Tanjungpinang- Eksistensi para maestro seni tradisi dari seluruh Indonesia itu diakui pemerintah pusat melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kepada mereka diberikan penghargaan yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta Convention Centre, Rabu (4/6). Muhammad Ali Achmad, pemantun dari Tanjungpinang salah satu di antaranya.
Ada keharuan di matanya di balik senyuman yang terukir di raut wajah si tukang pantun di Tanjungpinang dan Kepri, Muhammad Ali Achmad menjawab perasaannya saat bertemu dan disalami Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta. Pensiunan guru SMP ini sama sekali tak pernah memimpikannya, apalagi membayangkannya.
Bagi pria sederhana yang setiap kehadirannya di suatu acara selalu membuat suasana menjadi riang, berpantun sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tiada hari tanpa berpantun. Karena pantun sudah membudaya dalam hidupnya sebagai putra Melayu.
Tak ada keinginan untuk mendapat popularitas atau penghargaan, apalagi dari orang nomor satu di Indonesia. Karenanya, ketika Maestro Seni Tradisi lainnya hanya mengucap terima kasih saat disalami Presiden SBY, maestro pantun ini menyempatkan diri berbincang sejenak.
”Saye cakap, Pak, seniman di Tanjungpinang kirim salam. Die jawab, terima kasih, sampaikan salam saya kembali,” kata Pak Ali menirukan, kemarin.
Persenyawaannya dengan pantun berlangsung sudah puluhan tahun dan dijalaninya dengan ikhlas. Selama itu pula, dia sudah ikut menjaga dan mewariskan seni tradisi asli Melayu, pantun. Bukan melalui acara-acara khusus yang dibiayai pemerintah, namun melalui adat budaya keseharian seperti tepuk-tepung tawar, pertunangan atau pernikahan.
Pak Ali, begitu dia disapa dilahirkan di Tanjungpinang 1 Maret 1942 dengan nama asli Jepun (Jepang, red), Ipon. Saat dia lahir bertepatan dengan masuknya Jepang ke Indonesia.
Nama itu masih digunakannya sampai sekarang sebagai nama kecilnya, Ipon. Sedangkan nama Muhammad Ali bin Achmad dikarangnya sendiri saat akan masuk SD.
Buat pantun tuh tak susah, buat isinya dulu baru sampirannya, jelas Ali. Untuk sampirannya tak perlu memikir yang jauh, cukup dengan yang ada di sekitar kita saja. Pantun itu pada dasarnya harus memenuhi unsur tiga M yakni, mudah, meriah, dan menarik. Mudah membuatnya, meriah karena bisa membuat suasana gembira, dan menarik karena menghibur pendengarnya.
Ketika orang terus memperdebatkan antara isi dan sampiran harus berkaitan atau tidak, bagi si tukang pantun itu yang terpenting adalah berpantun. Seperti konsepnya di atas, pantun membuat suasana menjadi gembira dan menarik bagi yang mendengarnya. Pantun harus disampaikan dengan bahasa yang sopan, sehingga yang dimarah pun hanya bisa tersenyum.
Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga. Kecintaan bapak lima anak ini pada pantun yang begitu mendalam, sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan.
Saat itu sekitar awal tahun 1970-an, ujarnya mulai berkisah, seorang tetangganya di Jalan Sumatera yang anaknya akan dipinang orang, dan diapun masuk sebagai salah satu panitinya. Kepintaran memainkan pantun ketika itu belum dimiliki Pak Ali. Namun, karena tuan rumah, dan panitia mempercayakan dirinya sebagai penyambut tamu, yang otomatis harus bisa berpantun, mau tak mau harus dijalani.
Lepas acara itu, nama Pak Ali yang tetap bugar diusianya yang sudah 66 tahun ini mulai dikenal apalagi setelah dia semakin sering diundang menjadi penyambut tamu atau mengantar pengantin. Di mulai dari acara di lingkungan sanak famili, dan tetangga namanya pun mulai berkibar. Sejak itulah, pantun melekat dengan namanya. Ada begitu banyak nama Ali atau Pak Ali di Tanjungpinang, dan jika orang bertanya, “Pak Ali, mana ?”. Maka orang akan menyebut ,”Pak Ali Pantun”.
Sekarang ini, nyaris semua orang Tanjungpinang, khususnya yang seusia dengannya pasti kenal dengan nama Pak Ali Pantun. Sesuai dengan namanya, pantun tak lagi sebatas sebuah karya seni namun sudah menjadi profesi bagi Pak Ali. Meskipun, dia sama sekali tak pernah menetapkan tarif jika ditanggap untuk berpantun karena dia memang tidak pernah mengomersilkan pantun. Berapapun diberi, dia akan menerimanya dengan senang hati. Kemudian, setiap pemberian itu dipotongnya sendiri 2,5 persen untuk ibadah.
Sumber : Batampos.co.id (09 Juni 2008)