Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
21 juni 2007 03:47
Ritual Phe Cun dan Kue Cang
Rumah Ibadah/Cetya Dharma Abadi di Bangka
Riausilip– Suasana Pantai Tuing Riausilip sejak pagi hingga sore, Selasa (19/6) lain dari hari-hari biasa. Suasana serupa juga terjadi di hampir semua pantai di Bangka Belitung (Babel). Ratusan warga Tionghoa baik tua maupun muda dari beberapa desa di Riausilip dan sekitarnya berbaur menjadi satu untuk merayakan Phe Cun.
Warga tumpah ruah di sepanjang sudut pantai yang memiliki panaroma alam sangat indah ini. Mendung dan hujan tidak menyurutkan keinginan warga untuk merayakan Phe Cun dan pesta laut di pantai landai dan berpasir putih itu.
Phe Cun merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang dirayakan setahun sekali menurut penanggalan Imlek. Tahun ini tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek jatuh pada Selasa (19/6).
Selain live music, perayaan Phe Cun di Tuing juga dimeriahkan pertunjukan barongsai dan musik dambus. Bupati Bangka Yusroni Yazid berkesempatan meletakkan kue cang di pinggir Pantai Tuing. Peletakan ini merupakan bagian dari ritual Phe Cun.
“Peringatan semacam ini sangat berguna untuk memperluas khasanah budaya Bangka. Dunia pariwisata bisa lebih menonjol untuk memikat turis agar berkunjung ke sini. Perayaan Phe Cun ini juga diharapkan bisa memberi kesadaran bagi kita semua untuk menjaga kelestarian laut,” kata Yusroni, yang hadir bersama rombongan pejabat Pemkab Bangka.
Phe Cun merupakan satu dari banyak budaya dan tradisi masyarakat Tionghoa di dunia. Bagi masyarakat Tionghoa, Phe Cun identik dengan kue cang. Kue cang adalah kue yang terbuat dari ketan dan diberi bumbu daging atau sayur (tergantung selera) dan dibungkus daun pandan.
Yanto warga Tuing percaya bahwa peringatan Phe Cun adalah saat di mana naga turun ke laut. “Biasanya selalu turun hujan dan tepat pada pukul 12.00 WIB suasana yang biasanya panas terik jadi teduh, air laut jadi tenang,” ujarnya saat ditemui di Pantai Tuing.
Alek, Ketua Panitia Penyelenggara Phe Cun di Pantai Tuing mengatakan acara ini masih banyak kekurangan, terutama yang berkenaan dengan acara ritual Phe Cun itu sendiri. “Ini merupakan proses pembelajaran bagi kami. Untuk tahun-tahun ke depan kami akan lebih memaksimalkan dan melengkapi acara ini,” ungkap Alek.
Pada hari Phe Cun sebagian warga Tionghoa pergi ke laut. Ada yang sekadar duduk-duduk di tepi pantai, ada pula yang bersantai bersama keluarga sambil menyantap kue cang. Sebagian di antara mereka ada yang membuang kue tersebut sebagai persembahan kepada Menteri Besar Nan Setia dari Negeri Cho, Khut Guan.
Selain sekadar duduk atau melempar kue cang ke laut, pada hari tersebut juga diyakini akan ada fenomena alam yang tak seperti hari-hari biasanya. Air laut akan surut jauh ke tengah. Segala macam tumbuhan berkhasiat obat. Juga khasiat mandi tengah hari yang diyakini sebagian warga bisa membuat awet muda.
Pada hari tersebut (tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek) hampir seluruh masyarakat Tionghoa selalu membuat atau membeli kue cang.
“Mereka yang tidak membuat kue cang biasanya dalam suasana berkabung atau duka karena ada salah seorang anggota keluarganya yang meninggal. Kalau salah satu rumah tidak membuat kue tersebut, minimal mereka membeli untuk persediaan di rumah,” ungkap seorang warga Tionghoa.
Kalau di Pantai Tuing ramai, perayaan Phe Cun di Pantai Pasirpasi Pangkalpinang kemarin sepi. Pada tahun 2005 dan 2006 pantai tersebut ramai pengunjung karena Pemkot menggelarnya dan menangkap momen tersebut sebagai agenda pariwisata.
“Seharusnya Pemkot menangkap even tersebut sebagai agenda pariwisata yang mampu menciptakan daya tarik bagi turis lokal maupun manca negara,” ungkap pelaku bisnis sekaligus pemilik agen wisata, Halim Susanto.
Terbatasnya Anggaran
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dishubpar) Pangkalpinang Akhmad Elvian mengatakan perayaan Phe Cun di Pasirpadi tahun ini tidak dilaksanakan karena selain anggaran terbatas, Disbudpar mengharapkan perayaan Phe Cun proaktif dari masyarakat sendiri karena selama dua tahun terakhir Pemkot yang memfasilitasi.
“Kita ingin masyarakat Tionghoa sendiri yang proaktif melaksanakan perayaan Phe Cun ini,” ujar Elvian di ruang kerjanya, kemarin.
Tidak hanya Phe Cun, sikap proaktif masyarakat Tionghoa juga diharapkan pada perayaan lain seperti Cheng Beng, Cap Go Meh dan Sembayang Rebut. “Kita akan fasilitasi, namun yang bergerak dari masyarakat sendiri sehingga lama-kelamaan perayaan-perayaan ini akan tetap dilaksanakan,” ungkap Elvian. (jlh/alf/may)
Sumber : www.bangkapos.com Kredit foto : www.bang.go.id