi pendidikan tinggi yang dirintisnya, semuanya berada di lokasi yang strategis hingga saat ini," tandas Menteri.

Natsir yang terlahir sebagai putra Minang, memulai kiprahnya di Bandung, ketika dia harus meneruskan sekolahnya ke Algemeene Middelbare School (AMS). Lulus AMS, dia melepas kesempatan mendapat beasiswa masuk ke fakultas hukum.

Natsir muda yang galau, memilih mendirikan Pendis. Selain mengajarkan agama Islam berdampingan dengan pendidikan umum, Pendis juga membiasakan Shalat Jumat di sekolah, yang saat itu tidak pernah dilakukan di sekolah lain.

Lulusan Pendis, ternyata juga mengembangkan sistem pendidikan serupa ke daerah, di Bogor, Cirebon, juga Banjarmasin.

Terjun ke politik, dimulai Natsir dengan cara menulis, mengkritik pidato dan kebijakan Presiden Soekarno. Dia juga masuk sebagai anggota Partai Syarikat Islam (PSI) di Bandung.

Kariernya terus menanjak, sampai akhirnya Soekarno memintanya menjadi seorang Perdana Menteri. Natsir yang memegang teguh prinsip, juga rela berseberangan dengan Soekarno, hingga akhirnya harus terbuang di penjara.

Sumber : www.mediaindonesia.com
Kredit foto : id.wikipedia.org


Dibaca : 5.692 kali.

Tuliskan komentar Anda !



05 januari 2011 02:33

Situs Kerajaan Islam Samudera Pasai Terlantar