Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
07 februari 2011 02:56
Bangka Gelar Ritual “Rebo Kasan”
Air Anyir, Bangka Belitung - Ratusan warga Desa Air Anyir, Kabupaten Bangka, Rabu, mengikuti ritual adat "Rebo Kasan", sebagai kegiatan ibadah kepada Allah SWT agar diberi kekuatan dalam menghadapi ujian dan terhindar dari berbagai musibah.
Tokoh adat dan agama Desa Air Anyir, Yahya, mengatakan, ritual adat Rebo Kasan merupakan perpaduan antara adat, agama, dan budaya yang merupakan warisan temurun dari nenek moyang. Rebo Kasan diambil dari kata Rabu (Rebo) Kasan (tanggal terakhir di bulan Safar) atau ritual pada hari Rabu tanggal terakhir di bulan Safar.
"Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun yang berisikan upacara adat seperti lempar ketupat ke laut dan berdoa bersama di masjid meminta kepada Sang Pencipta agar diberi kekuatan dalam menghadapi ujian, menurunkan rahmat bagi warga kampung, diberi kelimpahan rezeki, dan memperkuat tali persaudaran sesama Muslim," katanya.
Ia mengatakan, Rebo Kasan merupakan sebuah adat budaya masyarakat di sepanjang pesisir Timur bagian Tengah Pulau Bangka. Ritual ini dilaksanakan di Pantai Batu Karang Mas, Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung.
Ia menegaskan, ritual ini sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam karena dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan, dan secara bersama warga kampung bermunajat kepada Allah SWT untuk menurunkan rahmat agar kampung ini menjadi kampung rahmat yang dilindungi dari musibah.
"Orang biasa menyebut Rebo Kasan adalah ritual adat untuk menolak bala, sebenarnya tidak demikian karena pada intinya kami hanya berdoa kepada-Nya, yang prosesinya merupakan perpaduan antara adat dan budaya," ujarnya.
Ia menjelaskan, upacara adat Rebo Kasan dimulai dengan mengumandangkan adzan di masjid sebagai seruan bagi umat Islam untuk menunaikan kewajiban shalat lima waktu sehari semalam. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama.
"Selesai berdoa, warga yang hadir menarik atau melepaskan anyaman ketupat yang telah tersedia, yang dimaknai sebagai simbol kerukunan dalam hidup berkeluarga dan mempererat tali silaturahmi," ujarnya.
Kemudian, kata dia, setelah selesai acara melepaskan anyaman ketupat, ratusan warga makan bersama di masjid dengan menggunakan dulang sebagai lambang bahwa negeri ini "Negeri Sepintu Sedulang" atau satu keluarga besar yang hidup rukun dan taat dengan norma agama.
"Setelah makan bersama, lalu masing-masing pergi mengambil air wafak atau air minum yang sudah diberi doa sebagai simbol kesucian dan kejernihan hati warga dalam hidup berkaum dan berkampung," katanya.
Ia mengatakan, upacara puncak ritual Rebo Kasan yaitu pelepasan ketupat di laut yang sama sekali tidak dimaknai sebagai kegiatan tolak bala, tetapi hanya meneruskan tradisi dari nenek moyang.
"Kami tidak tahu sejak kapan adanya ritual Rebo Kasan ini, kami hanya meneruskan dan biasanya puncak kegiatan adalah melempar ketupat ke laut. Kegiatan seperti ini menurut kami tidak bertentangan dengan agama dan tidak mubazir karena ketupat yang dibuang kelaut hanya ketupat kosong," ujarnya.
Ia menjelaskan, ketupat tersebut terbuat dari anyaman daun kelapa. Anyaman itu menyisakan dua ujung daun yang akan dicabut. Pembuatan ketupat ini berbeda dengan ketupat biasa, karena perbedaan bentuk ketupatnya.
Silaturahmi
Sementara itu, Yusuf, seorang warga Desa Air Anyir, mengatakan, suasana silaturahmi juga sangat kental setelah dilaksanakan ritual Rebo Kasan. Praktis semua warga Desa Air Anyir yang terdiri dari sekitar 600keluargamembuka pintu selama 24 jam mulai Rabu (2/2) hingga Kamis (3/2), melaksanakan kegiatan saling kunjung dari rumah ke rumah.
"Suasana silaturahmi sangat kental, bahkan lebih semarak dibanding suasana hari besar lainnya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Warga saling kunjung mulai Rabu siang hingga Kamis pagi," katanya.
Menurut dia, jauh hari sebelumnya warga sudah mempersiapkan diri, seperti membuat aneka makanan dan minuman serta membersihkan rumah untuk melayani tamu yang datang. Warga membuka pintu bagi siapa saja yang datang, tidak hanya warga setempat tetapi juga mereka yang datang dari daerah lain di Babel.
"Tidak satu pun warga yang beraktivitas pada hari Rebo Kasan ini, mereka berada di rumah melayani tamu dan juga saling tandang atau berkunjung ke rumah warga yang lainnya sehingga suasana seperti ini sangat indah dan dinanti setiap tahunnya," ujarnya.
Sementara itu, Rusma, warga yang lainnya, mengaku, setidaknya menyediakan uang sekitar Rp 4 juta untuk membuat dan membeli aneka makanan dan minuman untuk dihidangkan dan disuguhkan kepada para tamu yang bersilaturahmi pada hari Rebo Kasan.
"Biasanya pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, kami hanya mengeluarkan uang sekitar Rp 2 juta, namun untuk upacara ritual Rebo Kasan ini setidaknya kami menghabiskan uang sekitar Rp 4 juta untuk membeli dan membuat aneka makanan dan minuman," ujarnya.
Sementara itu, Djohan, warga lainnya, mengatakan, dua hari sebelum upacara ritual Rebo Kasan, warga sudah sibuk mempersiapkan diri, terutama memasak aneka makanan yang diletakkan di atas dulang untuk dibawa ke masjid sebagai bagian prosesi upacara ritual Rebo Kasan.
"Sudah menjadi tradisi, setiap upacara Rebo Kasan kami membawa dulang ke masjid yang berisikan aneka makanan, seperti nasi dan beberapa jenis lauk-pauk untuk jamuan makan di masjid," ujarnya.