Jumat, 12 Juni 2026   |   Sabtu, 26 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 542
Hari ini : 11.341
Kemarin : 20.067
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

30 sepember 2008 09:32

Rabu, 1 Syawal 1429 Hijriah

Hasil Rukyat di Indonesia
Rabu, 1 Syawal 1429 Hijriah

Jakarta- Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1429 Hijriah jatuh pada Rabu, 1 Oktober. Penetapan itu dilakukan Menteri Agama Maftuh Basyuni dalam Sidang Isbat Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama di Jakarta, Senin (29/9). Penetapan ini sama dengan keputusan hisab PP Muhammadiyah.

”Tanggal 1 Syawal 1429 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 1 Oktober 2008 Masehi. Penetapan itu sesuai kesepakatan seluruh ahli falak dan ahli hisab Indonesia dan hasil rukyat oleh petugas dari seluruh Indonesia. Karena itu, pada Selasa (30/9), umat Islam masih berpuasa. Dan baru pada Rabu boleh makan di siang hari,” kata Maftuh, seusai Sidang Isbat.

Maftuh menjelaskan, sebelum ijtimak berlangsung Senin sore, seluruh ahli hisab telah menyepakati perhitungan pergerakan bulan yang menunjukkan 1 Syawal bertepatan dengan 1 Oktober. Hisab itu telah dikuatkan hasil ijtimak yang tidak melihat hilal di 25 tempat di Indonesia.

”Pada 29 September, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1429 H, hilal tidak dapat dirukyat. Oleh karena itu, bulan Ramadhan digenapkan 30 hari. Selanjutnya, atas nama pemerintah dan pribadi, kami mengucapkan Selamat Idul Fitri 1429 H,” kata Maftuh.

Kepada para peserta Sidang Isbat, Ketua Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama M Muchtar Ilyas melaporkan bahwa rukyat dilakukan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam di 25 lokasi di 23 provinsi, mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua. Adapun Depag mengamati hilal di Lhok Nga NAD, Bosscha Lembang Bandung, Masjid Agung Semarang, Tanjung Kodok Lamongan, Tanjung Bunga Makassar, dan Kupang. Semua pengamatan itu tidak berhasil melihat hilal.

Telekonferensi

Petugas di Tanjung Kodok, melalui telekonferensi, melaporkan cuaca cerah, tetapi bulan terbenam pada pukul 17.20 WIB dan matahari terbenam pada 17.25 WIB. Petugas dari Kupang juga melaporkan cuaca di tempat pengamatan cerah, tetapi hilal tidak terlihat saat matahari terbenam pukul 17.44 WITA.

Di Bandung dan Semarang, ufuk tertutup awan sehingga petugas tidak bisa mengamati langsung matahari terbenam. Anggota Badan Hisab dan Rukyat Depag, Cecep Nurwendaya, menyatakan, secara astronomis Indonesia berada di sisi timur Garis Ketinggian Hilal 0 derajat sehingga di seluruh Indonesia, bulan akan terbenam beberapa menit sebelum matahari terbenam. ”Dengan kondisi seperti itu, mustahil bisa melihat hilal pada tanggal 29 September,” ungkap Cecep.

Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH A Ghazalie Masroeri, dalam Sidang Isbat, menyatakan, hisab NU juga menghitung bahwa 1 Syawal 1429 Hijriah jatuh pada 1 Oktober. ”Akan tetapi, kami harus melakukan rukyat untuk mengoreksi hisab yang kami buat,” kata Ghazalie. Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mengumumkan hasil hisab mereka bahwa 1 Syawal 1429 H jatuh pada 1 Oktober. (ROW)

Sumber : cetak.kompas.com (30 September 2008)


Dibaca : 2.183 kali.

Tuliskan komentar Anda !