Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
29 oktober 2008 04:58
Hj Syamsinar, Ratu Pantun dari Belakangpadang
Terbitkan 32 Buku, Ingin Dirikan Sekolah Pantun
Buku pantun dan syair koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
Batam, Kepulauan Riau- Pantun sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Melayu. Setiap ada acara, pantun menjadi pembuka dan penutup kata sambutan, ceramah, maupun pidato. Tak salah jika muncul Hj Syamsinar (53) yang dijuluki ratu pantun dari Batam.
Acara peresmian bergabungnya Nyat Kadir pada salah satu partai akhir Agustus lalu hendak dimulai. Pagi menjelang siang itu, Nyat Kadir tiba diiringi sejumlah pendukung, termasuk Hj Syamsinar. Begitu tiba di tempat acara, di Komplek Ruko Sukajadi, rombongan Nyat Kadir disambut pantun.
Syamsinar yang berdiri di samping mantan Wali Kota Batam itu langsung membalas pantun tuan rumah. Pantun pun dilempar lagi, lalu disambut wanita yang biasa disapa Unai ini. Tidak hanya dua-tiga kali tuan rumah melempar pantun. Tapi Unai selalu membalas pantun itu dengan cepat.
Sekali waktu, wanita yang punya nama Penadatin Latifah ini menunjukkan kebolehannya yang lain. Ia menyanyikan syair di ruang pertemuan Kadin Batam di Batam Centre. Alunan suara merdu nan mendayu-dayu menghenyakkan yang mendengarnya. Termasuk Ketua Kadin Batam Nada F. Soraya. Hadirin tersenyum dan menikmati alunan syair berbahasa Melayu itu. ”Saya diminta Bu Nada (Nada F. Soraya) bersyair,” katanya setelah keluar dari ruang pertemuan dengan Ketua Kadin Batam Nada F. Soraya, Jumat (24/10) lalu.
Berpantun dan bersyair sudah menjadi bagian hidup wanita asal Belakangpadang ini. Ke mana-mana, ia selalu diminta berpantun atau bersyair. Ke mana pun, buku pantunnya juga tak lupa dibawa. ”Masih bujangan kan? Ini buku pantun bujangan untuk kamu,” ujarnya kepada Batam Pos sambil menyerahkan buku pantun berjudul Panton Gurau Senda Mabok Kepayang. Lalu, ia pun berpantun, ”Pondok runtuh berisi padi, padi dituai penuh sebenang, hendak bertaruh sekalung budi, rupa juga dipadang orang”. Itu salah satu pantun yang ada dalam buku tersebut.
Membukukan pantun sudah dilakukan wanita berputra dua ini bertahun-tahun. Buku pantun yang sudah diterbitkan sudah 32 judul. Di antaranya: Korupsi, Konglomerat Hitam, Poligami, Selamat Datang, dan Panton Gurauan di Bulan Ramadan. ”Tapi saya belum ada hak paten. Ibu Nada dan pak Camat (Camat Belakangpadang Nor Fauzi, red) tawarkan buat hak paten,”ungkapnya.
Buku-buku pantun itu selalu ia bawa ke mana-mana dan ditawarkan kepada setiap orang yang menghadiri seminar atau acara tertentu. Bahkan, buku pantunnya sampai ke tangan orang KPK di Jakarta dan tertarik hingga ditawarkan buat buku pantun KPK. Tapi tawaran itu ditampik. ”Saya disuruh ke Jakarta, tapi saya tidak mau. Ada juga tawaran dari Siak untuk kembangkan pantun di sana. Tapi saya cuma mau di Batam saja, majukan kampung dan budaya Melayu,” ujar istri mantan polisi ini.
Menulis pantun menurutnya adalah pelampiasan yang tak lepas. Keprihatinan akan kondisi masyarakat tempatan yang tidak punya peran di tanah sendiri. ”Sakit saya, lihat hanya orang luar berperan, orang asli tidak berperan. Sementara saya tidak ada hak untuk marah-marah. Melalui pantun saya bisa marah dan tidak akan ada yang memarahi saya,” ungkapnya. Dengan menulis dan membukukan pantun, Unai juga ingin membuktikan di Batam ada yang bisa. Menurutnya banyak yang bisa berpantun, tapi tidak banyak yang bisa membukukan pantun.
”Agar orang Belakangpadang tidak dianggap remeh. Bukan mudah bikin pantun itu,” katanya. Namun, membuat satu pantun bagi Unai, tidak perlu butuh waktu lama. Cukup beberapa detik saja. Spontan saja. Ia pun menunjukkan kebolehannya membuat satu pantun bisa muncul tiba-tiba saja. Sementara, membuat satu buku pantun ia bisa kerjakan tiga hari saja. ”Paling lama satu minggu kalau sibuk,” bebernya.
Saking cintanya dengan pantun, Unai bercita-cita mendirikan sekolah pantun. Karena pantun pula Unai sering diundang ke mana-mana untuk berpantun, seperti ke Singapura dan Malaysia. Bahkan karena pantun ia dijuluki ratu pantun. ”Julukan itu dari pak Nyat Kadir,” katanya. ***